Aku terjaga. Jarum jam di dinding kamar masih menunjukkan pukul 02.00. Badanku terasa sakit semua. Di luar rumah sesekali terdengar suara jangkrik mengusir heningnya malam. Deru kendaraan bermotor sudah tak terdengar lagi. Orang-orang mungkin lebih nyaman melewatkan malam yang dingin di tempat tidur dengan mimpi masing-masing.

Sudah hampir tiga bulan diriku terbaring lemah di kamar tidur. Sejak dokter memvonis tumor di payudaraku sebagai kanker, otomatis kehidupanku pun berubah. Hari-hari terakhir ini badanku terasa lemah dan memaksaku harus minta cuti dari tempat bekerja. Pun begitu aku harus terlihat kuat di depan suami dan anakku.
Iya demi masa depan anakku dan harga diri di mata suami, aku tak boleh menyerah.
Belakangan ini harmonisasi rumah tangga dengan suamiku di ambang kehancuran. Suamiku tak mau tidur bersama lagi dan jarang pulang ke rumah. Alasannya pasti banyak, sibuk di kantorlah atau harus menemani tamu dari pusat yang datang kunjungan dinas.

“Huk.. huk.. huk, ” aku terbatuk-batuk kecil mengusir rasa gatal di tenggorokanku. Kujejakkan kaki dan melangkah meraih obat herbal dari seorang ahli herbal di atas lemari kecil. Malam ini sama seperti malam sebelumnya suamiku tak pulang ke rumah. Ya nasibku berubah drastis sejak dokter menvonis diriku mengidap kanker payudara stadium tiga. Dokter menyarankan ¬†pengangkatan payudaraku agar kankernya tidak menjalar. Tentu saja saran itu bagiku tidak mungkin dilakukan. Aku tak mau kehilangan sebelah payudara. Bagiku itu aset yang sangat berharga bagi seorang wanita. Suamiku juga mendukung langkahku dan kami mencari alternatif pengobatan lain. Oleh seorang kenalan kami dikenalkan ke sebuah pengobatan alternatif yang konon katanya bisa mengobati berbagai penyakit kanker.

Tapi makin lama kanker di payudaraku kian bertambah parah dan menimbulkan bau amis. Suamiku yang tadinya rajin menyemangati hidupku, tak mau tidur seranjang lagi. Yang paling sedih kudengar dari teman sekantor pernah melihat suamiku jalan bareng sama wanita lain di sebuah mall.

Udara di luar sangat dingin, sedingin hatiku. Udara musim hujan. Pelan-pelan langkahku menuju kamar putriku satu-satunya. Putriku semata wayang tertidur pulas dengan buku kuliah di pelukannya. Kupindahkan buku di pelukannya dan menyelimuti tubuh putri kesayanganku ini. Aku tak mau dalam wisuda nanti, dia ditemani suamiku dan wanita bukan ibu kandungnya.

“Bunda, Indah berangkat ke kampus ya. Hari ini ujian semester akhirku, doakan Indah lancar ujiannya, ” kata anakku sambil mencium kedua pipiku dengan sayang. Begitu pagi baru saja menyingsing.

“Ya Nak, selalu bunda doakan kesuksesanmu, ” ujarku sambil menggenggam hangat tangan putriku,tersenyum di tempat tidur.

“Bunda gak apa-apa Indah tinggalin di rumah? “tanya putriku, mengkhawatirkan kondisi fisikku yang lemah.

“Memangnya bundamu ini kelihatan sakit parah sampai mengkhawatirkan begitu? Ayo berangkat ke kampus, nanti keburu telat gak bisa ikut ujian,” kataku berusaha bersandar di dinding ranjang.

“Nanti selepas ujian, Indah segera pulang biar bisa menemani Bunda di rumah, ” hibur putriku dan segera meninggalkanku di kamar

Tak terasa air mataku berlinang menghangati pipiku yang mulai tirus. Dalam hatiku bertekad ingin sembuh. Ingin kulalui hari-hari bersama putriku hingga melihatnya bahagia sampai di pelaminan. Putriku sudah tau prilaku buruk ayahnya yang tak perdulikan kondisi kesehatanku lagi. Untunglah kondisi ekonomiku cukup terjaga sehingga ketergantungan terhadap suami dan orang lain tidak kurisaukan. Bagi putriku, ada dan tidak ada ayahnya di rumah tidak banyak berarti, justru kalau ayahnya di rumah pasti membawa keributan.

Suamiku sebenarnya lelaki bertanggung jawab dan sayang terhadap keluarga. Ia yang tadinya semangat memotivasi diriku berobat ke alternatif lambat laun tak tahan dengan penyakit yang kuderita yang menimbulkan bau amis. Bukannya bertambah baik, justeru kanker di payudaraku tambah parah. Aku pun ikhlas jika suamiku mau menceraikan atau nikah lagi karena kondisiku terbatas melayani kewajibanku sebagai istri.
Namun yang kusesali suamiku tak berani mengutarakan keinginannya itu dan sembunyi-sembunyi dengan wanita lain.

“Lisa kamu sibukkah?” telponku sama sobat kentalku.

“Iya Kak ada apa?” tanyanya.

“Temani kakak ke klinik dokter Yoga bisa? ” pintaku.

“Oh bisa kok Kak, tapi sejam lagi Lisa ke rumah Kakak ya, “ujarnya hangat.

Lisa dan aku tidak terlalu jauh terpaut umur. Kami perantau yang datang dari daerah yang sama. Aku tahu kondisi fisikku tak akan bertahan lama. Namun setidaknya masih punya tenaga untuk hadir di acara wisuda putriku tercinta. Ku tinggalkan pengobatan alternatif dan kembali ke rumah sakit, dikemoterapi. Aku yang tadinya malas makan, kini mulai tak menyisakan makanan di piring. Luka di payudaraku yang tadinya berair dan menimbulkan bau amis kini mulai mengering.

Saat tiba wisuda putriku, tentu saja aku paling semangat. Aku ingin tampil cantik seperti orang sehat umumnya.

“Ea Indah kalah cantik nih dari Bunda, ” goda putriku mengalungkan lengannya di leherku menatap di cermin.

“Loh putrinya bunda tuh yang paling cantik sedunia,” kataku tersenyum melihat wajah putriku yang terpantul di cermin. Bahagia rasanya bisa bercengkerama dengan putriku ini.

“Ayahmu sudah dikasih tau untuk datang di wisuda? “

“Ah males Bun.. Indah gak mau wisuda Indah dihadiri Ayah. Cukup Bunda saja kan sudah cukup, ” putriku sewot mendengar aku menyebut ayahnya.

“Gak boleh begitu Nak. Meski Ia tak pedulikan kita tetap Ia ayahmu,”ucapku sabar.

Namun tetap putriku bersikukuh wisudanya tak mau dihadiri ayahnya. Aku pun tak memaksakan kehendakku lagi, lagian juga suamiku memilih sendiri hidupnya terpisah. Aku cukup bangga putriku semata wayang berprestasi dan mendapatkan nilai cum laude. Semua mata tertuju sama putriku ketika mendapatkan kehormatan pengalungan bunga oleh rektor universitasnya. Tak terasa airmataku meleleh, penuh keharuan. Bangga putriku tumbuh dewasa dan berprestasi.

“Indah selamat ya. Ayah bangga padamu Nak. Maap ayah datang telat, ” suara seorang yang kukenal dekat dan memberi selamat sama putriku. Namun putriku tak mengubrisnya lebih memilih menyalami orang lain yang memberi selamat.

Kulihat ada bulir kecewa di mata suamiku namun pura-pura tak kupedulikan.

“Lihat putrimu yang sudah dewasa seolah tak menganggapmu ada,” ucapku dalam hati, merasa memenangi pertempuran dengan suamiku.

“Selamat ya Bunda. Anak kita luar biasa,”kata suamiku, terharu dan menatapku lama.

“Kamu sangat cantik hari ini ” lanjutnya memuji penampilanku sambil menggenggam tanganku.

“Terimakasih,” ucapku basa-basi dan melepaskan genggaman tangan suamiku.

Tanpa sepengetahuan putriku, aku memberitahu suamiku kalau anaknya akan diwisuda hari ini. Sekalian membuktikan bahwa pilihannya salah telah meninggalkan kami berdua. Dia yang tadinya enggan menyentuhku karena kanker yang kuderita kini balik memujiku.

“Dasar lelaki! “batinku, menggerutu.

“Maafkan ayah sudah meninggalkan Bunda sama Indah selama ini, ” suamiku mencoba menghangatkan suasana kami yang kaku.

Suamiku terlihat lebih tua dari biasanya. Apakah tuntutan pekerjaan yang membuatnya kelihatan letih ataukah wanita simpanannya itu yang tak membuatnya bahagia. Aku seolah tak menggubris pernyataan suamiku sibuk membalas senyuman dan ucapan selamat dari rekan-rekan putriku. Merasa dikucilkan dan bersalah, suamiku pun meninggalkan kami yang masih dalam suasana sukacita.

Dua bulan pasca wisuda putriku, kudengar kabar suamiku masuk rumah sakit. Sekujur tubuhnya membengkak. Antara gengsi dan kasihan, membuatku bimbang  menjenguknya. Gengsi karena penghianatan suamiku namun sebagai lelaki yang pernah kucintai ada rasa iba untuk membesuknya. Lagipula aku tidak mau di sisa usiaku memutuskan tali silaturahim dan kebetulan rumah sakit tempat suamiku dirawat tempatku berobat juga.

Sengaja Indah, putriku tak kuberitahu akan menjenguk ayahnya. Hanya kuberitahu kalau hari ini jadwal rutin kemoterapiku di rumah sakit seperti biasanya. Indah tak ngotot menemaniku karena kemoterapi yang kujalani tak perlu rawat inap.

Perlahan kuketuk pintu kamar VIP tempat suamiku dirawat dan mengucapkan salam. Dari balik kacamata hitam yang kukenakan, sorang wanita muda cantik seusia putriku Indah membukakan pintu.

“Assalamu alaikum. Apa benar ini kamarnya Mas Bram? ” tanyaku pelan.

“Wa alaikum sallam. Iya benar Mbak. Mbak teman kantor suami saya ya? ” ucap wanita muda itu, menelitiku.

“Hmm jadi ini istri muda suamiku ya.. pantas ia meninggalkankan keluarganya, “batinku, perih.

“Saya istrinya sebelum ia menikahimu,”kataku dingin sembari menghampiri tempat tidur suamiku.

“I-i-istri? ” Wanita muda itu kaget tak percaya dan ketakutan.

Aku cuek dengan perubahan sikap wanita muda itu. Perasaanku terenyuh melihat sakit yang dialami suamiku.

“Mas.., “panggilku pelan dan menggenggam lengannya.

Mendengar namanya ada yang memanggil, perlahan kelopak mata suamiku terbuka. Tubuhnya lemah, sekujur tubuhnya nampak bengkak.

“B-bunda? ” sapa suamiku terisak. Aku berusaha tegar tak mau larut dalam kesedihan.

“Iya Mas, aku dengar kamu masuk rumah sakit jadi datang menjenguk, “kataku pelan.

“Maafkan mas, Bund. Seharusnya mas juga bersikap seperti itu sewaktu tempo hari,” ungkap suamiku, tersedu-sedu.

Tentu saja pertemuan kami itu membuat istri muda suamiku tak tahan melihatnya. Ia meninggalkan kami berdua dalam kamar. Dia sendiri tersedu sedan di luar kamar menahan kepiluan, merasa berdosa telah merampas lelaki dari wanita lain.

“Iya saya sudah maafkan Mas. Kamu harus sembuh biar menjadi wali bagi pernikahan anak kita nanti, “kataku menyemangatinya.

“I-Indah sudah mau nikah? ” tanya suamiku terbata-bata.

“Iya Mas, calon suaminya dokter spesialis bedah, “ujarku tersenyum.

“Alhamdulillah, “suamiku matanya berkaca-kaca.

“Saya harus pamit dulu ya Mas. Kamu harus sembuh biar bisa menjadi wali untuk anakmu nanti. Oh ya salam sama istri mudamu, suruh yang rajin merawatmu ya, ” kataku menyembunyikan kepedihan di hati.

“Bunda…, “Suamiku berusaha menahanku pergi namun tak bisa mencegah langkahku meninggalkannya. Kutinggalkan kamar itu dengan perasaan perih dan tanpa sadar mataku panas berair. Untunglah kacamata hitam yang kukenakan menyembunyikan air mata yang nyaris membasahi kedua pipiku.

Tiba-tiba kepalaku terasa sakit dan nafasku menjadi sesak. Badanku terhuyung-huyung melangkah di koridor rumah sakit. Kakiku terasa berat, pandanganku berkabut.

“Ya Allah, Bunda? ” Samar-samar kulihat seorang berpakaian jas putih lengan panjang menangkap badanku yang akan terbanting.

“A-Adit? “ujarku berusaha tetap sadar namun setelah itu mataku gelap.

“Tit…tit…. tit.. tit.. ” Lamat-lamat kudengar mesin sebuah monitor berbunyi di sampingku. Perlahan kubuka kelopak mataku yang terasa berat. Kepalaku sakit luar biasa. Di sampingku seorang yang sangat kusayang duduk terlelap bertumpu di pembaringanku.

“I-Indah,” panggilku lemah berusaha mengusap rambut putriku yang panjang terurai. Entah berapa lama aku tak sadarkan diri dan menempati ruangan berukuran 4×4 meter ini, kamar VVIP. Pasti Adit, kekasih anakku yang memasukkanku di sini. Mungkin ia berpraktek di rumah sakit ini juga.

“Bunda? “Indah tersentak merasa ada belaian lembut di kepalanya. Wajahnya yang cantik seperti masa mudaku terlihat mengkhawatirkan keadaanku. Ada bekas air mata di pipinya.

“Mana Mas Adit nak? “tanyaku berusaha tersenyum.

Indah cepat-cepat mencari ponsel di tas kecilnya dan menelpon. Tak berapa lama kemudian masuk seorang cowok tinggi tampan dengan jas putih lengan panjang di kamar kami.

“Assalamu alaikum Bunda,” sapanya ramah dan menggenggam tanganku hangat. Sorot matanya meneduhkanku dan terasa nyaman.

“Wa alaikum sallam Adit,” jawabku lemah.

Aku menoleh kedua orang yang berada di kamar itu, tersenyum. “Pasangan yang serasi, “batinku, bahagia. Air mataku pun spontan meleleh. Kutaruh tangan Adit di atas tangan anakku dan menaruh telapak tanganku di atasnya. Kedua tangan itu saling menggenggam, hangat.

“Adit.. tolong jagain Indah ya. Bunda nitip Indah bersamamu. Bunda bahagia melihat kedekatan kalian. Bunda restui hubungan kalian hingga ke pernikahan, “ujarku mengumpulkan tenaga memandang wajah kekasih anakku.

“Bundaa.. Bunda harus sembuh biar bisa melihat pernikahan kami, ” Indah menangis memelukku. Tak ingin rasanya melihatku menderita.

“Bunda sudah bahagia nak melihatmu tumbuh dewasa. Tolong maafin ayahmu ya nak, biar bagaimana ia ayahmu,” kataku terengah-engah, beri nasehat.

“Asalkan Bunda lekas sembuh, Indah akan lakukan apa saja demi Bunda.” Putriku tersedu sedan memelukku. Perasaanku sudah ringan, tak ada lagi beban dengan masa lalu yang menghimpitku. Kubelay pelan rambutnya yang hitam hingga aku tertidur.

Langit tak berawan, angin semilir bertiup pelan memainkan dahan pohon kamboja. Seorang lelaki nampak duduk terpekur mengusap batu nisan. Wajahnya sedih, menyiratkan duka yang amat dalam.

“Maafkan mas, Bund.. mas sangat berdosa dan sangat kehilanganmu. Seandainya waktu bisa diputar kembali, mas rela kehilangan satu payudaramu daripada kehilangan dirimu,” lelaki itu tertunduk memeluk batu nisan mendiang istrinya.

Bram baru merasakan kehilangan setelah istri yang ditinggalkannya lalu berpulang ke rahmatullah. Meski ia sudah menikah namun kehangatan dan kebahagiaan yang ia rasakan tak sama seperti sebuah keluarga.

Aku DIMAS

You may also like

Leave a comment