Sebagai bangsa yang katanya merdeka, ternyata kita belum merdeka dari udara yang bercampur asap rokok. Bagi para penggiatnya, merokok merupakan sebuah tindakan yang termasuk dalam hak azasi, meskipun tak jarang jadinya malah mengabaikan hak azasi orang lain untuk menghirup udara yang segar. Kampanye bebas rokok di tempat umum sekarang mulai banyak digalakkan, begitu pula para pacar/istri yang galak terhadap pasangannya bila mereka merokok.

Tapi, bukan di Indonesia namanya kalau tidak ada anomali. Meski merokok di tempat umum sudah dilarang, tetap saja ada asap mengepul di udara bahkan di lingkungan rumah sakit atau sekolahan. Meski sekarang banyak juga lelaki yang tidak suka merokok, tapi wanita yang menjadi social smoker semakin menjamur. Semakin banyak orang dewasa yang berkeinginan berhenti merokok, generasi muda seusia anak SD sudah mulai menenteng rokok ke sana kemari.

Merokok menjadi masalah kesehatan masyarakat yang tidak gampang terpecahkan. Kampanye untuk menghentikan aktifitas merokok menjadi benturan masalah kesehatan dengan masalah ekonomi. Mengingat beban kesehatan dan beban ekonomi yang ditimbulkan begitu besar, merokok memang perlu diatur. Tak hanya masyarakat yang Nampak sehat dengan kebiasaannya merokok, tapi juga orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) dan merokok.

Siapa yang tidak tahu bahayanya merokok? Di setiap bungkus rokok tertulis jelas akibat apa saja yang mungkin terjadi akibat mengonsumsi rokok. Di setiap iklan yang tayang di media pun demikian. Tapi tetap saja tak menghentikan kebiasaan atau dorongan keinginan orang untuk merokok. Bila pada orang yang sehat saja rokok bisa sedemikian membahayakan, bisakah membayangkan apa akibatnya jika rokok dikonsumsi oleh orang dengan HIV/AIDS?

Ada banyak alas an kenapa seseorang menjadi perokok, mengatasi stress atau kecemasan adalah salah satunya. Begitu pun orang dengan ODHA. Tahukah bahwa jumlah perokok di kalangan ODHA 2-3 kali lebih banyak disbanding pada masyarakat umum? Rokok akhirnya menjadi masalah besar yang menjadi risiko tingginya angka kesakitan dan kematian di kalangan ODHA. Beberapa kondisi yang lebih sering terjadi pada ODHA perokok dibanding yang bukan adalah:

Berisiko mengalami penyakit terkait rokok; kanker paru-paru, kanker di kepala dan leher, kanker leher rahim atau anus, infeksi mulut
Lebih rentan mengalami infeksi bakteri di paru-paru (pneumonia) dan penyakit jantung dan pembuluh darah
Menurunnya respon imunologis terhadap terapi HIV (antiretrovirus)
Tidak patuh terhadap terapi HIV yang dijalankan
Memiliki Kualitas hidup yang lebih rendah
Memiliki risiko lebih besar untuk mengalami kondisi AIDS yang mematikan

Bagi siapapun yang ingin berhenti merokok, jangan ditunda-tunda. Mulai dari sekarang karena setiap hari sangat berharga. Berdasarkan metode yang disarankan oleh smokefree.gov di Amerika, mulailah berhenti merokok dengan mengikuti prinsip START:

S: set a date. Tentukan tanggalnya.

T: tell a family, or else. Beritahu semua orang bahwa Anda akan berhenti. Niat yang sudah diumbar ke banyak orang tentu akan membuat Anda termotivasi untuk memenuhinya. Malu kan kalau sampai batal?

A: anticipate and plan for challenge. Buat perencanaan bagaimana Anda akan menghadapi godaan dalam berhenti merokok.

R: remove cigarettes. Jangan pernah ada lagi rokok atau barang apapun yang mengingatkan Anda akan rokok di depan mata Anda. Tidak di rumah, di mobil, di kantor. Buang barang yang sudah tak terpakai lagi sehingga Anda tak pernah memikirkannya lagi.

T: talk to your doctor and get help. Konsultasi dan bicarakan keinginan Anda untuk berhenti merokok dengan ahlinya. Dokter yang ahli untuk menghentikan kebiasaan Anda merokok sekarang bisa dijumpai di banyak tempat. Hanya saja Anda perlu ingat, dokter adalah metode bantuan untuk menjaga Anda agar tetap di jalur yang benar, selebihnya itu adalah usaha Anda.

Sudah siap untuk berhenti merokok?

Links
Dr. Jonathan Mermin on Smoking & HIV (Video)
blog.aids.gov

Artikel terkait HIV lainnya

Website penting terkait HIV

You may also like

Leave a comment