Akhir pekan yang baru saja lewat merupakan sebuah akhir pekan yang panjang. Biasanya, kalau kita berjalan-jalan di pusat perbelanjaan atau sentra keramaian lainnya, kita akan menjumpai banyak keluarga muda yang sedang menghabiskan saat berkualitas untuk mendekatkan diri antar anggotanya. Di momen-momen seperti ini kita juga dapat menyaksikan beragam rupa perilaku anak dari berbagai usia. Ada anak yang kalem dan penurut mengikuti ayah-bundanya untuk sekedar melihat-lihat, ada yang berlarian ke sana kem ari dengan sepatu keds beroda, dan ada pula yang menangis meraung-raung di toko mainan menuntut keinginannya untuk dikabulkan.

Ragam perilaku ini mungkin dianggap sebagai tantangan dalam menjalankan peran sebagai orang tua. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa kebiasaan sederhana di rumah dapat memberikan pengaruh yang bermakna dalam perilaku anak di luar rumah? Kebiasaan tidur misalnya. Sebuah penelitian di Inggris menunjukkan bahwa anak usia 7 tahun yang tidak memiliki jadwal tidur siang teratur cenderung lebih hiperaktif dan memiliki masalah di bidang sosial, emosional, maupun perilaku. Hal ini berdasarkan penilaian oleh para ibu dan guru yang membandingkan dengan anak usia 7 tahun dengan jadwal tidur siang teratur.

Bahayanya, anak yang tumbuh besar tanpa jadwal tidur siang, akan memiliki perilaku yang terus memburuk. Namun, perilaku yang buruk dapat diubah menjadi perilaku yang lebih kalem apabila si anak kemudian dibiasakan untuk tidur siang di waktu khusus.

Hasil studi ini dianggap sangat serius karena melibatkan 10,000 anak di Inggris yang diikuti perkembangannya sejak mereka lahir di tahun 2001 dan 2002. Evaluasi dilakukan saat anak berumur 3, 5, dan 7 tahun. Para peneliti menilai tingkah laku anak sehari-hari, hubungan dengan teman sekelas, gejala emosional, hingga tingkat hiperaktifitas si anak. Yang perlu digaris bawahi, bukan hanya jadwal tidur teratur yang penting, tapi juga soal waktunya. Anak yang tidur lebih lambat diketahui memiliki gejala perilaku yang buruk pula.

Baik bagi anak-anak maupun orang dewasa, tidur adalah suatu kebutuhan. Dan mereka yang kurang tidur, akan menunjukkan gejala seperti mudah marah, moody, dan seringkali memberikan respons fisiologis yang tidak sesuai dengan rangsangan yang diterima. Kalau orang dewasa menunjukkannya dengan penampakan suntuk dan emosional, anak-anak justru menjadi lebih hiperaktif.

Maka sebagai orangtua, memberlakukan pengaturan jam tidur bagi anak, baik tidur malam maupun tidur siang, sangat membantu untuk mengoptimalkan fungsinya di hari esok. Anak usia 5-7 tahun yang mendapat tidur cukup (10-12 jam tiap malam) akan melalui tahapan tidur yang lengkap, yakni tidur dalam (deep sleep) yang akan memberikan rasa segar saat bangun, dan tahap REM (rapid eye movement) yang dapat meningkatkan kemampuan memori seseorang.

Sebagai suatu komponen penting yang menentukan perilaku dan kesehatan seorang anak, jadwal tidur yang teratur dan konsisten setiap saat sangatlah penting. Usahakan agar anak paham akan rutinitas pengantar tidurnya dan sebisa mungkin hindari rangsangan yang dapat mengalihkan perhatian anak dari tidur, seperti bermain gadget. Meski terkesan sulit, ini bukanlah hal yang mustahil.

 

Referensi
livescience.com

You may also like

Leave a comment