Antibiotik adalah obat yang saat ini sangat mudah ditemui dan sering digunakan. Namun sayangnya, tidak sedikit orang yang mengonsumsi antibiotik tanpa petunjuk tenaga medis atau resep dokter. Padahal antibiotik bukan obat yang boleh digunakan sembarangan.
Obat ini digunakan untuk berbagai kondisi, mulai dari keluhan ringan seperti sakit tenggorokan hingga infeksi berat pada pasien yang dirawat di ruang ICU.
Sejarah Singkat Antibiotik
Perkembangan antibiotik dimulai pada tahun 1907 ketika Paul Ehrlich menemukan obat bernama arsphenamine yang digunakan untuk mengobati sifilis. Penemuan ini kemudian diikuti oleh penemuan penisilin oleh Alexander Fleming pada tahun 1940.
Selanjutnya, Howard Florey dan Ernst Chain berperan penting dalam mengembangkan penisilin sehingga dapat digunakan secara luas dalam dunia medis.
Sejak saat itu, berbagai jenis antibiotik terus dikembangkan untuk membantu mengobati infeksi yang disebabkan oleh bakteri.
Apa Itu Antibiotik?
Antibiotik adalah obat yang secara khusus bekerja melawan bakteri. Cara kerjanya bisa dengan:
- membunuh bakteri, atau
- menghambat pertumbuhan bakteri.
Karena itu, antibiotik hanya efektif untuk infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Antibiotik tidak dapat digunakan untuk mengobati infeksi virus, seperti flu atau sebagian besar batuk pilek.
Sebelum menggunakan antibiotik, seseorang sebaiknya diperiksa terlebih dahulu oleh dokter untuk memastikan bahwa infeksi yang terjadi memang disebabkan oleh bakteri. Jika antibiotik digunakan tanpa indikasi yang tepat, bakteri bisa menjadi kebal terhadap antibiotik atau yang dikenal dengan istilah resistensi antibiotik.
Jenis-Jenis Antibiotik
Saat ini terdapat banyak kelompok antibiotik. Secara umum, berdasarkan cara kerjanya antibiotik dibagi menjadi dua kelompok besar.
1. Antibiotik yang Menghambat Pertumbuhan Bakteri (Bakteriostatik)
Antibiotik jenis ini tidak langsung membunuh bakteri, tetapi menghentikan pertumbuhannya sehingga sistem imun tubuh dapat melawan infeksi.
Contohnya antara lain:
- Glycylcyclines: Tigecycline
- Tetracyclines: Doxycycline, minocycline
- Lincosamides: Clindamycin
- Macrolides: Azithromycin, clarithromycin, erythromycin
- Oxazolidinones: Linezolid
- Sulfonamides: Sulfamethoxazole
2. Antibiotik yang Membunuh Bakteri (Bakterisida)
Antibiotik jenis ini bekerja langsung membunuh bakteri penyebab infeksi.
Beberapa contohnya adalah:
- Aminoglycosides: Tobramycin, gentamicin, amikacin
- Beta-lactams (penicillins, cephalosporins, carbapenems): Amoxicillin, cefazolin, meropenem
- Fluoroquinolones: Ciprofloxacin, levofloxacin, moxifloxacin
- Glycopeptides: Vancomycin
- Cyclic Lipopeptides: Daptomycin
- Nitroimidazoles: Metronidazole
Selain berdasarkan cara kerjanya, antibiotik juga dibedakan berdasarkan luas bakteri yang dapat ditangani.
1. Antibiotik spektrum luas
Antibiotik ini mampu melawan berbagai jenis bakteri sekaligus. Antibiotik ini sangat berguna ketika dicurigai adanya infeksi bakteri, namun kelompok bakteri spesifiknya tidak diketahui (situasi ini dikenal sebagai terapi empiris) atau ketika diduga ada infeksi beberapa kelompok bakteri.
2. Antibiotik spektrum sempit
Antibiotik ini hanya dapat membunuh atau menghambat spesies bakteri tertentu. Keuntungannya, antibiotik ini lebih spesifik sehingga kerusakan pada bakteri baik (mikrobiota) dalam tubuh dapat diminimalkan, dan risiko resistensi dapat berkurang.
Cara Pemberian Antibiotik
Antibiotik dapat diberikan dengan beberapa cara, antara lain:
- Topikal (langsung pada area yang infeksi). Misalnya dalam bentuk salep, krim, tetes, supositoria (kapsul vagina atau anus), atau semprotan.
- Oral (diminum). Misalnya melalui kapsul, cairan, atau tablet
- Injeksi. Diberikan melalui suntikan ke pembuluh darah atau ke dalam otot
Hal yang Dipertimbangkan Sebelum Memberikan Antibiotik
Dokter akan mempertimbangkan berbagai faktor sebelum menentukan antibiotik yang tepat, antara lain:
- Umur
- Kondisi hati dan ginjal
- Berat ringannya infeksi
- Kehamilan dan menyusui
- Interaksi obat lain yang sedang dikonsumsi
- Riwayat alergi pemberian antibiotik sebelumnya
- Pola infeksi yang terjadi di masyarakat
- Pola resistensi antibiotik yang ada
Efek Samping Antibiotik
Seperti obat lain, antibiotik juga dapat menimbulkan efek samping.
Efek samping ringan yang sering terjadi antara lain:
- ruam atau bentol di kulit
- kemerahan pada kulit
Efek samping sedang dapat berupa:
- sakit kepala
- mual dan muntah
- diare
Beberapa antibiotik tertentu juga dapat menyebabkan perubahan warna gigi, seperti pada penggunaan tetracycline dan doxycycline.
Penggunaan antibiotik juga dapat mengganggu keseimbangan bakteri normal dalam tubuh, sehingga terkadang memicu infeksi jamur.
Pada kasus yang jarang terjadi, antibiotik dapat menimbulkan reaksi alergi berat seperti:
- syok anafilaktik
- Stevens-Johnson Syndrome (SJS), yaitu kondisi dengan lepuh pada kulit dan selaput lendir seperti luka bakar.
Antibiotik tertentu juga dapat menyebabkan efek samping lain, misalnya levofloxacin yang dalam kasus tertentu dapat menyebabkan robekan tendon (jaringan penghubung otot dan tulang).
Karena itu, jika Anda mendapatkan antibiotik, sebaiknya tanyakan kepada tenaga kesehatan mengenai:
- Efek samping yang mungkin terjadi
- Cara mengatasi efek samping
- Alternatif obat lain yang memiliki efek samping lebih ringan
- Tanda bahaya yang mengharuskan segera ke rumah sakit
Bahaya Resistensi Antibiotik
Saat ini semakin banyak bakteri yang menjadi kebal terhadap antibiotik. Kondisi ini disebut resistensi antibiotik.
Resistensi antibiotik menjadi masalah serius karena infeksi menjadi lebih sulit diobati. Selain itu, berbagai prosedur medis seperti operasi, operasi caesar, hingga kemoterapi kanker menjadi lebih berisiko jika antibiotik tidak lagi efektif.
Bagaimana Bakteri Menjadi Kebal?
Ada beberapa cara bakteri dapat menjadi kebal terhadap antibiotik.
1. Perubahan genetik
Bakteri dapat mengalami mutasi atau perubahan pada materi genetiknya sehingga menjadi tahan terhadap antibiotik. Sifat ini kemudian dapat diturunkan ke generasi bakteri berikutnya.
2. Mekanisme pertahanan bakteri
Beberapa bakteri mampu menghancurkan antibiotik, mengubah cara kerja antibiotik, dan mengarahkannya ke target sasaran yang lain.
3. Paparan antibiotik yang berlebihan
Penggunaan antibiotik secara luas, misalnya di bidang peternakan, serta pembuangan antibiotik yang tidak tepat dapat membuat bakteri terus terpapar antibiotik dan akhirnya berevolusi menjadi kebal.
Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa bakteri dapat mulai menunjukkan resistensi hanya dalam waktu sekitar 11 hari setelah terpapar antibiotik.
Cara Mencegah Resistensi Antibiotik
Untuk mencegah bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik, penggunaan antibiotik harus dilakukan secara bijaksana.
Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:
- Tidak membeli atau mengonsumsi antibiotik tanpa resep tenaga medis
- Menghabiskan antibiotik sesuai anjuran tenaga kesehatan meskipun kondisi sudah membaik
- Tidak berbagi antibiotik dengan orang lain, meskipun keluhannya terlihat mirip
Antibiotik adalah Senjata Penting
Antibiotik merupakan obat yang sangat penting dalam melawan infeksi bakteri. Namun jumlah dan jenis antibiotik yang tersedia terbatas.
Penggunaan antibiotik secara bertanggung jawab sangat penting untuk mencegah resistensi dan memastikan antibiotik tetap efektif di masa depan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menyatakan bahwa resistensi antimikroba, termasuk resistensi antibiotik, merupakan salah satu ancaman terbesar bagi kesehatan global.
Diperkirakan pada tahun 2019, resistensi antibiotik secara langsung menyebabkan sekitar 1,27 juta kematian di seluruh dunia, dan berkontribusi terhadap hampir 4,95 juta kematian secara tidak langsung.
Karena itu, diperlukan kerja sama antara tenaga kesehatan dan masyarakat untuk menggunakan antibiotik secara tepat. Edukasi kepada masyarakat mengenai penggunaan antibiotik yang benar, termasuk cara penyimpanan dan pembuangannya, menjadi sangat penting untuk menjaga efektivitas obat ini di masa depan.