Cerita dari Asia Pacific HIV Practice Course (APHPC), Singapura, 30 Nov – 4 Des 2016

Ilmu pengetahuan bisa kita dapatkan dimana saja. Ilmu yang kita dapatkan sebaiknya dibagi dan terus dikembangkan, agar bermanfaat bagi banyak orang dan dapat digunaakan untuk kebaikan dunia. Angsamerah pada akhir tahun lalu berkesempatan mengikuti kegiatan Asia Pacific HIV Practice Course untuk mengembangkan dan berbagi ilmu pengetahuan tentang HIV dan AIDS.

Asia Pacific HIV Practice Course kali ini di adakan di Singapura tanggal 30 November 2016 sampai 4 Desember 2016. Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan banyak negara Asia Pasifik seperti Singapura, Malaysia, Sri Lanka, Filipina, Vietnam, Australia, Thailand, dan Indonesia. Angsamerah sangat bangga menjadi wakil Indonesia dan bisa mendapatkan banyak ilmu serta masukan dari tenaga profesional negara lain.

Berdasarkan survei, Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah penderita HIV dan AIDS terbanyak se-Asia Tenggara. Angsamerah dengan filosofi More Talk, More Action bertekad untuk bisa mengurangi penularan kasus baru HIV dan mengurangi kematian baru akibat HIV dan AIDS karena tidak mendapatkan ARV.

Dalam rangka mewujudkan tekad tersebut, diperlukan kerjasama lintas sektoral. Angsamerah sebagai bagian dari sistem kesehatan di Indonesia perlu bekerja sama dengan fasilitas layanan kesehatan lain, masyarakat, dan pemerintah untuk mecapai target 90-90-90 di tahun 2020, yang merupakan bagian dari gerakan global fast track AIDS response 90-90-90 by 2020. Diharapkan pada tahun 2020, 90% dari semua orang yang hidup dengan HIV akan mengetahui status HIV mereka. Selain itu, 90% dari semua orang yang terdiagnosis HIV akan menerima terapi antiretroviral (ARV) berkelanjutan. Pada tahun 2020 juga diharapkan 90% dari orang yang menerima terapi antiretroviral (ARV) akan memiliki penekanan jumlah virus (Viral load/jumlah virus HIV < log 1).

Sejak virus HIV pertama kali ditemukan tahun 1983, sudah lebih dari 30 tahun kita menyaksikan kematian akibat HIV. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan, stigmatisasi, diskriminasi, serta kendala mengakses obat (terutama daerah terpencil). Sudah saatnya kita berubah, memperkaya diri dengan pengetahuan, menghentikan praktik stigma dan diskriminasi, serta membuka akses seluas-luasnya untuk pengobatan.

More Talk More Action, No Stigma and Discrimination.

Angsamerah B U K A N B I A S A

 

You may also like

Leave a comment