Ketika Perasaan Sayang dan Memiliki Menjadi Berbeda:

Menarasikan Empati Dalam Perbedaan

Ketertarikan merupakan aspek general yang menggambarkan interaksi antara perasaan internal dengan stimulus eksternal. Aspek internal bisa berkaitan dengan hal-hal yang bersifat personal, termasuk komponen regulasi emosi, penghayatan terhadap citra diri, maupun pengalaman-pengalaman afektif yang pernah dijalani sebelumnya.

Terkait dengan aspek eksternal, rasa tertarik bisa terjadi pada individu maupun obyek-obyek tertentu. Kombinasi dari aspek internal dan eksternal inilah yang memberikan penghayatan tersendiri bagi setiap individu.

Akan tetapi, perasaan tertarik yang bersifat personal dan unik ini terkadang berbenturan dengan keadaan di sekitar seseorang. Adanya pertimbangan etis, moral dan normative terkadang memberikan perasaan yang tidak nyaman, saat perasaan tertarik sudah di depan mata.

Kondisi ini yang terkadang membawa perasaan marah, malu dan tidak jarang menimbulkan perasaan sedih. Apalagi ketika seseorang menyadari bahwa orang-orang di sekitarnya tidak menunjukkan perasaan ketertarikan yang sama.

Rasa tertarik itupun dapat termanifestasi ke dalam berbagai bentuk dan cara pemuasan terhadap obyek yang diminati. Obyek-obyek yang dimaksudkan dalam hal ini bisa berupa bagian tubuh tertentu, pakaian jenis tertentu, pakaian dengan bahan tertentu maupun proses-proses yang dijalani.

Pada beberapa orang rasa tertarik ini juga termanifestasi dalam rupa pengalaman personal yang dikaitkan dengan respons sensorik dari panca indera.

Dalam perspektif psikoanalisis, ketertarikan merupakan suatu pengalaman arkaik yang sudah terbentuk sejak masa-masa awal seseorang dilahirkan. Perasaan tertarik tersebut muncul sebagai suatu representasi kebutuhan seorang anak yang dilahirkan terhadap figur-figur yang pertama kali ditemuinya, terutama figur orang tua.

Dalam perjalanannya, anak tersebut akan belajar memahami bahwa figur-figur tersebut terkadang tidak sepenuhnya bisa hadir memenuhi kebutuhannya, yang menimbulkan perasaan cemas dan frustrasi.

Perasaan cemas dan frustrasi akan diproses oleh masing-masing individu dengan cara yang berbeda. Ada yang kemudian dalam perjalan kehidupan dapat memberikan toleransi tertentu terhadap perasaan ini.

Beberapa memroses perasaan ini dengan mereplikasi terhadap kemampuan regulasi emosi. Adapula yang menghadapi perasaan ini dengan menghadirkan obyek-obyek tertentu di dalam fantasinya, untuk meredakan kecemasan yang dialami.

Adanya obyek-obyek transisional yang dihadirkan oleh individu tersebut menjadi suatu mekanisme psikologis yang digunakan di kemudian hari saat ia dewasa dalam menghadapi perasaan tidak nyaman maupun untuk mendapatkan perasaan puas.

Mekanisme tersebut yang kemudian juga digunakan saat seseorang memasuki ranah hubungan yang lebih intim dan personal. Dalam hal ini, kebutuhan pemuasan tersebut juga bertindak sebagai bentuk simbolisasi dan representasi keutuhan diri yang selama ini mungkin menanti untuk diisi.

Proses tersebut juga yang memberikan afirmasi kepada individu akan eksistensinya sebagai seorang manusia. Rasa puas dan nikmat dipersepsikan lebih jauh dalam struktur yang luas, berkaitan dengan kompensasi terhadap rasa terhubung dengan lingkungan sekitarnya.

Perasaan puas dalam hal ini dipandang lebih jauh dari sekadar pemenuhan hasrat, namun bentuk atribusi terhadap pemenuhan kebutuhan sosial, yaitu keterhubungan. Perasaan subyektif tersebut dilihat sebagai upaya kompensasi pemenuhan individu terhadap kebutuhan secara sosial.

Perasaan puas ini juga menjadi upaya nirsadar dari individu untuk bernegosiasi melalu pemenuhan kebutuhan ego.

Dalam pandangan lain, pemenuhan kebutuhan ini memberikan makna tersendiri bagi individu untuk memroses dan menoleransi rasa frustasi yang ada. Individu tersebut mencoba untuk melakukan rekonsiliasi dengan memandang kebutuhan akan pemenuhan sebagai komoditi yang penting untuk mengukuhkan eksistensi dirinya.

Kehadiran obyek-obyek tertentu dalam proses pemenuhan rasa puas memberikan ilusi akan perasaan mampu dan adanya kekuasaan. Fenomena ini memberikan warna dan makna tersendiri sekaligus justifikasi bagi individu tersebut untuk mempertahankan mekanisme yang sama secara berulang.

Rupanya, pemenuhan akan rasa puas dan nikmat tidak melulu dilihat sebagai sesuatu hal yang  menyenangkan. Dalam beberapa perspektif, pemenuhan rasa puas ini sebenarnya merupakan proses kompensasi akan adanya perasaan bersalah.

Rasa bersalah yang mungkin timbul dari ketidakmampuan untuk memenuhi gambaran ideal yang diciptakan, maupun rasa bersalah yang timbul karena pemahaman terhadap keinginan itu sendiri yang dirasa berbeda dengan individu-individu yang lain. Rasa bersalah ini begitu dalam dan kuat, bagaikan derasnya arus di dalam relung sanubari terdalam.

Perasaan bersalah ini yang menimbulkan keinginan untuk menekan keinginan yang ada, namun semakin ditekan, keinginan tersebut semakin menguat. Ketika keinginan makin menguat terhadap obyek tertentu, di saat yang bersamaan perasaan bersalah mencuat namun ego seakan-akan tidak berdaya untuk menghadapi situasi ini.

Rasa tidak berdaya ini yang membuat seseorang meyakini bahwa dirinya tidak akan pernah bisa keluar dari lingkaran keinginan ini.

Cerminan lain dari perasaan ini juga menggambarkan adanya ketakutan. Ketakutan akan ditinggalkan, dipisahkan, dibuang dan tidak dianggap. Ketakutan-ketakutan tersebut menimbulkan suatu ilusi kebutuhan akan kompensasi dari perasaan tidak berdaya. Ketakutan-ketakutan yang bersifat nirsadar terkadang dirasakan dengan amplitudo yang cukup besar.

Kondisi ini tidak jarang menimbulkan kecemasan yang menimbulkan kebutuhan seseorang untuk mendapatkan rasa tenang dari kehadiran obyek-obyek tertentu.

Kehadiran obyek-obyek ini terkadang secara tidak sengaja berada bersamaan dengan situasi tertentu. Dalam hal ini, otak memroses situasi dan obyek sebagai suatu asosiasi/atribusi yang menciptakan rasa aman.

Pada kondisi lain, kehadiran obyek-obyek tertentu secara sengaja ditimbulkan dalam pikiran seseorang sebagai simbolisasi rasa aman ataupun representasi kehadiran figur tertentu.

Sebagai contoh, seorang anak kecil akan memeluk boneka saat merasa ketakutan ketika seorang diri, sebagai upaya ego untuk menghadirkan secara figurative kehadiran orang tua saat menghadapi situasi tersebut.

Pada beberapa individu, proses reeksperimen tersebut menjadi pola yang terus digunakan dalam menghadirkan rasa aman untuk berbagai situasi, bahkan ketika ia menginjak usia dewasa. Kehadiran obyek-obyek tersebut juga secara tidak langsung menjadi sarana pembelajaran dari individu tentang cinta.

Ia belajar akan cinta dan proses afeksi melalu obyek-obyek tersebut karena dirasa lebih familiar dalam proses kehidupannya. Dalam hal ini, proses penghayatan secara erotik direpresentasikan dengan cara yang berbeda dan memberikan rasa aman. Perasaan tersebut dapat menjadi semakin intens hingga pada beberapa orang menjadi sebuah obsesi.

Rasa suka dilihat sebagai aspek yang humanis, yang sejatinya tidak merugikan ataupun membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Adanya keterbatasan ruang gerak dan pemaknaan emosi yang terbatas, serta pilihan pemenuhan rasa puas yang semakin sempit menunjukkan sudah waktunya individu tersebut untuk mencari pertolongan.

Mencari pertolongan tidak dilihat pada garis batas sakit ataupun tidak sakit. Mencari bantuan berarti mengizinkan diri sendiri untuk bisa mengalami perasaan bahagia yang lebih kaya, bervariasi sambil membangun keterhubungan dengan orang lain.

Sebagian dari individu-individu yang mengalami pengalaman personal ini tetap bisa menjalin pola relasi yang sehat dan hidup. Mereka dapat memaknai proses tersebut sebagai bagian variasi fantasi ataupun pengalaman berelasi.

Akan tetapi, sebagian lainnya mungkin masih terus berproses menghadapi perasaan cinta yang tak terpisahkan antara dirinya dengan obyek yang dicintai. Mereka begitu mencintai obyek tersebut dan kemudian bertransposisi secara dinamis antara cinta terhadap diri dan obyek. Pengalaman ini membuat mereka terus berjuang di dalam dunia tersebut.

Memahami proses yang terus dinamis ini, sudah saatnya bagi kita untuk membuka hati dan kepedulian bagi mereka yang masih sedang berproses. Tidak jarang, menghadapi proses ini mereka berhadapan dengan perasaan kesendirian karena melihat diri mereka sebagai individu yang berbeda dengan orang lain.

Sementara di satu sisi, mengungkapkan pengalaman yang sangat personal menjadi tidak mudah untuk diutarakan maupun didengarkan oleh orang lain. Akan tetapi, sejatinya hal tersebut tidak menjadi justifikasi untuk menghakimi kehidupan seseorang, karena kita tidak pernah tahu seberapa keras ia berjuang di dalam kehidupannya.

Perlu dipahami bahwa merasa tertarik menunjukkan adanya komponen emosional dari otak kita yang sedang berproses. Hal ini merupakan bukti eksistensi kita sebagai seorang manusia. Akan tetapi, dengan kemampuan berpikir yang maju, seseorang manusia diberikan kemampuan untuk menilai mana yang sebaiknya dilakukan mana yang sebaiknya tidak.

Dalam hal ini, penilaian secara dikotomi antara benar dan salah tidak selalu menjadi alternatif terbaik. Berpikir secara transendensi memampukan seseorang untuk menakar dan menalar lebih lanjut tentang fenomena ini.

Diperlukan suatu keterbukaan dan pemahaman yang mendalam terkait dinamika seseorang ketika berpikir dan merasa. Keterbukaan terhadap pikiran dan perasaan hanya terbatas pada sejauh apa seseorang ingin memperluas cakrawala.

Tulisan ini sekiranya dapat membantu pembaca untuk dapat meningkatkan pemahaman akan dinamika manusia, dan di saat yang sama menyelaraskan empati sebagai sarana baru untuk memandang manusia lain.

Sejatinya menjadi berbeda merupakan ruang untuk berkomunikasi secara terbuka, dan bukan untuk memandang dengan sebelah mata.

Pada akhirnya, perasaan suka yang berbeda menunjukkan keberagaman dan keunikan setiap individu dalam mengekspresikan ranah afektifnya. Mengukir kemaknaan diri dalam ekspresi perasaan suka tidak hanya dibatasi pada kondisi sakit atau tidaknya seseorang.

Dibutuhkan keterbukaan hati dan pikiran untuk memahami fenomena ini dari sudut pandang yang lebih luas. Kesehatan mental sejatinya menjadi kebutuhan yang universal bagi setiap individu.

Jika perasaan tertarik ini menjadi sesuatu yang berdampak secara negatif terhadap produktivitas, relasi dengan orang di sekitar, maupun pola komunikasi, ketahuilah bahwa akan ada orang-orang yang bersedia untuk terbuka dalam mendengar dan memahami narasi hidup kita.

Mengizinkan diri untuk diproses merupakan salah satu langkah awal dan terpenting untuk menuju pulih, menjadi pribadi yang lebih kuat dan memandang realita dengan cara pandang yang berbeda.

Referensi

  1. Adler, G. (2013). Transitional objects, selfobjects, real objects, and the process of change in psychodynamic psychotherapy. In Understanding therapeutic action (Psychology revivals)(pp. 69-84). Routledge.
  2. Berner, W., & Briken, P. (2012). Pleasure seeking and the aspect of longing for an object in perversion. A neuropsychoanalytical perspective. American journal of psychotherapy, 66(2), 129-150.
  3. Rizq, R. (2012). The perversion of care: Psychological therapies in a time of IAPT. Psychodynamic Practice, 18(1), 7-24.
  4. Taylor, G. J. (2016). Varieties of castration experience: Relevance to contemporary psychoanalysis and psychodynamic psychotherapy. Psychodynamic Psychiatry, 44(1), 39-67.
  5. Theo, L. J., & Theo, L. J. (2017). Psychoanalytic Absence: Freudian Object-Focus and the Resultant ‘Pervert Sans-Corpus’. Constructing Transgressive Sexuality in Screenwriting: The Feiticeiro/a as Character, 25-43.

Artikel Terkait

Seks diusia senja

Joining Forces on a Regional Level

Safe Sex

The Big “O”

Suara harapan komunitas pada penyedia layanan kesehatan oleh Setia Perdana

HPV 101

Sebelumnya
Selanjutnya

Buat janji dokter sekarang

Hubungi Kami

Silahkan gunakan formulir ini kapan saja untuk menghubungi kami dengan pertanyaan, atau untuk membuat janji.

Anda juga dapat menghubungi kami melalui WhatsApp atau telepon pada jam klinik di +62 8111 368 364.