Menstruasi, sebuah istilah yang begitu akrab tapi juga terasa penuh misteri. Meski rutin dialami, nyatanya tak banyak wanita yang paham betul perihal menstruasi. Berapa lama durasi menstruasi yang normal? Apakah nyeri saat menstruasi itu wajar? Apa artinya bila siklus menstruasi berubah?

Yuk kita cek sama-sama jawabannya dalam tulisan berikut…

Apakah menstruasi atau haid itu?

Menstruasi adalah proses keluarnya darah dari dalam rahim. Hal ini terjadi karena luruhnya lapisan dinding rahim bagian dalam yang banyak mengandung pembuluh darah dan sel telur yang tidak dibuahi.

Apakah siklus menstruasi itu?

Siklus menstruasi adalah jarak antara satu menstruasi ke menstruasi berikutnya. Siklus ini biasanya berlangsung kurang lebih 28 hari. Siklus normal menstruasi berlangsung antara 21-35 hari.

Berapa lama menstruasi berlangsung?

Lamanya menstruasi bisa berbeda-beda untuk tiap orang. Secara umum menstruasi berlangsung antara 3 sampai 10 hari. Kebanyakan wanita mendapat menstruasi selama 5-7 hari, tapi ada juga wanita yang mengalaminya hanya 4-6 hari.

Apakah saja jenis kelainan menstruasi?

Menstruasi yang dianggap tidak normal adalah menstruasi yang siklusnya tidak teratur dan/atau memiliki durasi lebih panjang/lebih pendek dari durasi normalnya. Adanya nyeri yang berlebihan saat menstruasi juga merupakan suatu kelainan.

  • Dysmenorrhea

Dysmenorrhea adalah rasa nyeri berlebihan yang dialami saat menstruasi. Nyeri perut memang lazim dialami saat menstruasi, namun ketika sensasi nyeri terasa hebat hingga menghambat aktivitas, maka nyeri ini dianggap sebagai sesuatu yang abnormal. Rasa nyeri bisa menjalar sampai ke pinggul, punggung, dan paha bagian dalam. Selain nyeri, dysmenorrhea juga bisa dirasakan sebagai rasa tertekan di bagian perut.

Terdapat dua macam dysmenorrhea, yakni dysmenorrhea primer dan sekunder. Terjadinya dysmenorrhea primer adalah karena peningkatan hormon prostaglandin yang menimbulkan sensasi kram pada rahim. Dysmenorrhea primer dirasakan sesaat sebelum menstruasi atau saat sedang menstruasi, dan biasa dialami oleh wanita muda. Berbeda dengan yang primer, dysmenorrhea sekunder terjadi karena ada kelainan medis yang mendasari, yakni yang berkaitan dengan organ reproduksi. Contoh kondisi medis yang menimbulkan dysmenorrhea adalah endometriosis, adenomyosis, penyakit radang panggul, dan fibroid (tumor jinak). Kedua kondisi dysmenorrhea dapat diatasi bila penyebabnya diketahui. Oleh karena itu, jangan ragu untuk segera berkonsultasi jika Anda  mengalami nyeri hebat lebih dari 2 hari saat menstruasi.

  • Menorrhagia

Istilah menorrhagia berarti keluarnya darah menstruasi dalam jumlah banyak (heavy periods) atau pemanjangan durasi menstruasi. Wanita yang mengalami menorrhagia biasanya kehilangan darah dalam jumlah banyak dan tidak mampu melakukan aktivitas hariannya. Penyebab menorrhagia tidak selalu jelas, meski dikatakan bahwa kondisi ini dapat diakibatkan oleh ketidakseimbangan hormon, kelainan rahim misalnya mioma rahim, KB, kehamilan dengan komplikasi, kanker etc . Jika seorang wanita mengalami menstruasi selama tujuh hari atau lebih, dan darah yang keluar tidak tertampung lagi oleh pembalut, maka kemungkinan ia mengalami menorrhagia. Darah yang menggumpal juga sebenarnya normal, namun gumpalan darah dalam jumlah besar merupakan tanda heavy periods. Menorrhagia dapat menyebabkan anemia karena banyaknya darah yang hilang, jadi pastikan untuk selalu mengonsumsi zat besi dalam jumlah yang cukup. Daging yang tidak berlemak, sayuran hijau, sereal, oatmeal, kacang kedelai rebus, dan kacang-kacangan lain merupakan sumber zat besi yang baik. Obat-obatan dari dokter mungkin dibutuhkan untuk mengatasi menstruasi yang berlebihan atau anemia, namun pastikan untuk memberi tahu dokter jika Anda sedang berusaha untuk hamil.

  • Oligomenorrhea

Salah satu kelainan menstruasi terkait siklusnya adalah oligomenorrhea. Oligomenorrhea merupakan kondisi menstruasi yang tidak teratur siklusnya. Memang kadang-kadang datangnya tamu bulanan ini tidak dapat diprediksi, dapat maju atau mundur beberapa hari. Ketidakteraturan ini termasuk normal namun hanya bila hal ini terjadi pada tahun pertama wanita mengalami menstruasi dan saat perimenopause (tahun-tahun menjelang menopause). Bila menstruasi Anda datang tanpa dapat diperkirakan, segera lakukan konsultasi ke dokter. Ketidakseimbangan hormon atau kelainan dapat menyebabkan siklus menstruasi yang tidak teratur, akibatnya dapat memengaruhi tingkat kesuburan dan kesempatan wanita untuk hamil.

  • Amenorrhea

Jika wanita tidak mengalami menstruasi selama tiga bulan berturut-turut, ada beberapa kemungkinan. Berbagai kemungkinan penyebab absennya menstruasi adalah wanita tersebut mengalami amenorrhea, perimenopause (saat menjelang menopause), atau menopause. Penyebab amenorrhea yang paling sering adalah kehamilan, namun tak menutup kemungkinan amenorrhea ini disebabkan oleh kondisi medis lain yang berkaitan dengan organ reproduksi wanita. Amenorrhea ada yang sifatnya alami dan ada juga yang berhubungan dengan pengobatan. Contoh penyebab alami amenorrhea adalah kehamilan dan masa menopause. Penggunaan obat-obat tertentu seperti antipsikotik, antihipertensi, dan antialergi dapat menyebabkan absennya menstruasi. Beberapa hal terkait gaya hidup juga memengaruhi amenorrhea, misalnya stres dan aktivitas fisik yang berlebihan. Berat badan yang terlalu rendah juga dapat menyebabkan amenorrhea. Ketidakseimbangan hormon dan kelainan struktur organ reproduksi dapat mengakibatkan amenorrhea. Kondisi-kondisi ini akan berpengaruh terhadap tingkat kesuburan seseorang dan memengaruhi kesempatan untuk memiliki keturunan. Penting untuk selalu menjaga gaya hidup tetap sehat dan melakukan kunjungan rutin ke dokter kebidanan untuk mengecek status kesehatan Anda.

Jadi, selalu ingat untuk memerhatikan menstruasi Anda, dan segera berkonsultasi dengan dokter bila Anda merasa ada yang tidak biasa.

 

Sumber
www.womenshealth.gov
Hestiantoro, Andon dkk. 2012. Masalah Gangguan Haid dan Infertilitas. Jakarta : FKUI.
Fadlun, dkk. 2011. Asuhan Kebidanan Patologis. Jakarta: Salemba Medika.
Rustam, Mochtar. 2009. Sinopsis Obstetri. Edisi 2. Jakarta: EGC.

You may also like

Leave a comment