Nyeri saat berkemih bisa disebabkan oleh berbagai hal, salah satunya adalah infeksi saluran kemih (ISK).  Infeksi saluran kemih dapat terjadi baik di pria maupun wanita dari semua umur, meskipun diketahui bahwa wanita lebih sering menderita ISK. Hampir 60% wanita akan mengalami ISK setidaknya satu kali dalam hidup mereka. Wanita lebih rentan terkena ISK dibanding pria karena pada wanita ukuran saluran kencingnya (uretra) lebih pendek dan lebih dekat dengan anus.  Sepuluh persen wanita yang telah menopause mengalami satu kejadian ISK tiap tahun. Hal ini berkaitan dengan penurunan tingkat estrogen seiring menopause. Berkurangnya estrogen berpengaruh pada hilangnya flora normal di vagina sehingga risiko ISK meningkat.

Infeksi saluran kemih dapat disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme, yang terbanyak adalah bakteri. Bakteri yang paling sering menyebabkan adalah Escherichia coli. Penyebab lain (meskipun jarang ditemukan) adalah jamur, virus, klamidia, parasit, mikobakterium.

Sebelum membahas lebih jauh tentang ISK, ada baiknya kita kenali dulu bagian tubuh yang berhubungan dengan fungsi berkemih (buang air kecil).

Saluran kemih terdiri atas:

  1. Ginjal: Berfungsi untuk menyaring kotoran dan melarutkannya lalu dikeluarkan dalam bentuk urin
  1. Ureter: Berfungsi untuk menyalurkan urin dari ginjal ke kandung kemih.
  1. Kandung kemih: Berfungsi untuk menampung urin sebelum dikeluarkan
  1. Uretra: Berfungsi mengeluarkan urin dari kandung kemih.

Ginjal dan ureter termasuk dalam saluran kemih bagian atas, sedangkan kandung kemih dan uretra termasuk dalam saluran kemih bagian bawah.  Kenapa perlu dibedakan? Karena pembagian Ini berpengaruh pada gejala yang ditimbulkan ketika terjadi ISK.

Pernah merasa ingin selalu buang air kecil atau anyang – anyangan?

Gejala ini merupakan gejala ISK tersering. Gejala lainnya berupa nyeri atau perih saat buang air kecil, warna urin yang keruh, dan bau urin yang menyengat. Gambaran ini khas didapatkan pada ISK bagian bawah, yakni infeksi yang terjadi pada uretra dan kandung kemih. Sementara ISK bagian atas umumnya menimbulkan gejala seperti infeksi sistemik yaitu demam, mual dan muntah, diare, nyeri daerah punggung atau pinggang, lemah, dan lain-lain.

Selain wanita, berikut ini adalah kelompok orang yang lebih berisiko terkena ISK:

  • Penderita batu ginjal dan pria yang mengalami pembengkakan kelenjar prostat – kedua kondisi ini dapat menghalangi pengosongan urin dari kandung kemih. Hal ini menyebabkan urin tertampung lebih lama dan akhirnya bakteri dapat berkembang biak
  • Pria yang tidak disunat juga lebih mudah terkena infeksi saluran kemih karena sisa urin yang tertampung di kulup. Bisa dihindari bila sering dibersihkan dengan baik
  • Pemakai kateter atau alat bantu kencing
  • Cacat lahir – mereka yang memiliki kelainan pada struktur saluran kemihnya sehingga saluran tersebut tidak berfungsi secara baik
  • Kelumpuhan saraf yang menyebabkan gangguan berkemih. Umumnya terjadi pada orang dengan cedera tulang belakang
  • Wanita– hal ini disebabkan jarak uretra dengan anus pada tubuh mereka lebih dekat daripada jarak yang ada pada tubuh pria, sehingga bakteri dari anus bisa lebih mudah untuk masuk ke dalam uretra.
  • Aktifitas seksual. Wanita yang aktif secara seksual juga lebih mudah terkena ISK dibandingkan yang tidak.
  • Wanita yang telah menopause – kurangnya kadar estrogen setelah menopause menyebabkan perubahan pada saluran kemih, sehingga saluran tersebut menjadi rentan terhadap infeksi.
  • Wanita yang menggunakan alat kontrasepsi diafragma – jenis kontrasepsi ini dapat menekan kandung kemih dan mengganggu kinerja pengosongan urin
  • Wanita yang pasangannya menggunakan kondom berlapis spermisida – zat ini dapat menyebabkan iritasi pada vagina sehingga bakteri bisa mudah berkembang biak
  • Wanita yang sedang hamil.
  • Orang-orang dengan ketidakmampuan untuk mengontrol buang air besar – penderita kondisi ini rentan terhadap ISK karena bakteri dari tinja yang mudah masuk ke dalam saluran kemih
  • Penderita diabetes
  • Keadaan yang menyebabkan menurunnya sistem kekebalan tubuh seperti kemoterapi, penderita HIV dengan kekebalan rendah

Kalau mengalami ISK, apa yang harus kita lakukan?

ISK merupakan penyakit yang dapat diobati, maka bila muncul keluhan tentunya kita perlu memeriksakan diri ke dokter. Dokter akan melakukan beberapa hal berikut sebelum memberikan pengobatan:

  • Anamnesis: pemeriksaan berupa wawancara untuk mengetahui gejala, lama keluhan, riwayat penyakit , penggunaan obat
  • Pemeriksaan fisik
  • Tes urin atau urinalisa untuk melihat adanya bakteri, sel darah putih. Kadang tes urin diikuti dengan menentukan jenis bakteri penyebab dan antibiotik yang masih sensitif.
  • Fungsi ginjal untuk melihat kinerja ginjal apakah masih baik atau tidak
  • Pemeriksaan USG
  • CT scan
  • Sistoskopi, yaitu metode pemeriksaan dengan menggunakan selang dan kamera untuk melihat kondisi kandung kemih
  • Intravenous pyelogram (IVP) yaitu  metode pemeriksaan dengan ronsen dan menggunakan zat kontras yang disuntikkan.

Pemeriksaan yang terkesan canggih tentunya dilakukan atas indikasi. Tidak semua kasus ISK memerlukan pemeriksaan yang fantastis, karena sebagian besar kasus ISK adalah kasus yang sederhana dan dapat didiagnosis secara klinis. Setelah menjalani pemeriksaan, dokter akan meresepkan penggunaan obat untuk mengatasi ISK. Selain obat, ada beberapa cara yang dapat dilakukan di rumah untuk mempercepat penyembuhan ISK, yakni:

  • Jangan menahan kencing karena dengan mengosongkan kandung kemih, Anda dapat mencegah bakteri untuk makin berkembang biak.
  • Minum banyak air.
  • Redakan nyeri dengan kompres air hangat.
  • ISK yang tergolong ringan biasanya akan sembuh beberapa hari setelah pengobatan dimulai. Namun jika ISK tergolong parah, terutama hingga menimbulkan komplikasi, penderita perlu dirujuk ke rumah sakit.
  • Mencegah infeksi saluran kemih kambuh

Infeksi saluran kemih merupakan suatu penyakit yang dapat dicegah. Khusus untuk wanita dapat dengan melakukan langkah-langkah sederhana di bawah ini:

  • Minum air putih yang cukup (umumnya 6-8 gelas sehari)
  • Jangan menahan buang air kecil.
  • Selalu buang air kecil sebelum dan setelah berhubungan badan untuk menghilangkan bakteri yang mungkin telah memasuki uretra.
  • Membersihkan kemaluan sebelum dan sesudah melakukan hubungan seks.
  • Basuh area genital dari depan ke belakang.
  • Bersihkan bibir luar vagina dan anus setiap hari.
  • Jangan biasakan menggunakan pembersih organ intim karena bisa menyebabkan iritasi.
  • Jaga daerah kemaluan tetap kering dengan mengenakan pakaian dari bahan yang menyerap keringat dan yang longgar agar sirkulasi baik
  • Hindari celana ketat atau busana berbahan nilon karena dapat membuat kulit menjadi lembap dan menimbulkan bakteri.
  • Pertimbangkan untuk tidak memilih diafragma, krim spermisida, atau kondom yang tidak berpelumas sebagai alat kontrasepsi, karena bahan-bahan tersebut dapat menyebabkan iritasi. Konsultasikan dengan dokter guna memilih alat kontrasepsi lain yang cocok dengan Anda.

Rujukan:

  1. (Jurnal e-Biomedik (eBM), Volume 1, Nomor 1, Maret 2013)
  2. IDSA guideline
  3. Medscape

You may also like

Leave a comment