Berdarah. Siapapun akan khawatir bila mengeluarkan darah, apalagi bila darah keluar bersama dengan air mani. Adanya darah dalam air mani dalam dunia medis disebut hematospermia atau hemospermia. Hal ini dapat terjadi pada pria usia berapapun setelah pubertas, seringnya pada pria usia 30-40 tahun, dan pada pria berusia di atas 50 tahun yang mengalami pembesaran prostat. Sebagian besar kasus akan pulih sendiri tanpa pengobatan dalam waktu 1-2 bulan. Sebagian besar pria yang mengalami gejala darah dalam air mani akan mengalami kejadian berulang.

Apakah normal ada darah dalam air mani?

Darah dalam air mani adalah sesuatu yang tidak normal, tapi hal ini cukup umum terjadi dan seringkali tidak disadari. Darah dalam air mani warnanya bisa kecoklatan atau merah segar. Umumnya, darah dalam air mani tidak disertai dengan rasa sakit dan pria baru menyadarinya setelah ejakulasi.

Haruskah saya khawatir menemukan darah di air mani saya?

Khawatir adalah perasaan yang wajar ketika Anda menemukan darah di air mani. Anda tidak perlu menjadi panik karena darah dalam air mani biasanya bukan pertanda adanya masalah serius. Akan tetapi, Anda tetap disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui penyebab dan cara mengatasinya.

Apa yang menyebabkan darah dalam air mani?

Darah dalam air mani bisa berasal dari organ reproduksi pria yang terdiri dari testis (buah zakar), sistem saluran, dan kelenjar lainnya. Diperkirakan setengah kasus dari penyebab darah dalam air mani, penyebab pastinya dinyatakan tidak diketahui (idiopatik). Kemungkinan penyebab adanya darah dalam air mani yaitu karena peradangan, infeksi, penyumbatan, varises, kista, cedera di organ reproduksi, polip atau infeksi uretra, atau ada riwayat tindakan seperti biopsi prostat. Keganasan atau kanker juga bisa menyebabkan adanya darah dalam air mani, tapi ini jarang terjadi.

Meskipun darah dalam air mani bisa diketahui saat atau setelah berhubungan seks, tapi hubungan seks itu sendiri bukanlah penyebab perdarahan. Pada pria yang berusia kurang dari 40 tahun, infeksi organ kelamin dan saluran kemih adalah penyebab hematospermia yang paling umum. Darah dalam air mani juga bisa terjadi pada pria berusia di atas 50 tahun dengan pembesaran prostat.

 

 

Bagaimana dokter mengonfirmasi adanya darah dalam air mani?

Untuk mengetahui adanya darah di air mani, berikut langkah-langkah yang akan dilakukan seorang dokter:

  1. Menanyakan secara spesifik dan terarah gejala-gejala yang terlihat atau terasa, riwayat penyakit terdahlu, termasuk faktor-faktor resiko yang berkaitan dengan kemungkinan penyebab termasuk diantaranya riwayat kontak seksual berisiko.
  2. Melakukan pemeriksaan fisik khususnya di daerah saluran kemih dan organ reproduksi: uretra, penis, skrotum/buah zakar untuk menilai ada tidaknya peradangan atau pembesaran yang tidak biasanya pada organ reproduksi pria.
  3. Bila diperlukan pemeriksaan dubur mungkin dilakukan, dimana dokter memasukkan jari yang bersarung ke dalam rektum untuk memeriksa ukuran, bentuk dan permukaan prostat.
  4. Pemeriksaan penunjang laboratorium awal yang mungkin akan dilakukan adalah;
    • Analisis air mani untuk memeriksa keasamannya (nilai normal pH berkisar adalah 7.2-8.0), banyaknya sel darah dan sel radang, dan bakteri.
    • Biakan air mani dilakukan untuk melihat kuman penyebab infeksi.
    • Analisisa urin untuk memastikan ada tidaknya darah, langsung terlihat dengan mata atau dengan bantuan mikroskop, dan memastikan adakah hubungannya dengan gangguan di saluran kemih. Jika darah ditemukan dalam urin, maka rujukan menemui ahli urologi akan disarankan
  5. Pemeriksaan darah Prostate Specifik Antigen (PSA) biasanya disarankan untuk dilakukan pada pria dengan usia lebih dari 50 tahun, atau pada pria berusia lebih dari 40 tahun dengan keluarga riwayat kanker prostat.

Bagaimana penanganannya?

Penanganan hematospermia bervariasi tergantung penyebabnya. Bila darah ditemukan hanya dalam air mani tanpa gejala lainnya dan tanpa dapat diketahui penyebab pastinya, maka dokter biasanya akan menyarankan untuk observasi. Pengobatan belum diperlukan karena seringnya gejala pulih dalam 1-2 bulan tanpa pengobatan. Pemeriksaan lebih intensif perlu dilakukan bila gejala masih terus berlanjut setelah 2 bulan.

 

Referensi

emedicine.medscape.com
www.andrologyaustralia.org
www.nhs.uk

You may also like

Leave a comment