Sifilis Pada Kehamilan: Ancaman Senyap bagi Ibu dan Bayi

Kehamilan adalah proses yang membahagiakan sekaligus mendebarkan karena ada tantangan yang harus dihadapi. Salah satu hal penting yang harus dijaga adalah kesehatan ibu agar bayi lahir dalam keadaan sehat. Namun ada berbagai permasalahan kesehatan yang dapat menggangun kehamilan, salah satunya adalah sifilis.

Sifilis merupakan infeksi menular seksual yang dapat ditularkan dari ibu kepada bayinya selama kehamilan maupun saat persalinan. Meskipun jarang dibicarakan, infeksi ini dapat menimbulka komplikasi serius bagi ibu maupun janin.

Sifilis sering disebut sebagai “ancaman senyap” karena gejalanya sering tidak khas dan dapat menyerupai penyakit lain, sehingga diagnosis dan penanganannya sering terlambat. Padahal, sifilis termasuk salah satu infeksi menular seksual paling umum di dunia, dengan sekitar 6 juta kasus baru setiap tahunnya.

Jika ibu hamil yang terinfeksi tidak mendapatkan pengobatan dini dan efektif, infeksi dapat menular kepada janin yang belum lahir. Kondisi ini disebut sifilis kongenital. Sifilis kongenital berbahaya karena dapat menyebabkan gangguan serius pada janin apabila infeksi pada ibu tidak terdeteksi dan tidak diobati secara optimal sejak awal kehamilan.

Pada tahun 2022, WHO memperkirakan terdapat sekitar 700.000 kasus sifilis kongenital dan 390.000 hasil persalinan yang merugikan di seluruh dunia, dengan rincian sebagai berikut:

  • 150.000 kematian janin dini dan lahir mati
  • 70.000 kematian neonatal
  • 55.000 kelahiran prematur atau berat badan lahir rendah
  • 115.000 bayi dengan diagnosis klinis sifilis kongenital

Kasus-kasus tersebut terjadi pada:

  • 21% ibu hamil yang tidak menjalani perawatan antenatal
  • 53% ibu yang menjalani perawatan antenatal tetapi tidak diskrining sifilis
  • 16% ibu yang hasil tesnya positif tetapi tidak diobati atau mendapat pengobatan yang tidak memadai
  • 9% ibu yang sudah terdiagnosis positif dan telah diobati secara memadai

Sifilis kongenital juga menjadi penyebab kedua terbanyak kelahiran mati yang sebenarnya dapat dicegah di seluruh dunia, setelah malaria.

Komplikasi Jangka Panjang Sifilis Kongenital

Sifilis kongenital dapat menimbulkan berbagai komplikasi jangka panjang, antara lain:

  1. Gangguan pendengaran. Terjadi akibat kerusakan pada saraf pendengaran.
  2. Gangguan penglihatan. Dapat disebabkan oleh kerusakan saraf maupun peradangan pada mata (uveitis).
  3. Hidung pelana (saddle nose). Peradangan akibat sifilis dapat merusak tulang rawan hidung sehingga batang hidung menjadi rata dan dahi tampak menonjol.
  4. Hutchinson’s teeth. Pertumbuhan gigi seri atas menjadi tidak normal, berbentuk seperti pasak.
  5. Gangguan tumbuh kembang. Bayi dapat mengalami keterlambatan motorik, keterlambatan bicara, gangguan kognitif, serta kesulitan belajar.
  6. Kerusakan organ dalam. Misalnya pembesaran hati dan limpa, anemia kronis, serta gangguan sistem imun.
  7. Masalah neurologis. Seperti meningitis sifilitik yang dapat menyebabkan kejang, gangguan koordinasi, hingga kerusakan otak permanen.

Menurut Kementerian Kesehatan RI, gejala sifilis kongenital ini biasanya baru muncul setelah usia 2 tahun sebagai akibat infeksi yang tidak ditangani sejak lahir. Karena itu, deteksi dini dan pengobatan segera pada ibu hamil menjadi sangat penting.

Cara Penularan Sifilis dari Ibu ke Bayi

  1. Kontak dengan lesi aktif. Jika ibu memiliki luka sifilis (chancre) atau ruam sifilis sekunder di area genital saat melahirkan, bayi dapat terpapar langsung saat melewati jalan lahir.
  2. Cairan tubuh yang lnfeksius. Lesi sifilis mengandung bakteri Treponema pallidum yang sangat menular. Jika bayi bersentuhan dengan cairan tersebut saat persalinan, risiko infeksi meningkat.
  3. Infeksi sejak dalam kandungan (Sifilis kongenital dini). Bayi juga dapat terinfeksi sejak masih berada di dalam kandungan

Cara Mencegah Penularan Sifilis Selama Kehamilan

  1. Pemeriksaan Antenatal Secara Rutin. Pemeriksaan sebelum menikah dan sebelum kehamilan sangat penting. Jika sudah hamil, maka skrining sifilis sebaiknya dilakukan sejak kunjungan pertama kehamilan, idealnya pada trimester pertama. Pemeriksaan ulang dianjurkan pada trimester ketiga, terutama bagi ibu dengan risiko tinggi.
  2. Program Triple Eliminasi. Program Triple Eliminasi Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak (PPIA/PMTCT) mencakup pemeriksaan HIV, hepatitis B, dan sifilis pada ibu hamil. Program ini merupakan langkah penting pemerintah dalam mencegah komplikasi pada ibu dan bayi.
  3. Pengobatan Segera Jika Terdiagnosis. Jika hasil tes menunjukkan infeksi sifilis, maka pengobatan segera, sebelum usia kehamilan 28 minggu, dapat mencegah komplikasi kehamilan dan penularan kepada bayi.
  4. Edukasi dan Konseling Pasangan. Pasangan perlu dilibatkan dalam pemeriksaan dan pengobatan untuk mencegah infeksi berulang. Penggunaan kondom dianjurkan jika pasangan belum diperiksa atau masih dalam pengobatan.
  5. Menghindari Hubungan Seksual Berisiko. Menghindari hubungan seksual dengan banyak pasangan atau dengan pasangan yang tidak diketahui status kesehatannya,
  6. Peran Kader Kesehatan. Kader kesehatan berperan penting dalam edukasi, sosialisasi, deteksi dini infeksi menular seksual, serta pendampingan ibu hamil dalam pemeriksaan triple eliminasi. Kader juga membantu mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap ibu hamil yang terinfeksi.

Sifilis pada ibu hamil adalah masalah kesehatan masyarakat yang serius, tetapi sebenarnya dapat dicegah dan diobati secara efektif. Skrining sifilis pada setiap ibu hamil harus menjadi bagian dari standar pelayanan kehamilan.

Melalui deteksi dini, pengobatan yang tepat, serta edukasi yang memadai, maka risiko komplikasi dapat dikurangi secara signifikan. Dengan demikian, kesehatan ibu terlindungi dan bayi dapat lahir dalam kondisi sehat, bebas dari ancaman sifilis kongenital.

Referensi

  • American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). “Practice Bulletin No. 176: Syphilis in Pregnancy.” Obstetrics & Gynecology, 129(4), e120-e137, 2017.
  • Badan Pengendalian Penyakit Menular, Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Sifilis. Jakarta, 2019.
  • Kementerian Kesehatan RI. “Sifilis Kongenital: Ancaman Nyata yang Dapat Dicegah.”
  • Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2022). Syphilis during Pregnancy.
  • World Health Organization (WHO). (2017). Global guidance on the prevention of congenital syphilis.

Artikel Terkait

Menjadi Ibu dan Sindroma Baby Blues

Morning Sickness

Bersiap Menuju Persalinan

Periksa kesehatan saluran telur dengan HSG

Mengapa ibu hamil perlu tes HIV?

Stunting

Tidak Sesederhana Memberikan Susu Sapi Ataupun Sejenisnya

Sebelumnya
Selanjutnya

Buat janji dokter sekarang

Hubungi Kami

Silahkan gunakan formulir ini kapan saja untuk menghubungi kami dengan pertanyaan, atau untuk membuat janji.

Anda juga dapat menghubungi kami melalui WhatsApp atau telepon pada jam klinik di +62 8111 368 364.