Angsamerah Articles Andai gambar ini bisa menampilkan bau

Andai Gambar Ini Bisa Menampilkan Bau

Pernahkah Anda membayangkan diri Anda sebagai perempuan miskin, harus mencari uang dengan melacur, ditiduri oleh lelaki-lelaki yang miskin pula? Di bilik sempit kumuh di kolong jembatan, disekat terpal kusam, tubuh Anda dibaringkan telentang di atas papan yang berada di atas comberan, dengan alas sepotong kardus untuk pantat Anda, lalu mereka menumpahkan spermanya begitu saja: buru-buru dan seringkali kasar karena terburu nafsu. Kadang buka baju pun tak sempat, karena tempatnya sempit dan sumpek… Ibaratnya nafsu sudah sampai ke kepala, tinggal menumpahkannya saja di lubang perempuan mana saja….yang penting bayar…

Dan ember kumal itu, kalau malam ada di kaki kita, di dekat tiang bambu itu, sebagai tempat air untuk cebok di situ juga…. Bisa Anda bayangkan….???

Dalam gelap gulita di kolong jembatan, lelaki-lelaki miskin itu datang, menerka-nerka dalam gelap. Tanpa berkenalan, tanpa kata-kata mesra, tanpa cinta, cuma colek lalu terjadilah. Modalnya cuma uang Rp 35.000, masih dipotong sewa kardus alas pantat Rp 5.000.

Padahal berbaring di gelap gulita malam, tanpa lampu setitikpun, mungkin tubuh kita sebagai alas tubuh mereka bakal disengat kalajengking, digigit kodok, atau dicium kecoa dan tikus got. Sumpek luar biasa….dan baunya, jangan ditanya…campuran bau bacin sperma, bau comberan, bau sampah, bau kencing, bau air cebok, bau kecoa, bau busuk segala peradaban… Dan di atas sana, bunyi truk-truk kontainer terseok-seok menaiki tanjakan jembatan, melengkapi penindasan atas tubuh perempuan miskin di bawah jembatan ini…

Setelah selesai “buang tai macan”, lelaki-lelaki miskin ini “ngacir” seperti tak pernah kenal dengan Anda (bahkan sebenarnya mereka pun tak pernah mengenal Anda, tak peduli siapa Anda, karena mereka hanya butuh “lubang” untuk menumpahkan spermanya). Dan mereka meninggalkan berbagai penyakit menularnya untuk Anda. Lalu mereka membawa penyakit pula ke istri-istri mereka yang setia menunggu sambil mendoakan mereka di rumah… Bahkan di malam Minggu seperti kemarin, para lelaki miskin ini rela antri berbaris dalam gelap gulita untuk “membuang tai macan” di lubang vagina perempuan yang dibayarnya, lalu pulang ke rumah seperti tak terjadi apa-apa….persis seperti mereka keluar bilik dan membayar sewa kardus, seperti habis kencing saja. Semudah itu… Bahkan celana dalam pun mereka buang begitu saja di turunan jembatan itu, bercampur dengan sampah…karena mereka takut istri curiga dengan celana dalam berlendir ini….

Dan tentu saja mereka, para lelaki miskin itu, tidak mau pakai kondom…. Jadi bayangkanlah…penyakit apa saja yang bisa kita dapatkan sebagai perempuan miskin yang terpaksa menjual tubuh untuk menyambung hidup sehari-hari….

Bahkan seringkali suami mereka pun mengantarkan mereka melacur. Kita sebagai perempuan miskin tetap harus membiayai rumah tangga karena penghasilan suami miskin inipun tak cukup untuk hidup sehari-hari: biaya sewa rumah petak 250 ribu sebulan, biaya listrik, biaya sekolah, jajan harian anak-anak, biaya naik bis dan ojek, biaya rokok suami minimal 26 ribu sehari, biaya makan sehari-hari untuk sekeluarga minimal 20 ribu sehari, biaya untuk orangtua di kampung…. Bahkan para suami pun seringkali tak tahu diri, sebelum kita berangkat melacur, minta jatah hubungan seks. Subuh, pulang melacur, dalam keadaan tubuh kita lelah, masih minta jatah hubungan seks sekali lagi….
Kalau kita menolak, kita dipukul sampai bengap….tak bisa jualan…dan kekerasan berulang datang buat kita…

Dan banyak orang (laki-laki) mendapatkan uang receh dari eksploitasi tubuh perempuan miskin di pelacuran: tukang parkir motor: tukang sewa kardus; gerobak dangdut; tukang angkut air dan pasang terpal yang dibayar 50 ribu semalam; puluhan orang aparat keamanan dan preman yang rajin “ngemel”, mengutip uang @ Rp. 5.000 setiap malam; tukang kopi & gorengan yang mendapatkan uang dari banyaknya manusia di kolong jembatan ini; rentenir uang yang rajin menagih uang pinjaman dari mbak-mbak miskin ini…. Pinjaman mereka pun tak besar, paling banyak 500 ribu rupiah, hanya sekadar menutup biaya makan sehari-hari…

Dapatkah Anda bayangkan menjalani kehidupan semacam ini? Masih punyakah Anda kata-kata untuk menghakimi mereka yang hidupnya tak seberuntung Anda?

Catatan: Tulisan ini dimuat di November 2013 dan kami sirkulasikan ulang karena relevansinya masih terasa ada sampai dengan situasi saat ini.

You may also like

Leave a comment