Apa sih manfaat tes HIV? Emang perlu cari info tentang tes HIV?

Menjalani tes HIV membutuhkan keberanian dari diri seseorang.

Banyak orang membutuhkan waktu ekstra untuk mempersiapkan diri sebelum melakukan tes HIV. Bayangan terhadap hasil tes yang mungkin tidak sesuai dengan keinginannya, bisa membuat nyali menciut. Untuk itu, selama masa masa persiapan orang biasanya akan mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai proses dan jenis-jenis tes HIV. Memersiapkan diri dengan mencari informasi adalah hal yang baik, meski ada risiko akan menjadi bumerang setelah banyak membaca. Dengan mencari informasi, seseorang dapat menjadi lebih siap atau justru semakin bingung karena terlalu banyak informasi yang diolah.
Jadi, perlu nggak sih cari info tentang tes HIV? Tetap perlu. Di zaman internet kayak gini, pilihan informasi ada sejuta satu. Nah triknya adalah memilih sumber bacaan yang terpercaya, supaya informasi yang didapat mencerahkan. Berikut ini adalah informasi simpel mengenai HIV yang dijamin bisa jadi rujukan kamu sebelum tes HIV.

Jenis pemeriksaan HIV itu apa saja?

Berdasarkan yang Menginisiasi. Secara umum pemeriksaan HIV dibagi menjadi dua berdasarkan siapa yang berinisiatif, bisa dari pasiennya sendiri atau malah diusulkan oleh tenaga kesehatan. Pemeriksaan HIV yang dilakukan atas dasar keinginan pasien secara sadar dan sukarela disebut dengan VCT (Voluntary Counseling and Testing), sedangkan pemeriksaan HIV yang diminta oleh tenaga kesehatan disebut dengan PITC (Provider-Initiated Testing and Counseling). Tenaga kesehatan akan meminta atas indikasi kebutuhan pasien yang dinilai penting.

Pada VCT, umumya pasien datang sendiri ke layanan kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan HIV. Pasien kemudian akan dilayani oleh seorang konselor yang akan melakukan pengumpulan data dan menjelaskan segala sesuatu yang perlu diketahui mengenai HIV. Proses ini disebut sebagai konseling pre-tes. Kemudian setelah dilakukan konseling, dan pasiennya setuju untuk tes, barulah dilakukan pemeriksaan HIV. Begitu hasil pemeriksaan keluar, konselor akan kembali dengan membawa hasil pemeriksaan yang akan dibaca oleh pasien bersama dengan konselor. Konselor siap melayani konsultasi untuk menjelaskan hasil pemeriksaan, menyampaikan rencana ataupun saran untuk proses lanjutan, serta menjawab bila ada pertanyaan dari pasien. Proses konsultasi ini disebut dengan konseling pasca-tes.

PITC merupakan pemeriksaan HIV yang inisiatifnya datang dari tenaga kesehatan. Pasien datang ke layanan kesehatan dengan keluhan penyakit tertentu, namun setelah dilakukan pemeriksaan pasien, didapatkan indikasi yang mengarah ke infeksi HIV. Oleh karena itu, tenaga medis boleh meminta pasien untuk melakukan pemeriksaan HIV. Pada PITC, konseling tetap dilakukan untuk menyiapkan pasien menghadapi kemungkinan terinfeksi HIV.

Apa sih artinya Masa Jendela (Window Period)?

Ketika virus HIV masuk ke dalam tubuh seseorang, maka tubuh akan melakukan suatu proses untuk mengenali virus HIV yang dianggap sebagai benda asing oleh tubuh. Virus HIV akan dikenali sebagai antigen sehingga tubuh akan mulai usaha untuk melawannya. Tubuh akan membentuk suatu pola pertahanan dengan membentuk antibodi.

Proses pembentukan antibodi terjadi selama periode waktu tertentu, dan dapat dideteksi dalam tubuh seseorang sejak 2 minggu hingga 3 bulan dari saat paparan virus HIV. Periode inilah yang disebut dengan periode jendela (window period), yang berarti waktu yang diperlukan sampai antibodi terbentuk dan terdeteksi. Tes dengan hasil non reaktif yang dilakukan pada masa jendela masih perlu dikonfirmasi setelahnya untuk mendapatkan hasil yang benar-benar valid.

Penggunaan alat dengan metode dan/atau generasi yang berbeda juga bisa memberikan bacaan hasil yang berbeda pula. Ada alat yang memakai metode tertentu sehingga mampu mendeteksi antibodi di minggu-minggu awal. Usahakan untuk menanyakan pada tenaga medis yang memeriksa mengenai alat yang digunakan, supaya jelas betul mengenai valid tidaknya pemeriksaan yang dilakukan.

Jenis berdasarkan kebutuhan survei, skrining dan diagnosis?

Kepentingan survei, skrining rutin, dan diagnosis
Terdapat beberapa kepentingan yang mendasari dilakukannya pemeriksaan HIV, yakni untuk data survei, skrining rutin dan diagnosis. Pemeriksaan HIV survei dilakukan untuk pemantauan dan pelaporan kasus guna menghitung angka kejadian atau prevalensi HIV. Skrining rutin HIV dilakukan untuk mengetahui gambaran status HIV seseorang. Skrining rutin dapat dilakukan pada pemeriksaan klinik mobile, transfusi dan donor darah, serta donor organ. Sementara pemeriksaan HIV untuk diagnosis dilakukan untuk menegakkan status HIV seseorang. Data dari skrining rutin yang dilakukan dapat menjadi dasar acuan untuk penegakan diagnosis, meskipun mungkin dilakukan pemeriksaan ulang atau dilakukan pemeriksaan tambahan. Kemudian hasil pemeriksaan skrining rutin atau laboratorium yang memberikan hasil reaktif atau non-reaktif dapat diinterpretasikan oleh tenaga kesehatan (dalam hal ini dokter) sebagai positif atau negatif infeksi HIV.

Tes Antibodi HIV untuk kepentingan diagnosa?

Hingga saat ini, khususnya di Indonesia, gold-standard pemeriksaan HIV adalah dengan melakukan tes antibodi HIV. Ada berbagai cara untuk melakukan pemeriksaan ini, meskipun dengan prinsip kerja yang sama, yakni dengan mengambil sampel darah sebagai bahan pemeriksaaan untuk menentukan apakah di dalam tubuh seseorang telah terbentuk antibodi yang spesifik melawan HIV. Alat tes HIV dilengkapi dengean reagen/cairan khusus yang akan bereaksi terhadap antibodi HIV. Bila dalam darah terdapat antibodi HIV, maka darah akan membentuk suatu reaksi khusus sehingga hasil pemeriksaan akan terbaca reaktif. Apabila tidak terdapat antibodi HIV, maka hasil pemeriksaan tidak akan menunjukkan adanya reaksi apapun, sehingga hasil bacaan adalah non-reaktif.

Setelah membaca hasil tes HIV seseorang mungkin akan bingung melihat istilah reaktif/non-reaktif, dan melanjutkan dengan bertanya “Jadi saya positif atau negatif HIV-nya?”. Tes darah yang dilakukan untuk mendeteksi HIV menggunakan istilah reaktif/non reaktif berdasarkan ada tidaknya reaksi darah dengan alat pemeriksaan. Tentunya hal ini juga perlu mempertimbangkan aspek lain infeksi HIV seperti faktor risiko, gejala, maupun keluhan yang dimiliki seseorang. Tes HIV bertujuan untuk mengkonfirmasi hal-hal tersebut.

Jenis pemeriksaan tes Antibodi HIV?

Jenis pemeriksaan antibodi HIV cukup beragam, mulai dari yang proses pengerjaannya rumit dan membutuhkan waktu seperti tes ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay), ELFA (Enzyme-Linked Fluorescent Assay), CMIA (Chemiluminescent Microparticle Immuno Assay), Western Blot, hingga yang prosesnya ringkas dan cepat atau dikenal dengan rapid test. Seluruh jenis pemeriksaan ini memiliki nilai sensitivitas dan spesifitas yang tinggi sesuai standar yang berlaku. Akurasi pemeriksaan ini tidak perlu diragukan, selama pemeriksaan HIV dilakukan setelah melewati masa jendela.

Rapid test HIV menggunakan metode kualitatif, artinya hanya melihat ada tidaknya reaksi antibodi dengan alat periksa. Sementara tes lainnya seperti ELISA, hasil tes dengan bacaan reaktif/non reaktif diikuti dengan keluarnya nilai tertentu. Sering orang beranggapan bahwa hasil non-reaktif harusnya bernilai nol, dan angka yang muncul pada nilai hasil pemeriksaan berarti sudah pernah terpapar oleh HIV sekalipun masih masuk dalam rentang non-reaktif. Pengertian ini tidaklah tepat, karena nilai tersebut secara teknis adalah jumlah antigen dan antibodi HIV yang digunakan sebagai reagen tes laboratorium yang dapat terbaca oleh alat tersebut, dan setiap alat mempunyai rentang nilai tertentu. Apabila pada sampel darah dari pasien memiliki antibodi HIV, maka nilai ini akan meningkat mencapai batasan nilai reaktif alat tersebut, dan sebaliknya jika tidak, maka nilai akan berada dalam rentang non-reaktif.

Apa perbedaan Tes Antibodi HIV dan Tes CD4 dan Viral Load?

Kalau tes antibodi HIV bertujuan untuk mengetahui adanya infeksi HIV, maka tes CD4 dan viral load dilakukan untuk mengetahui derajat infeksi HIV dalam tubuh seseorang. Tes antibodi HIV memiliki makna untuk diagnosis, sementara tes CD4 dan viral load bermakna untuk evaluasi pengobatan.

HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, yaitu sel darah putih. Sel darah putih memiliki beberapa komponen, salah satunya adalah limfosit. Di dalam limfosit, ada sel yang namanya CD4. Virus HIV akan menghancurkan sel darah putih sehingga jumlahnya menjadi sedikit, terutama komponen limfosit dan CD4.
Selain menghitung jumlah sel darah putih yang masih ada, derajat infeksi juga diukur menggunakan tes viral load (HIV-RNA). Seiring dengan berkembangnya infeksi HIV, jumlah CD4 akan semakin menurun dan jumlah virus dalam tubuh akan meningkat. Tes ini berguna untuk mengukur berapa banyak virus HIV yang ada dalam tubuh seseorang.
Kedua tes ini dilakukan pada fase awal sebelum orang dengan HIV mendapat pengobatan antiretroviral (ARV), dan selanjutnya dilakukan berkala untuk memantau efek pengobatan. Pada orang yang terinfeksi HIV dan belum mendapatkan terapi ARV, umumnya jumlah CD4 akan berada dibawah nilai normal, dan viral load akan menghasilkan angka yang tinggi. Setelah mendapat terapi ARV, jumlah ini idealnya akan berbalik keadaan, yaitu jumlah CD4 akan naik hingga ke rentang nilai normal, dan viral load akan turun bahkan hingga ke dalam kategori tidak terdeteksi.

Pemeriksaan viral load memiliki variasi keterbatasan dalam mendeteksi jumlah virus dalam darah, antara 50 hingga 1000 kopi/ml darah bergantung jenis alat yang digunakan. Jika jumlah virus kurang dari nilai standar alat yang digunakan maka akan tertera sebagai tidak terdeteksi. Karena itu meskipun bacaan tesnya tak terdeteksi, bukan berarti orang tersebut sudah betul-betul bebas dari virus HIV.

Pemantauan efek pengobatan ARV yang melihat perubahan jumlah CD4 dan viral load, menjadi dasar untuk evaluasi pengobatan. Jumlah CD4 yang mencapai rentang nilai normal disertai viral load sudah tidak terdeteksi merupakan target pengobatan yang ingin dicapai. Selanjutnya adalah berupaya untuk memertahankan kondisi ini dengan tetap mengonsumsi ARV, dan bila target belum tercapai maka perlu mengkaji kemungkinan penyebab dan solusinya.
Selain bermakna untuk evaluasi pengobatan, pengukuran jumlah CD4 juga berguna bagi dokter untuk menentukan terapi yang dibutuhkan oleh pasien HIV. Dokter akan memutuskan model pengobatan apakah cukup dengan pemberian ARV atau sudah masuk dalam kategori yang membutuhkan pencegahan infeksi oportunistik. Angka CD4 yang rendah menunjukkan bahwa seseorang rentan mengalami infeksi tambahan, sehingga dianggap perlu mendapatkan antibiotik untuk pencegahan.

Perlukah tes tambahan lainnya?

Sebelum menerima terapi ARV, pasien yang baru terdeteksi HIV akan diminta melakukan pemeriksaan darah untuk mengukur kadar CD4 dan viral load, pemeriksaan darah lengkap (Hb, eritrosit, trombosit, dan leukosit), fungsi hati dan ginjal, kolesterol serta gula darah. Pasien juga perlu melakukan pemeriksaan penyaring untuk beberapa penyakit yang paling sering menjadi infeksi penyerta pada orang dengan HIV misalnya tuberculosis (TB) dan hepatitis. Infeksi penyerta atau disebut juga ko-infeksi adalah penyakit infeksi yang muncul karena penurunan daya tahan tubuh seseorang akibat HIV. Pemeriksaan tersebut dilakukan sebagai bahan pertimbangan pemberian ARV yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan tubuh pasien.

Tuberkulosis sering didapati pada orang dengan HIV terkait dengan kondisi daya tahan tubuh yang rendah dan penyebaran kuman TB yang banyak didapati di daerah beriklim tropis seperti Indonesia. Gejalanya mungkin tampak kurang jelas dibanding kasus TB yang biasa, sehingga skrining ko-infeksi TB-HIV menjadi penting. Selain karena sering terjadi, infeksi TB pada HIV juga akan memengaruhi model pengobatan. Bila ditemukan kasus TB pada HIV, maka sebelum memulai ARV, orang tersebut perlu mendapat pengobatan TB awal selama 2 minggu baru diikuti dengan obat ARV.

Infeksi lain yang perlu diwaspadai adalah hepatitis B dan C karena keduanya juga ditularkan melalui cairan tubuh (darah) dan kontak seksual. Sama seperti HIV, virus yang menyebabkan hepatitis B dan C dapat menyebar melalui penggunaan jarum yang tidak steril. Karena gejalanya yang tidak jelas dan cenderung berjalan lambat, skrining untuk deteksi dini Hepatitis B dan C juga disarankan demi kebaikan pasien.

Apa sich manfaat tes HIV?

Banyak manfaat dari tes HIV dini. Deteksi dini HIV adalah salah satu kunci dari pencegahan infeksi HIV. Selain mendapatkan informasi dari berbagai media, tes HIV yang melalui konseling akan lebih membantu kita mendapatkan informasi yang lebih jelas lagi tentang manfaat tes HIV serta akurasi ataupun jenis HIV yang dilakukan, dan hal ini bisa disebarkan pada lingkungan kita. Pengetahuan yang cukup akan membuat kita lebih waspada menjaga kesehatan diri dan menjauhkan kita dari stigma. Gunakan kesempatan untuk bertanya kepada konselor dan tenaga medis yang tersedia, sehingga kekuatiran dan kebingungan anda teratasi. Memberanikan diri melakukan tes HIV bukanlah keputusan yang mudah dibuat, namun percayalah dengan melakukan pemeriksaan ini kita sudah berada pada langkah yang tepat demi kesehatan kita dan pasangan.

Tes HIV dini sangat bermanfaat, karena saat ini infeksi HIV adalah kondisi yang dapat kita kendalikan. Di Indonesia sudah tersedia layanan medis dan obat yang disubsidi oleh pemerintah guna memperbaiki dan mempertahankan aktivitas kehidupan orang yang terinfeksi HIV. Selain itu sudah semakin banyak dari pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan kita yang semakin ramah dan terlatih dalam memberikan pelayanan tes HIV dan perawatan untuk orang dengan HIV dan AIDS (ODHA). Dengan tes HIV dini, maka kekuatiran dan ketakutan kita bisa teratasi, dan tidak terus berlanjut.

Mari bersama kita lawan stigma dan diskriminasi terhadap HIV dan AIDS. Bersama kita lindungi diri dan kendalikan infeksi HIV. Bila Anda merasa berisko atau mempunyai banyak pertanyaan tentang HIV? Segera konsultasikan dan lakukan tes HIV sedini mungkin. Jangan ditunda sahabat !

Artikel terkait lainnya

Website penting terkait HIV

You may also like

One comment

  • Yanthie December 16, 2016   Reply →

    Teman saya cek HIV dengan metode pertama hasil Reaktif 1,59. sedangkan dengan dua metode berbeda hasil negatif.dengan hasil seperti ini masih di katakan Neg untuk HIV. yg ingin saya tanyakan apakah nantinya jumlah titer yg Reaktif itu akan bertambah seiring dengan berjalan nya waktu?dan apakah akan menjadi Pos HIV?
    TK

Leave a comment