Ketika sedang mencari sebuah referensi sebuah artikel, saya tidak sengaja melihat sebuah poster film. Judul maupun gambar di poster tersebut sebenarnya tidak terlalu menarik namun komentar mereka yang sudah melihatnya membuat saya sedikit penasaran mengapa dari begitu banyak orang berkomentar negatif, ada satu orang yang berkata “Kalian semua tidak tahu ini adalah Stockholm Syndrome. Jika kalian mencintai pasangan yang abusive, sadar atau tidak, bisa jadi kalian seperti tokoh di film itu.”

Film yang berjudul Stockholm, Pennsylvania, menceritakan tentang seorang anak yang lebih mencintai penculiknya yang telah menahannya selama 17 tahun dibandingkan dengan keluarga kandungnya.

Saya teringat sebuah buku yang berjudul House of Horrors yang ditulis oleh Nigel Cawthorne. Dalam buku tersebut diceritakan Josef Fritzl, seorang pria yang tampak mencintai keluarganya, telah memaksa putrinya yang berumur 18 tahun, Elisabeth, agar masuk ke ruang bawah tanah rumah keluarga mereka. Kemudian dia membius dan merantai gadis itu di penjara tak berjendela yang dibangunnya selama bertahun-tahun. Selama 24 tahun berikutnya, Josef menawan putrinya dalam kondisi yang tak terbayangkan dan berkali-kali memerkosanya. Tujuh anak lahir dari hubungan menyimpang itu. Tiga ditawan bersama ibu mereka, tak pernah melihat cahaya matahari sampai mereka dibebaskan pada bulan April 2008.

Elisabeth bukan tidak pernah memiliki kesempatan untuk kabur sehingga ia tetap tinggal. Namun dia merasa kuatir apabila dia keluar nanti tidak ada yang memberinya perlindungan, makanan untuk dirinya dan anak yang tinggal dengannya. Bahkan setelah dibebaskan oleh petugas kepolisian pun Elisabeth masih merasa tidak aman dan ingin tinggal di rumahnya. Dia membutuhkan penanganan serius oleh psikiater dan psikolog untuk pemulihannya.

Saya pernah berfikir bahwa Stockholm Syndrome hanya dialami oleh orang yang keadaan sosial dan ekonomi bergantung pada orang lain. Sampai suatu saat saya mendengar kisah teman saya. Seorang perempuan cantik, mempunyai penghasilan yang cukup bagus. Setiap orang melihat dia wanita yang sangat beruntung. Terlebih ketika memiliki pasangan yang terlihat sempurna. Namun hidupnya terbelenggu. Hampir tiap jam dia harus memberi laporan posisi terakhir pada pasangannya. Harus menceritakan kembali apa yang dia perbincangkan dengan temannya. Berat badannya sangat meningkat karena pasangannya memaksanya untuk makan. Pasangannya ingin dia tidak terlihat menarik bagi orang lain.

Pernah suatu kali teman saya melakukan suatu kesalahan kecil namun dianggap fatal oleh pasangannya sehingga ia dilarang keluar dari kamarnya dan mengalami kekerasan secara fisik. Namun ketika banyak orang berusaha menolongnya dan melaporkan si pasangan, teman saya justru melindunginya. Beberapa kali ia disarankan untuk meninggalkan pasangan yang sangat abusive namun dia merasa apa yang dialami merupakan bentuk kasih sayang pasangannya. Dia merasa pasangannya selalu melimpahinya dengan kasih sayang dan perhatian walau terkadang kasar.

Memang pada akhirnya teman saya bisa terlepas dari pasangannya. Namun penanganannya memerlukan waktu yang panjang dan menempuh perjalanan yang rumit. Walaupun peristiwa tersebut sudah berlalu lebih dari 5 tahun namun masih menjadi pengalaman yang traumatik bagi teman saya itu.

READ MORE

Adyana Esti, dr

You may also like

Leave a comment