Pembelajaran: Manajemen Klinik Dan Bedside Teaching Di Klinik Angsamerah

Bedside-teaching-angsamerah-blora-13nov2015

Bedside-teaching-angsamerah-blora- 13Nov2015-b

Bedside-teaching-angsamerah-blora-9Nov2015

Bedside-teaching-Angsamerah-Blora-Nov2015

Bedside-teaching-angsamerah-kya-13nov2015

Bedside-teaching-KYA-nov2015-v3

ENGLISH VERSION

Sebagai tindak lanjut dari lokakarya tiga hari yang telah dilaksanakan di FK UKI pada tanggal 2 – 4 November 2015, setiap peserta diundang kembali untuk ambil bagian dalam pelatihan sehari bedside teaching di klinik Angsamerah. Dari 24 orang peserta lokakarya tersebut 15 diantaranya dapat mengikuti pelatihan bedside teaching ini. Peserta dibagi dalam 2 kelompok untuk dua klinik Angsamerah dan secara keseluruhan pelatihan berlangsung selama 7 hari (7 orang mengikuti pelatihan di Klinik Yayasan Angsamerah Jl. Panglima Polim Raya, dan 8 orang di Angsamerah klinik Jl. Blora).

Mengapa hal ini kami kerjakan?

Bedside teaching adalah metode pengajaran berbasis pasien di mana peserta mempraktekan  kemampuan klinis  dengan melihat dan mempelajari suatu kasus secara langsung. Kegiatan ini adalah bagian integral dari pendidikan kedokteran dasar dan berkelanjutan. Banyak dokter umum di Indonesia masih memiliki pengetahuan dan keterampilan terbatas mengenai kesehatan seksual dan reproduksi (termasuk HIV dan AIDS dan IMS lainnya), juga pengalaman dalam menangani pasien dengan kondisi tersebut. Selain itu mereka juga membutuhkan kemampuan untuk mengajukan pertanyaan yang tepat dan efektif dan penuh kasih dalam menyampaikan informasi yang terkait dengan hal seksualitas untuk mendapatkan kunci sukses hubungan dokter-pasien. Terlebih di negara seperti Indonesia, dimana isu-isu di sekitar seksualitas masih sensitif dan tabu. Dan semuanya ini adalah situasi yang menjadi tantangan bagi para dokter. Fakta yang ada membuktikan bahwa orang-orang dengan masalah kesehatan seksual dan reproduksi (termasuk HIV dan AIDS) dan kelompok populasi kunci masih menghadapi masalah stigma dan diskriminasi, tidak hanya dari masyarakat luas tetapi juga dari tenaga kesehatan.

Oleh karena itu, Angsamerah menawarkan kesempatan khusus pada semua dokter yang pernah mengikuti lokakarya sebelumnya untuk mengambil bagian dalam pelatihan satu hari berbasis pasien (bedside teaching) di salah satu dari dua klinik Angsamerah. Hal ini memungkinkan dokter untuk meningkatkan keterampilan mereka untuk melakukan penilaian dan manajemen pasien, keterampilan diagnostik klinis, serta keterampilan interpersonal empati, kepekaan dan komunikasi.

Bagaimana kami melakukannya?

Pelatihan bedside teaching berlangsung pada tanggal 9 – 17 November 2015. Jadwal pelatihan telah dibahas dan diatur selama lokakarya dan undangan dikirimkan melalui Dinas Kesehatan propinsi (Dinkes DKI Jakarta).

Pasien untuk pelatihan bedside teaching didapatkan dari LSM yang menjadi mitra Angsamerah yaitu: Yayasan Inter Medika, Yayasan Srikandi Sejati, Swara, Bandung Wangi, dan Yayasan Kusuma Buana. Persyaratannya adalah pasien tersebut belum pernah melakukan tes untuk  HIV dan IMS lainnya, rutin melakukan perilaku berisiko sejak tes terakhir yang mereka lakukan, atau telah mengalami gejala HIV atau IMS.

Selama bedside teaching ada 39 pasien yang diperiksa oleh dokter yang mengikuti pelatihan. Semua pasien berasal dari kelompok populasi kunci, yaitu pria yang berhubungan seks dengan pria, pekerja seks perempuan dan transgender (waria). Layanan ini diberikan secara gratis, dan setiap pasien yang berpartisipasi diberikan insentif sebesar Rp. 200.000. – dan mendapatkan makan siang.

Dalam pelatihan ini, secara keseluruhan ada enam (6) pasien yang didiagnosis dengan HIV (3 LSL, waria 1, 1 WPS). Dua diantaranya juga menderita sifilis.

Setiap pelatihan bedside teaching dimulai dengan berkenalan antar anggota setiap tim dan penjelasan mengenai tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Peserta kemudian diperlihatkan situasi  klinik, untuk mempelajari tentang alur pasien dan prosedur di klinik. Sebelum melihat pasien, peserta terlebih dulu belajar secara teori tentang proses anamnesis, pemeriksaan kelamin, prosedur pengujian, bagaimana untuk membuka dan mendiskusikan hasil tes dengan pasien, mengobati berbagai IMS, penggunaan anuskopi dan spekulum, bagaimana cara mengambil sampel, fiksasi, pewarnaan, dan analisis laboratorium.

Pasien pertama selalu ditangani oleh dokter Angsamerah dan para peserta mengamati. Selanjutnya, peserta menangani 2-3 pasien, disertai oleh seorang dokter dari Angsamerah yang mengawasi. Sambil menunggu hasil pemeriksaan, ada cukup waktu untuk mendiskusikan tentang kasus-kasus yang sedang ditangani dan beberapa studi kasus lain.

Setelah menangani pasien dan makan siang, para dokter juga belajar mengenai sistem layanan dan sistem manajemen di Angsamerah. Setiap peserta yang mengikuti pelatihan ini mendapatkan 8 SKP dari IDI.

Apa saja peluang dan tantangannya?

Secara keseluruhan, pelatihan bedside teaching menjadi metode mengajar berbasis pasien yang terbukti sangat sukses, karena dapat melihat dan mempelajari berbagai aspek klinis secara langsung. Para dokter yang berpartisipasi, beberapa di antaranya belum pernah memiliki pengalaman dalam menangani pasien dengan masalah kesehatan seksual dan reproduksi,  kesempatan unik untuk meningkatkan keterampilan diagnostik klinis, serta keterampilan komunikasi masalah seksualitas, dan menyampaikan hasil tes.

Selain itu, peserta mendapatkan pengalaman pertama kali bagaimana mengelola dan menjalankan bisnis klinik swasta yang menjunjung tinggi lima elemen-elemen kunci (kualitas, berorientasi klien, manajemen penyedia ramah, efisien dan transparan, dan pemasaran) yang sangat penting untuk perawatan kesehatan bisnis yang sehat. Dan lebih dari sekedar hal teknis, pelatihan bedside teaching juga dimaksudkan untuk membangun jejaring, berbagi pengetahuan dan pengalaman, serta berbagi ide dan pemikiran baru dan inovatif. Dokter didorong untuk menjadi bersemangat dalam menjalani profesi dan meraih impian mereka, meskipun dalam keterbatasan.

Semua dokter yang berpartisipasi terlihat menjadi terampil, ramah dan bersemangat untuk belajar. Selama pelatihan masih terlihat jelas bahwa niat baik dan kepedulian para dokter belum selalu terjemahkan dalam pelayanan kesehatan yang berorientasi pada kebutuhan pasien dan tindakan yang profesional. Isu seksualitas masih dikaitkan erat dengan masalah moral, dan beberapa dokter belum bisa terlepas dari masalah tersebut karena berada dalam lingkungan sosial dan budaya yang mengelilingi mereka. Sebagian besar dokter yang mengikuti pelatihan sebelumnya telah juga diperkenalkan masalah keragaman seksualitas, kesetaraan gender dan hak asasi manusia, namun beberapa masih mengalami kesulitan dalam menyediakan konsultasi yang “netral secara moral”. Ini terlihat jelas pada komentar, pertanyaan atau saran yang diberikan kepada pasien. Beberapa dokter mengaku memasukkan nasihat atau arahan moral dalam waktu konsultasi mereka. Hal ini kemudian kita diskusikan, dan menerangkan bahwa meskipun dokter bertujuan baik dan dikomunikasikan dengan ramah, pasien mungkin merasa tidak nyaman, menolak, atau merasa mengalami diskriminasi oleh komentar atau saran tersebut.

Tim dokter Angsamerah menekankan dan mengingatkan para peserta bahwa dokter harus memberikan pelayanan kesehatan berdasarkan panduan yang berdasarkan bukti ilmiah dan tidak mengkaitkan dengan masalah moralitas atau agama, karena ini merupakan elemen kunci profesionalisme (terlepas dari pandangan pribadi).

Artikel diterjemahkan oleh dr Adyana Esti

You may also like

Leave a comment