Tak banyak yang tahu kalau sifilis adalah infeksi menular seksual (IMS) yang dapat menyebabkan komplikasi jangka panjang, bahkan kematian bila tidak ditangani secara tepat. Sifilis banyak dikhawatirkan oleh pasien yang datang berkunjung ke klinik. Biasanya mereka menanyakan tentang tanda-tanda sifilis dan apakah penyakit ini bisa disembuhkan.

Sifilis merupakan salah satu IMS yang disebabkan oleh bakteri bernama Treponema pallidum. Setelah terinfeksi oleh bakteri ini, biasanya butuh waktu sampai 21 hari hingga munculnya gejala. Namun ada juga kejadian yang gejalanya muncul dalam rentang 10-90 hari setelah infeksi. Cara penularan sifilis adalah melalui kontak langsung dengan luka sifilis. Bentuknya tampak seperti sariawan yang terdapat di kelamin, vagina, anus, atau rectum. Luka sifilis juga bisa lho muncul di bibir dan mulut. Maka itu, penularannya bisa terjadi ketika kontak seks secara vaginal, anal, atau oral. Tak hanya itu, sifilis juga bisa ditularkan oleh ibu yang sedang hamil kepada janin yang dikandungnya.

Masalahmya adalah, orang seringkali tidak sadar bila ia terinfeksi sifilis. Hal ini karena dalam ilmu kedokteran, sifilis dikenal sebagai “The Great Pretender” atau Penyamar yang Hebat. Mengapa demikian? Karena gejala yang muncul, selain luka sifilis, dapat menyerupai gejala penyakit lain. Sifilis pun biasanya mengikuti sebuah pola progresi dari fase awal infeksi menuju fase yang berlangsung bertahun-tahun lamanya.

Sifilis Primer

Fase awal penyakit ini ditandai dengan munculnya luka sifilis (chancre) tunggal. Luka sifilis juga bisa saja muncul lebih dari satu. Bentuknya seperti sariawan; bulat, berbatas tegas, dan tidak terasa nyeri. Lokasi luka sifilis merupakan pertanda tempat masuknya infeksi sifilis ke dalam tubuh. Setelah muncul luka sifilis, dalam 3-6 minggu lukanya hilang, baik dengan ataupun tanpa pengobatan. Nah, yang tanpa pengobatan akan berlanjut infeksinya menjadi infeksi sifilis sekunder.

Sifilis Sekunder

Kalau luka sifilis adalah penanda sifilis primer, maka sifilis sekunder ditandai dengan munculnya ruam di kulit dan/atau adanya luka di membrane mukosa (sariawan di selaput merah muda mulut, vagina, anus). Ruam kulit ini tidak menyebabkan gatal, namun ada kekhasannya. Ruam yang kasar, merah, atau bintik coklat kemerahan yang terdapat di telapak tangan maupun telapak kaki. Yang ksuka membuat bingung, ruam ini bisa muncul di bagian tubuh yang lain dan menyerupai penyakit kulit lain, sehingga agak sulit untuk menentukan diagnosa sifilisnya. Gejala umum sifilis sekunder yang lain adalah demam, pembesaran kelenjar getah bening, nyeri tenggorokan, rambut rontok di area tertentu, nyeri kepala, berat badan turun, dan rasa lelah. Lagi-lagi, semua gejala ini akan hilang meski tanpa pengobatan. Nah, tanpa pengobatan tentunya sifilis akan lanjut menjadi sifilis laten.

Sifilis Laten & Late

Pasien datang biasanya sudah dalam fase ini. Sifilis baru ketahuan karena dilakukan skrining untuk IMS. Pada fase laten, sifilis merupakan keadaan yang tersembunyi (hidden), di mana pasien tidak menunjukkan gejkala, tapi infeksinya tetap ada dalam tubuh. Fasel laten bisa bertahan hingga bertahun-tahun. Bila terus tidak diobati, maka 10-20 tahun berikutnya, orang dengan sifilis laten akan masuk ke fase late syphilis. Bahayanya karena fase ini dapat merusak organ dalam, menyebabkan kelumpuhan, kebutaan, dan demensia (pikun). Saking seriusnya, sifilis fase ini dapat berakhir dengan kematian.

Bagaimana caranya seseorang tahu bila ia terinfeksi sifilis? Bagi masyarakat, untuk bisa mengenali luka sifilis adalah sesuatu yang sulit. Apalagi lokasinya sering tersembunyi. Maka bila merasa berisiko, bisa datang ke klinik untuk memeriksakan diri dan mendapat skrining untuk IMS. Metode deteksi sifilis adalah dengan tes darah; untuk treponema maupun non-treponema.

Yang termasuk tes non treponema adalah VDRL atau RPR. Metode ini digunakan untuk diagnosa cepat karena mudah dilakukan dan murah. Kelemahannya, tes ini tidak spesifik untuk sifilis dan mungkin memberikan hasil positif palsu. Maka, untuk orang dengan hasil tes non-treponema yang positif harus dikonfirmasi dengan tes treponema.

Tes treponema mendeteksi antibodi yang spesifik untuk sifilis, dan dapat bertahan hingga seumur hidup meski orang tersebut sudah pernah mendapat pengobatan sifilis. Kalau melakukan tes treponema dan hasilnya positif, maka tes non-treponema tetap perlu dilakukan untuk menghitung titer. Hal ini diperlukan untuk mengonfirmasi diagnosis dan menetukan pengelolaan selanjutnya.

Bisakah sifilis disembuhkan? Jawabannya bisa, meski kerusakan yang sudah terjadi tak bisa diperbaiki dan akan meninggalkan jejak seumur hidup dalam darah sebagai antibodi treponema. Sifilis primer, sekunder, dan laten yang awal mudah diobati dengan suntikan antibiotik benzatin penisilin G. bila penyakit sifilis sudah sampai ke late latent, maka diperlukan suntikan hingga 3 kali dengan selang 1 minggu. Dengan penisilin, bakteri sifilis akan mati dan mampu mencegah kerusakan di masa depan.

Seperti disinggung di atas, bagi mereka yang berisiko hendaknya melakukan tes sifilis. Termasuk dalam kelompok ini adalah ibu hamil, populasi kunci (LSL, narapidana, PSK), orang yang memiliki perilaku seks berisiko (memiliki banyak pasangan seksual, tidak menggunakan kondom, pengguna narkoba dan alkohol), dan tentunya mereka yang memiliki pasangan dengan sifilis positif.

Cara pencegahan yang paling efektif adalah dengan melakukan seks secara aman. Abstinensia atau tidak berhubungan seks sudah tentu menjadi cara yang paling ampuh. Cara lain adalah dengan tidak berganti pasangan (monogami) dan menggunakan kondom adalah perilaku yang seharusnya dilakukan. Kondom pun harus digunakan secara tepat dan konsisten agar efektif mencegah sifilis.

 

Referensi
www.cdc.gov

 

Angsamerah | The Silent Syphilis.pdf

You may also like

Leave a comment