Salah satu pelajaran tersulit yang saya rasakan dalam proses menjadi seorang dokter adalah tentang cara menyampaikan kabar yang tidak enak kepada pasien maupun keluarganya. Sampai waktunya praktek mandiri sebagai dokter, baik dokter umum maupun spesialis, akan selalu ada kecemasan tentang bagaimana menyampaikan berita macam ini. Seorang dokter dituntut untuk mampu memberikan penjelasan yang menggambarkan kondisi apa adanya, serta mampu menjaga kondisi psikologis pasien dan keluarga tetap baik agar dapat mengambil keputusan yang bermanfaat bagi penanganan selanjutnya.

Fase-fase yang dialami seseorang setelah menerima suatu kabar yang tidak menyenangkan adalah:

1. Denial (Penyangkalan)
Lazim bagi orang yang pertama kali mendengar berita tak menyenangkan untuk menyangkalnya. Pasien biasanya merasa tidak terima dengan diagnosis yang disampaikan oleh dokter dan berharap bahwa diagnosis tersebut tidak pernah terjadi dalam hidupnya. Fase ini kemudian diisi dengan agenda kunjungan ke berbagai tempat dengan berbagai cara untuk membuktikan bahwa diagnosis yang diterima adalah salah. Mekanisme ini merupakan suatu cara menunda kepanikan.

2. Anger (Marah)
Setelah berusaha kesana kemari dan diagnosis tetap tidak berubah, maka rasa frustasi akan muncul. Semua orang, bahkan Tuhan ikut kena marah, dan mempertanyakan kenapa hal ini bisa terjadi. Pada fase ini juga mulai muncul rasa takut; takut kehilangan kesempatan untuk melakukan berbagai hal, kehilangan pekerjaan, keluarga, dan lain sebagainya.

3. Bargaining (Tawar menawar)
Seiring dengan berjalannya waktu, pasien dapat menerima diagnosisnya, tetapi denga syarat tertentu. Ada pasien yang siap menerima penyakitnya tapi tidak siap dengan perburukan Kualitas hidup atau bahkan kematian. Ada juga pasien yang ingin sembuh tapi tidak mau minum obat. Proses ini merupakan bagian dari proses penerimaan oleh perasaan hingga saatnya tiba untuk mengambil sikap.

4. Depression (Depresi)
Titik terendah yang dilewati dalam proses penerimaan suatu kabar buruk adalah depresi. Di mana pasien menyadari sepenuhnya apa yang terjadi dengan dirinya dan kemungkinan-kemungkinan di masa depan yang menanti mereka. Pada fase ini juga mereka sadar penuh tentang mengapa hal demikian dapat terjadi pada mereka. Yang membuat keadaan sulit adalah, dalam masa ini, pasien merasa kehilangan seluruh harapan untuk depannya.

5. Acceptance (Penerimaan)
Setelah melewati serangkaian fase, pasien akhirnya mampu menerima kenyataan tentang penyakit yang dialami dengan penuh kesiapan. Siap menghadapi kemi\ungkinan di masa depan, siap mengambil sikap, dan siap menjalani hari baru. Pada fase ini fungsi psikis kembali optimal, begitu pula dengan fungsi sosial.

Berita yang kurang menyenangkan mengenai kondisi kesehatan seseorang merupakan suatu bentuk stressor emosional. Stressor ini bila tidak dikenali dan ditangani, maka dapat menyebabkan permasalahan lanjutan dalam mengikuti pengobatan. Respon pengobatan bisa saja tidak menunjukkan hasil yang optimal karena masalah psikologis terkait penerimaan terhadap suatu kondisi penyakit. Ambil contoh pada pasien HIV; stress emosional dapat dialami sebelum atau sesudah terinfeksi. Hal ini kemudian dapat mengganggu kepatuhannya dalam berobat, sehingga kondisi tubuh semakin turun.

Orang yang hidup dengan masalah penyakit kronis tentunya menghadapi tantangan yang berat., demikian juga orang dengan HIV. Sebagai kondisi medis yang memiliki durasi seumur hidup, orang dengan HIV memiliki kesulitan-kesulitan psikologis yang dapat mempengaruhi proses terapi.

Beberapa masalah psikologis yang dialami oleh kebanyakan orang dengan infeksi HIV adalah:

1. Penerimaan terhadap diagnosis HIV
Secara garis besar, ada 2 tipe orang yang melakukan pemeriksaan HIV; mereka yang merasa dirinya berisiko lalu iseng melakukan tes untuk mengetahui statusnya, dan kelompok orang yang sudah memiliki bibit-bibit kekhawatiran akibat adanya masalah kesehatan yang mungkin ada hubungannya dengan HIV akibat perilaku yang berisiko. Pada kedua kelompok ini, diagnosis HIV positif tetap saja memutarbalikkan dunianya.

Respon emosi yang dapat muncul berupa:
– Syok
– Tidak percaya
– Panik
– Takut
– Rasa bersalah
– Marah
– Putus asa
– Tidak berdaya
– Mati rasa

Penyangkalan terhadap diagnosis HIV bisa bermanfaat untuk memberikan waktu menyerap informasi mengenai apa yang sesungguhnya terjadi. Namun hal ini tidak bisa dibiarkan berlama-lama. Usahakan untuk segera berbicara dengan terapis atau orang yang dipercaya agar dapat menerima perawatan dan dukungan sesegera mungkin.

2. Perubahan pola pikir dan perilaku
Bergulat dengan kecemasan akibat diagnosis HIV tentunya menyebabkan adanya perubahan pola pikir dan perilaku. Sekarang ini, masalah psikologis yang ditimbulkan akibat rasa bersalah ditemukan lebih sering pada mereka yang baru terdiagnosis HIV. Beberapa kali dalam praktek klinik ditemukan pasien yang berpikiran “Kalau nggak mau kena HIV ya mestinya nggak melakukan.”

Perubahan pola pikir dan perilaku merupakan respon untuk mengatur ulang prioritas dalam hidup orang yang positif terinfeksi HIV. Perubahan ini merupakan bentuk penyesuaian dengan status barunya, sehingga bila diperlukan maka bisa dilakukan usaha-usaha untuk mencapai tujuan hidup barunya. Tak kalah penting adalah dukungan baik dari petugas kesehatan maupun lingkungan sekitarnya terhadap orang dengan HIV, sehingga mereka memiliki perubahan pola pikir dan perilaku yang positif.

Perilaku marah merupakan tahapan awal dalam perubahan pola pikir dan perilaku terhadap diagnosis HIV. Meski merupakan sesuatu yang alamiah, tetap saja hal ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Aktifitas fisik seperti berkebun atau olah raga dapat menjadi pilihan untuk melepas amarah. Mengungkapkan perasaan pada kelompok dukungan pun dianggap mampu menyelesaikan rasa marah. Menghindari situasi atau orang yang membuat tidak nyaman pun sah saja untuk dilakukan agar tidak terpancing amarahnya. Ingat pula untuk tidak melarikan diri dengan konsumsi alkohol atau obat-obatan untuk lepas dari kemarahan.

3. Ketidakpastian dalam hidup
Ketidakpastian dapat memicu munculnya depresi dengan tanda berupa:
– Merasa sedih terus menerus
– Perubahan pola tidur
– Perubahan berat badan yang drastis
– Gelisah atau justru mengalami perlambatan dalam bergerak
– Sulit berkonsentrasi dan selalu merasa lelah
– Rasa ingin mengakhiri hidup

Hidup tanpa HIV saja sudah penuh dengan ketidakpastian, sehingga masalah ini menjadi berkali-kali lipat lebih berat untuk orang yang hidup dengan HIV. Adanya ancaman akan Kualitas hidup yang buruk, penerimaan oleh keluarga dan teman terkait stigma di masyarakat, ketakutan akan kematian, hanya sebagian dari tantangan psikologis yang dihadapi.

Salah satu ketidakpastian yang sering diungkapkan orang dengan HIV adalah respon keluarga. Apakah akan menerima atau malah mengisolasi? Setelah keluarga tahu dan menerima, apakah lingkungan bisa menerima keberadaan mereka tanpa rasa menghakimi? Meski pengungkapan status itu penting, hal ini hanya perlu dilakukan kepada pihak-pihak yang dirasa berpotensi memberikan dukungan agar orang dengan HIV tak merasa sendirian dalam menghadapi masa depan.

Being a sexual being is an awesome thing – but like anything in life, there are risks. Be wise and live a healthy happy life!

Foto

Oleh Ian Sastra Wijaya

Artikel terkait lainnya

Website penting terkait HIV

Referensi
www.ncbi.nlm.nih.gov
Prosiding Kuliah Umum FK UI – Peranan Psikiatri pada Penatalaksanaan HIV
hivinsite.ucsf.edu

 

You may also like

Leave a comment