Siapakah diantara kita yang tidak punya rasa marah? Hampir dipastikan semua orang mempunyainya. Marah merupakan sumber rasa benci, namun kita lihat marah pada seseorang bisa mencair dan mempresentasaikan kasih, pada orang lain marah berkembang menjadi benci dan lebih dalam lagi menjadi dendam yang dilampiaskan.

Dari mana benci berasal ?

Marah adalah emosi manusia. Emosi berada dalam otak manusia bagian tengah, pada sistem limbik. Marah dapat diekspresikan, dapat pula diam terbenam atau diolah. Pada mereka yang mempunyai zat neurokimiawi A, menurut Prof Liza Gold, psikiater dari Fakultas Kedokteran Georgetown University’s di Washington, D.C., marah seringkali diekspresikan melalui tindak kekerasan.

Kita saksikan didunia ini banyak kejadian benci, marah diekspresikan melalui tindak kekerasan seperti pemboman di tanah air, di Amerika, di Inggris dan di banyak tempat lainnya. Nampaknya budaya mengekspresikan kemarahan marak di semua tempat, bahkan di media sosialpun kita menyaksikan para haters menghujat siapa saja (terutama tokoh) secara terbuka dan menjadi viral kemarahan menyebar luas.

Secara psikologi benci datang dari rasa tidak aman yang dalam pada diri seseorang. Benci mungkin saja berasal dari gangguan kepribadian, utamanya ketika korteks prefrontal (otak bagian depan tempat mengolah  informasi untuk pengambilan keputusan) belum berkembang sempurna di bawah usia 20 tahun. Dalam bahasa faal dikatakan ketika proses ‘prunning’ sedang berlangsung. Prunning adalah penataan sambungan antar sel saraf agar informasi disampaikan dan kemudian diolah dengan pengambilan keputusan yang menurut norma masyarakat.

Benci juga dapat berasal dari ‘bisikan’ halusinasi dengar pada orang dengan gangguan psikotik. Bisikan ini adalah bisikan palsu yang hanya terdengar pada mereka yang mengalaminya dan tidak dapat didengar orang lain.

Menyitir tulisan Maria Puente , dalam USA TODAY yag diterbitkan 15 Juni 2016. Harold Koplewicz, psikiater anak dan remaja dari New York, remaja-remaja tertentu merasa dikucilkan, dan menemukan teman2 terkucilkan lainnya, mereka bersatu. Kesatuan ini bagaikan sebuah perusahaan yang membuat mereka lebih nyaman. Mengentalkan dan membenarkan kebencian mereka, dan menumbuh kembangkan kebencian ini. Jarang hater berbuat sendiri, mereka saling mendukung membarakan kebenciannya.

Pembenci ini, menurut ahli, merasa bahwa gaya hidup mereka terancam. Mereka menjadi gelisah, makin merasa terdesak, dan benci makin menggelegak. Ancaman dapat berupa ancaman ekonomi, seperti kegagalan memperoleh kesejahteraan, atau ancaman ketidak berhasilan mencapai posisi tertentu seperti lulus dari sekolah atau masuk dalam jurusan tertentu.

Mediasosial adalah alat termudah menghubungkan orang dengan orang, maka pengelompokan mereka menjadi mudah pula. Terjadilah pembentukan kelompok-kelompok senasib sepenanggungan.

Deteksi kebencian, dapatkah dilakukan ?

Pemeriksaan otak melalui alat penciteraan (brain imaging) oleh para ahli otak dapat menemukan gambaran marah pada area otak seseorang, tetapi mereka belum pasti dapat mengatakan bahwa fisiologi demikian akan menjadi tindak kekerasan  atau kriminal dikemudian hari. Juga belum ada tanda pengenalan struktur otak tertentu yang membuat seseorang mengembangkan marahnya menjadi benci dan bertindak aggresif atau kekerasan. Area otak dengan kemarahan hanya dapat diperiksa ketika orang tersebut sedang marah, jadi akan berbeda gambarannya ketika sedang tenang.

Kemarahan terjadi akibat adanya faktor pemicu yang mengenai indera orang tersebut. Pemicu ini akan menguatkan sistem pengapian pada listrik otak dan menjalarkan informasi kebencian dengan cepat, sehingga kendali otak bagian depan tak sempat membaca alarm ini untuk berpikir lebih jernih.

Dapatkah kebencian dipulihkan ?

Dalam otak manusia dibagian tengah, masih di area pengolah emosi terdapat bangunan kecil bernama nukleu kaudatus. Ia merupakan pusat rewards. Jika pusat ini di’colek’ maka manusia merasa puas karena diberi rewards. Jadi setiap manusia pada dasarnya dapat mencapai kepuasan, dan cenderung mengulang kepuasan supaya ia merasa sejahtera. Untuk mencapai kepuasan kita perlu mengetahui tujuan kehidupan kita. Dengan kata lain, setiap manusia ingin sukses dengan cara mencapai goal.  Kadang kita tak tahu goal kita sehingga yang diotak-atik adalah titik kebencian yang meledak-ledak berenergi besar yang pelampiasannya akan merugikan diri sendiri beserta orang-orang disekitarnya.  Dapatkah sukses itu diarahkan pada hal yang dapat dicapai tanpa menodai dunia dengan kekerasan dan kriminalitas?

Jawaban yang mungkin mencapai akarnya adalah pengasuhan. Mengasuh anak dengan dampingan memilih goal bagi kehidupannya. Memilahkan cita-citanya, mendukung cita-cita dan menanamkan arti cita-cita bagi diri dan bermanfaat bagi sekitar yang membuat anak merasa mampu menghadapi dunia masa depan yang sejahtera.

Bagaimana jika orang setelah dewasa ini mempunyai dendam luar biasa untuk menjatuhkan atau menghabisi seseorang atau sekelompok manusia yang tak berkaitan dengan dendamnya secara langsung? Apakah ia harus diasuh lagi mulai umur muda dan masuk ke mesin waktu untuk kembali kanak-kanak? Mengasuh ulang berarti memperbaiki arus  komunikasi dalam sistem limbik, rewards diubah pada goal yang dicita-citakan: terkenal dan hidup sejahtera. Terkenal karena dengan perbuatan meledakkan diri seseorang menjadi terkenal, dan iming-iming akan mencapai kesejahteraan didunia lain membuat ia mengujudkannya.

Mengasuh ulang berarti merehabilitasi. Memasukan nilai-nilai kemanusiaan kasih sayang, mengolah ketidak sesuaian dengan pandangan lebih luas, melihat kejanggalan dari beberapa sudut, meluruskan pandang kepada hal-hal bermanfaat, menaikan harkat melalui prestasi memberi kedamaian. Menunda kemarahan dengan berpikir lebih logis, seperti yang diajarkan kepada kita selama menjalani puasa yakni menunda pemuasan sesaat dengan berpikir lebih tenang.

Pepatah mengatakan: ” Lebih baik mencegah daripada mengobati ”. Mengasuh anak dari awal bermuatan kebajikan dengan mengarahkan cita-cita yang mengangkat harkat dirinya akan lebih mudah dan mulia. Marilah kita merawat generasi muda dengan muatan kebajikan, menujukan cita-cita atau goalnya pada hal bermakna bagi masyarakat sehingga dirinya terangkat harkatnya. Bukankah pengasuhan berakar dari rumah kita masing-masing.

You may also like

Leave a comment