Pasangan Saya HIV Positif, Bagaimana Saya Meresponnya?

Setiap orang memiliki daftar hal yang mereka takutkan atau mereka anggap sebagai mimpi buruk. Bagi sebagian besar orang, mendengar bahwa pasangannya terinfeksi HIV nampaknya menjadi salah satu hal di dalam daftar tersebut. Walaupun tidak ada seorang pun yang mengharapkan HIV terjadi orang yang mereka sayangi, terkadang hal ini tidak terelakkan dan perlu kita hadapi. Pada saat itu, muncullah beberapa pikiran, “Apa yang harus saya lakukan?”; “Jangan-jangan saya sudah tertular!”; “Apakah saya harus meninggalkannya?”

Kekhawatiran tersebut sangatlah wajar, akan tetapi satu yang perlu diingat: HIV bukanlah akhir dari dunia Anda, dan dunianya. Pada kenyataannya, orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang mengikuti pengobatan (terapi antiretroviral atau ART) memiliki angka harapan hidup yang hampir sama dengan orang tanpa HIV. Selain itu, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan sebagai orang yang bijak dalam menyikapi status HIV positif pasangan Anda.

  1. Mengambil waktu untuk memproses perasaan pribadi

Sangat penting bagi kita untuk mampu memproses perasaan pribadi yang kita rasakan terlebih ketika baru mengetahui kabar yang mengagetkan, seperti kabar bahwa pasangan kita terinfeksi HIV. Apakah yang Anda rasakan? Sedih, kaget, marah, atau terpukul? Berikan waktu bagi Anda untuk merasakan perasaan tersebut. Ambillah waktu untuk sendiri sejenak, jika memang itu yang Anda butuhkan. Katakanlah secara jujur kepada pasangan bahwa Anda membutuhkan waktu untuk memproses apa yang Anda rasakan.

  1. Membuat diri Anda familiar dengan HIV

Langkah berikutnya yang dapat membantu menjawab kekhawatiran Anda adalah dengan membuat diri Anda sendiri familiar dengan duduk permasalahannya, yaitu dengan mengenal HIV. HIV adalah virus yang melemahkan sistem kekebalan tubuh sehingga kemampuannya untuk memerangi penyakit menjadi berkurang. HIV tidak sama dengan AIDS, namun bisa berkembang menjadi penyakit AIDS apabila virus yang ada telah berhasil merusak sistem kekebalan tubuh. HIV hanya bisa menular lewat lima cairan tubuh, yaitu darah, air mani, cairan vagina (bukan air seni), cairan rectal (cairan yang bisa keluar dari dubur saat terjadi anal sex), dan air susu ibu. HIV tidak menular lewat air liur, keringat, air seni, sehingga Anda tidak bisa tertular HIV lewat bersalaman, berbagi peralatan makan, atau berciuman dengan orang yang terinfeksi HIV.

  1. Tahu bagaimana cara melindungi diri dari pasangan yang terinfeksi HIV

Terdapat beberapa cara untuk melindungi diri, dua di antaranya yang paling efektif adalah dengan menggunakan kondom setiap kali melakukan hubungan seksual dengan pasangan atau mengonsumsi PrEP (Pre-Exposure Prophylaxis). PrEP adalah pil yang dapat dikonsumsi setiap hari untuk melindungi diri dari penularan HIV hingga tingkat kesuksesan sampai 99%. Namun, saat ini PrEP belum dapat diakses di Indonesia sehingga penggunaan kondom masih menjadi cara yang paling efektif dan memungkinkan untuk melindungi diri dari HIV.

  1. Memberikan dukungan kepada pasangan

Hal paling utama yang dapat dilakukan untuk membantu pasangan menghadapi status HIV positifnya yang baru adalah dengan memberikan dukungan kepada mereka. Komunikasikan dan tanyakan kepada pasangan apa yang ia butuhkan dari Anda. Apabila belum yakin akan apa yang ia inginkan, berikanlah ruang dan waktu baginya untuk menentukannya.

Hal lain yang juga bisa dilakukan adalah dengan membantu mereka mendapatkan treatment yang ia butuhkan, yaitu dengan berkonsultasi kepada dokter dan mengonsumsi obat antiretroviral ARV. Dengan mengonsumsi ARV secara teratur sesuai anjuran dokter, jumlah virus di dalam darah menjadi berkurang, bahkan dapat menjadi tidak terdeteksi (walaupun tidak benar-benar hilang). Dalam kondisi virus yang sudah tidak terdeteksi ini, kemungkinannya untuk menularkan HIV kepada pasangan menjadi sangatlah kecil dan ia pun bisa beraktivitas selayaknya orang yang HIV negatif.

Pada akhirnya, bagi orang yang sudah memiliki pasangan, status HIV positif adalah sesuatu yang akan memberikan dampak bagi kedua belah pihak dan dapat mengubah keseharian/kebiasaan di dalam hubungan. Komunikasi yang sehat dan positif merupakan salah satu kunci dari menghadapi proses transisi yang menantang ini. Apabila ada kekhawatiran atau permasalahan khusus yang muncul dalam prosesnya–misalnya kehilangan kepercayaan kepada pasangan atau kualitas hubungan yang semakin menurun–ada baiknya mempertimbangkan untuk mencari bantuan profesional dari psikolog. Diharapkan bantuan ini dapat membantu kedua belah pihak dalam menyelesaikan kekhawatiran dan konflik dalam hubungan yang terjadi, sehingga keduanya mampu menentukan langkah-langkah terbaik dalam hubungan mereka.

 

Referensi:

Grant, R. M., Lama, J. R., Anderson, P. L., McMahan, V., Liu, A. Y., Vargas, L., . . . Glidden, D. V. (2010). Preexposure chemoprophylaxis for HIV prevention in men who have sex with men. The New England Journal of Medicine, 363(27), 2587-2599.

How do you get HIV? (2017). Avert.org. Ditelusuri pada 25 Agustus 2017 dari https://www.avert.org/hiv-transmission-prevention/how-you-get-hiv.

Legg, T. J. (2016). HIV vs. AIDS: What’s the difference? Healthline. Ditelusuri pada 25 Agustus 2017 dari http://www.healthline.com/health/hiv-aids/hiv-vs-aids#1.

 

 

 

You may also like

Leave a comment