Infeksi pada organ reproduksi dapat terjadi bukan hanya karena penularan lewat hubungan seksual saja, namun juga karena masalah kebersihan/higiene dan perawatan yang kurang baik, disamping faktor-faktor dari luar yang mempengaruhinya.

Struktur organ reproduksi yang berbeda pada perempuan dan pria menyebabkan perbedaan pula dengan gejala yang ditimbulkan. Dalam keseharian seseorang dengan infeksi organ reproduksi cenderung tidak memeriksakan dirinya ke dokter, atau berusaha mengobati sendiri lewat nasehat teman yang belum tentu benar dan lewat iklan di media, disamping masih adanya rasa malu bagi seseorang untuk pergi ke dokter dan tenaga medis lain karena kuatnya stigma dan tabu, rasa malu dan jengah seseorang bila memiliki persoalan seputar organ reproduksi.

Perempuan

Pada wanita keputihan dan nyeri berkemih adalah gejala infeksi organ reproduksi yang umum yang dijumpai.

1. Keputihan

Keluhan yang paling sering ditemukan pada perempuan adalah keputihan. Keputihan ada yang bersifat fisiologis dan ada yang patologis.

Keputihan Fisiologis:

Dikeluarkan oleh glandula Bartholini, kelenjar sebaceous dan keringat dari bibir vagina (vulva) serta sekret dari vagina dan mulut rahim (cervix/serviks). Harus diingat bahwa bercak kuning atau kecoklatan pada celana dalam bukan keputihan, namun disebabkan kelembaban vulva semata. Kita baru menyebutnya vaginal discharge bila jumlahnya banyak. Warna keputihan yang fisiologis adalah bening/putih dan tak berbau.

Keputihan Fisiologis muncul pada kondisi sebagai berikut:
– Terangsang karena adanya gairah seksual
– Masa ovulasi yaitu masa subur seorang wanita, dimana sel terlur menjadi matang dan wanita dalam masa subur memiliki lendir yang dapat “diulur” sepanjang 10-15 cm dari sekitar cervix (Spinnbarkeit)
– Keputihan mendekati hari menstruasi biasa disebut “Premenstrual discharge” diduga disebabkan oleh congesti pelvis beberapa hari sebelum menstruasi tiba
– Pada saat kehamilan karena terjadi peningkatan kelembaban vulva.

Keputihan Patologis:

Keputihan Patologis adalah keputihan yang tidak sehat dan menyebabkan gangguan kesehatan dan perlu pengobatan. Bila dibiarkan dapat memperburuk fungsi organ reproduksi dan menimbulkan komplikasi lanjut.

Kondisi ini terjadi bila adanya mikroorganisme dalam jumlah berlebih dalam vagina. Ada beberapa mikroorganisme yang sering menyebabkan terjadinya keputihan patologis ini dalam vagina yaitu

Candida (Fungus discharge, Moniliasis)
– Terjadi karena penggunaan antibiotik berlebih atau pil kontrasepsi. Keputihan ini memiliki gejala: gatal, berbau, cheese-like discharge. Pada pemeriksaan dengan jari ditemukan discharge yang menempel. Pada pemeriksaan dengan spekulum ditemukan bercak putih, yang bila diangkat akan timbul pendarahan. Pada pemeriksaan mikroskopis ditemukan adanya hypha dari candida. Terapi candida dilakukan dengan pemberian obat anti jamur.

Trichomonas Vaginalis
– Trichomonas Vaginalis adalah patogen jenis protozoa yang dapat ditemukan pada wanita (pada bibir vagina, vagina, mulut rahim, saluran kencing (uretra) dan kandung kencing) maupun pria (dibalik kulup, prostat, uretra, kandung kencing). Infeksi Trichomoniasis terjadi karena pemakaian antibiotik berlebih, penularan secara seksual, maupun aseksual (toilet umum, pemakaian handuk/pakaian bersama dsb). Biasanya bergejala: perih, gatal, nyeri ketika berhubunga dan nyeri ketika kencing. Keputihan berwarna kuning kehijauan berbau busuk. Biasanya terjadi tiba-tiba seusai haid.
– Pada pemeriksaan nampak vagina dan mulut rahim (serviks/cervix) merah dan membengkak, kadang dengan bercak-bercak pendarahan. Pemeriksaan mikroskopis HARUS menemukan adanya Trichomonas hidup dalam sediaan basah.
– Pada pria gejala-gejala sering tak nampak, terkadang hanya berupa gejala Non Gonnorhoea Urethiritis (NGU) gejala dan dijumpai peningkatan sel sel anti peradangan.

Bacterial Vaginosis (BV)
– Disebabkan hilangnya lactobacillus sp yang memproduksi H2O2 yang menjaga keasaman vagina, diganti bakteri anaerobik (Prevotella sp, Mobiluncus sp), Gardnerella vaginalis dan Mycoplasma hominis. Penyebab tak diketahui, sering berganti pasangan seksual merupakan salah satu dugaan. BV memiliki gejala: keputihan berwarna putih, homogen, menyelimuti dinding vagina, PH vagina > 4.5, Berbau amis, sebelum atau sesudah penetesan KOH 10%. Selain faktor-faktor itu ditemukan pula adanya clue celldalam pemeriksaan mikroskopik.

2. Nyeri Berkemih

Nyeri pada saat berkemih merupakan keluhan yang juga sering ditemukan pada perempuan. Nyeri berkemih ditemukan bila saluran kencing (tractus urinarius) mengalami infeksi sehingga terjadi peradangan.

Infeksi Saluran Kemih (ISK) sering terjadi karena faktor anatomis saluran kencing perempuan yang lebih pendek dari pria, sehingga lebih mudah terkena infeksi. Biasanya ada dua penyebab utama infeksi: adanya infeksi pada vagina yang kemudian menyebar ke saluran kemih, atau adanya infeksi langsung terhadap saluran itu sendiri.

Infeksi langsung dapat terjadi antara lain oleh cara membersihkan diri yang salah. Arah tangan dalam membersihkan diri setelah buang air besar yang benar adalah dari depan ke belakang. Masih banyak yang melakukan sebaliknya, dari belakang ke depan, sehingga bakteri dari feces justru terbawa ke saluran kemih. Bakteri Escherichia coli ini yang kemudian menginfeksi saluran kemih.

Harus diperhatikan pula pada anak-anak yang masih membutuhkan pertolongan dalam membersihkan diri; para penolong hendaknya melakukan cara yang benar yaitu membersihkan dari arah depan ke belakang.

Pria

Balanitis

Balanitis adalah infeksi pada glans penis (kepala penis), yang dapat terjadi pada mereka yang tidak bersunat karena masalah higiene yang buruk. Gejalanya berupa bengkak pada kepala penis dan bisa disertai nyeri. Umum dialami pada pria, khususnya pria yang tidak disunat. Biasanya infeksi ini disebabkan oleh preputium atau kulup yang menutupi glans penis dan jarang dibersihkan dan menjadi tempat berkumpulnya smegma, suatu lapisan pelumas bersifat lemak yang karena bercampur dengan tetesan urine dapat menimbulkan bau tak sedap. Akumulasi smegma yang berlebihan dapat menciptakan suatu kondisi bernama balanitis, suatu peradangan akibat keikutsertaan bakteri dalam tumpukan smegma menginfeksi glans penis.

Uretritis

Uretritis dapat terjadi pada pria juga, meskipun tak memiliki riwayat hubungan seksual. Penyebabnya selain higiene yang buruk adalah penggunaan air yang kurang bersih waktu membersihkan penis setelah berkemih.

Gejala utama adalah nyeri ketika berkemih, dan bisa disertai gejala lain seperti rasa ingin kencing ataupun kesulitan untuk berkemih. Gejala uretritis pada pria bisa disertai keluar cairan berlebih (duh), gatal bahkan bisa disertai darah di semen dan urin.

 

Sumber
Hock, Roger R; Human Sexuality 2011
LeVay, Simon; Human Sexuality 2006
Masters, William, Johnsons; Virginia: Human Sexual Response, 1966
Mahoney, ER; Human Sexuality 1983

 

Angsamerah | Infeksi Organ Reproduksi.pdf

You may also like

Leave a comment