Energi Sinergi Yang Hilang di Organisasi IDI

aksi-damai-dokter-indonesia

Sebentar lagi IDI akan merayakan hari jadinya yang ke-66 pada tanggal 24 Oktober 2016, ini berarti sudah lebih dari setengah abad organisasi profesi kedokteran satu satunya di Indonesia tersebut berkiprah dan eksis tanpa tantangan berarti.

Tetapi sejauh perjalanan yang panjang ini rasanya PB IDI (Pengurus Besar IDI) belum ada karya fenomenal yang dilahirkan baik untuk anggota maupun masyarakat pada umumnya. Yang ada hanya menjalankan rutinitas normatif kepengurusan PB IDI sambil menunggu datangnya waktu muktamar IDI berikutnya tiga tahun ke depan untuk memilih “President elect” serta mengukuhkan Ketua Umum dan kemudian keduanya bersama-sama membentuk kepengurusan lengkap PB IDI untuk 3 tahun berikutnya.

Seharusnya PB IDI merupakan rumah sekaligus induk (baca orang tua) bagi anggotanya yang  seluruhnya berjumlah  ratusan ribu  (baca: 177.648 dokter, data KKI ) dan setiap tahunnya akan bertambah terus berkisar 8000-an dokter sejalan dengan lulusan baru yang di hasilkan oleh kurang lebih ada 75  Fakultas Kedokteran negeri dan swasta di Indonesia.

Kita harus sadar perkembangan jaman berjalan begitu pesat yang mau tidak mau – suka tidak suka-, akan berdampak terhadap eksistensi, kompetensi dan juga permasalahan permasalahan  pada profesi kedokteran. Akan tetapi apabila PB IDI sebagai induk organisasi profesi kedokteran ini tidak bisa berubah atau berinovasi dengan program-program futuristik yang mana sudah menjadi sebuah keniscayaan guna mengembangkan kompetensi serta melindungi anggotanya, maka hal ini kemudian akan berdampak buruk. Untuk saat ini sangatlah dibutuhkan organisasi yang inovatif dan jika tidak mampu merubah menjadi organisasi yang profesional dan akuntabel maka cepat atau lambat organisasi ini akan mengalami degradasi dan menuai masalah yang besar di kemudian hari .

Banyak permasalahan muncul saat ini yang menyangkut profesi kedokteran kita ini, di antaranya adalah:

  • Sebagian masyarakat mengeluhkan masalah biaya pendidikan di fakultas kedokteran yang teramat tinggi, padahal mereka berharap putra-putrinya yang berprestasi bisa meneruskan ke pendidikan kedokteran sebagai suatu kebanggaan.
  • Pusat-pusat pendidikan kedokteran/spesialis yang ada tidak terkontrol dalam menjaga mutu dan kualitas, maupun jumlah penerimaan mahasiswa kedokteran yang cenderung melanggar batas kapasitas sesuai nilai akreditasi BAN PT yang menjadi acuannya.
  • Pelayanan dan distribusi dokter yang tidak merata sampai ke daerah dan pelosok-pelosok wilayah nusantara, yang memang menjadi realita wilayah geografis negeri kita, sehingga terkesan dokter tertumpuk di pulau Jawa dan kota-kota besar saja, sehingga saudara-saudara kita di pelosok wilayah yang membutuhkan pelayanan dokter mengalami banyak kendala.
  • Belum lagi permasalahan yang timbul di dalam/ internal anggota IDI sendiri, seperti antar perhimpunan satu dengan perhimpunan yang lainnya, bahkan tidak menutup kemungkitan antar sejawat dokter, yang seharusnya menurut sumpah dokter adalah layaknya seperti saudara kandung.
  • Hilangnya wibawa dan peran IDI sebagai pemangku kepentingan, baik dalam rencana program kesehatan nasional, termasuk peran dalam hal ikut serta memberikan masukan pembuatan UU Tenaga Kesehatan dan Pendidikan Kedokteran, dimana termasuk di dalamnya adalah program pendidikan dokter dan pendidikan dokter berkelanjutan, Ini menunjukan IDI saat ini tidaklah memiliki nilai “bargaining” yang kuat.
  • Hilangnya perlindungan profesi dari Pemerintah saat seorang dokter sedang menjalankan tugas baik mengenai aturan administrasi, jaminan kesehatan, tunjangan hidup yang layak, bahkan nyawa sering sebagai taruhannya, hal  ini tidak lepas dari lemahnya PB IDI sebagai pengayom dan pelindung (terbukti sudah ada beberapa korban teman sejawat yang gugur disaat sedang menjalankan tugas internship).
  • Belum lagi kita menghadapi era AFTA/ MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) yang pastinya akan sulit dibendung masuknya dokter asing yang tentunya membuka persaingan dalam perebutan lahan kerja teman-teman sejawat di negeri kita sendiri. Dan sampai saat ini belum ada program pelatihan dan pengorganisasian dokter-dokter yang terstruktur dan terjadwal dengan jelas oleh PB IDI, guna mempersiapkan dokter-dokter kita agar bisa menembus pasar ASEAN dan Asia serta mempunyai daya saing yang tinggi dan kompetitif.

Sejenak kita mengingat pada sejarah perjuangan para “founding fathers” kita,  dimana jauh sebelum Indonesia merdeka para senior dan sejawat kita itu telah menginisiasi lahirnya pergerakan perjuangan kaum intelektual dengan penuh strategi dan perjuangan total, yang semata-mata bukan untuk kelompoknya tetapi untuk bangsa dan tanah air kita Indonesia. Organisasi Budi Utomo (BU) didirikan pada tanggal 20 Mei 1908, oleh para mahasiswa STOVIA di Batavia dengan Sutomo sebagai ketuanya. Terbentuknya organisasi tersebut atas ide dari dr. Wahidin Sudirohusodo. Budi Utomo kemudian berkembang menjadi organisasi intelektual yang mempunyai andil dan jasa yang besar dalam sejarah pergerakan kemerdekaan nasional, yakni telah membuka jalan dan memelopori gerakan kebangsaan Indonesia. Itulah sebabnya pada tanggal 20 Mei ditetapkan sebagai hari Kebangkitan Nasional yang kita peringati setiap tahunnya hingga saat ini.

Marilah kita jadikan moment Ulang Tahun IDI yang ke-66 ini sebagai moment “DOKTER INDONESIA BANGKIT“

  • Kita punya tokoh tokoh, para Profesor dan  pengajar yang hebat untuk melahirkan generasi penerus dokter yang super hebat.
  • Kita punya dokter-dokter yang cerdas, berkompeten, berkelas yang hebat dan siap bersaing di dunia internasional.
  • Kita punya pasukan dokter ratusan ribu yang hebat yang siap berbakti dan mengabdi pada ibu pertiwi yang kita cintai.
  • Kita punya naluri dan moral yang tinggi dan hebat yang siap menjaga marwah profesi kedokteran yang luhur ini.
  • Kita punya organisasi besar yang hebat yang siap menampung dan memperjuangkan aspirasi anggotanya dengan cara-cara yang terhormat dan elegan.
  • Kita punya semangat juang tinggi yang diwariskan oleh para pahlawan pejuang dokter di masa  perjuangan kemerdekaan.

Tapi sayang… semua potensi yang ada dan kita miliki hilang dan tak bermakna, oleh karena organisasi kita telah tercemari nuansa politik praktis yang membuat kita tidak merasa satu, tidak merasa senasib seperjuangan, tidak merasa memiliki tanggung jawab bersama, tidak memiliki visi-misi yang sama dan utuh karena sudah terkooptasi oleh aroma politis, bahkan rasa sebagai saudara kandung juga sudah luntur yang membuat kita mudah di adu-domba dengan sesama sejawat karena kepentingan sesaat. Banyak hal yang seharusnya menjadi peran IDI untuk merencanakan, mengatur dan membuat regulasi hilang begitu saja, oleh karena IDI telah hilang wibawa, PB IDI gagal menjalankan peranannya.

Akhirnya marilah kita bersama-sama berikrar bahwa IDI harus bisa kembali menyatukan potensi-potensi besar yang kita miliki, agar “Energi Sinergi” yang selama ini hilang kita dapat rangkai kembali dalam satu wadah “DOKTER INDONESIA BANGKIT” demi kejayaan IDI…

Selamat Ulang Tahun!

Bravo!!!

dr. Tedy Harto

Pembina Perkumpulan Dokter Indonesia Bersatu

READ MORE….

Dokter Indonesia, Nasibmu Kini

Politik Kesehatan yang Bermartabat dan Berbudi Luhur

You may also like

Leave a comment