Angsamerah Articles Apakah saya masih menarik

Apakah Saya Masih Menarik?

Seorang pria sukses setengah baya, 52 tahun, bertanya, “Apakah saya masih menarik? Apakah fisik saya masih OK? Apakah cara bicara saya masih menarik? Apakah saya masih punya potensi untuk menarik perhatian perempuan dengan semua yang saya punya? Apa sebenarnya yang dilihat perempuan dari laki-laki? Apakah cewek-cewek itu melihat saya karena sukses dan banyak uang?

Sebagai mantan atlit yang rajin berolahraga sejak muda, dengan tinggi 173 cm dan berat 70 kg, langsing berotot, perut kempes, dada bidang dan six packs, dengan mudah ia menarik perhatian. Apalagi ia seorang profesional yang sukses, banyak uang dan aset. Tentu ini menjadi magnet tersendiri buat orang yang ingin mencari kenyamanan finansial. Ia baru menyadari dirinya masih menarik setelah ada perempuan lain memujinya, karena selama ini istrinya tidak pernah mengatakan semua kelebihannya itu . Yang ada cuma sederet perintah dan omelan: harus cari uang, menyerahkan seluruh uang kepada istrinya, dan harus nurut pada semua perintah istri. Termasuk tidak boleh keluar rumah selain jam kerja. Istrinya punya segudang mekanisme untuk mengontrol kegiatan suami: menyuruh suami mengantar jemput anak pergi sekolah dan les, minta mengantar belanja ke mall, mengantar ke acara-acara keluarga yang banyak sekali, pergi beribadah bersama-sama, dst… Tiap akhir pekan semakin banyak ritual menanti: beribadah bersama keluarga, olahraga dan bersepeda bersama keluarga, jalan-jalan ke mall bersama keluarga, ritual acara keluarga ke beberapa rumah, panggil tukang pijat ke rumah, panggil montir dari bengkel untuk servis mobil di rumah, membersihkan kolam ikan, dst.

Pria ini mengeluh ingin pisah dari istrinya karena tidak tahan dengan kebisingan mulut istri dan kecurigaan yang dirasa berlebihan. Selama ini ia sudah menyerahkan seluruh penghasilan kepada istri, membantu membiayai pernikahan adik-adik istri, membiayai keluarga istri, sudah berbuat baik tapi istri tetap tidak percaya, tidak pernah mau merekognisi kebaikannya. Boro-boro memuji kebaikannya, menyadari bahwa ia suami yang baik pun, tidak pernah.

Yang ada setiap saat hanya kewajiban, kewajiban, kewajiban, disusul dengan curiga, curiga dan curiga. Ia lelah dan bosan. Ia butuh pengakuan dari orang terdekatnya. Dan sekarang, yang paling menghancurkan harga dirinya, ia mengalami IMPOTENSI selama beberapa tahun terakhir ini. Tidak bisa bangun jika dengan istrinya karena menahan marah, bertahun-tahun diperlakukan begini. Sebagai profesional yang sukses, sudah lama ia menahan malu karena diejek teman-temannya sebagai anggota IKATAN SUAMI TAKUT ISTRI. Ia rela disebut begitu karena merasa berkomitmen tinggi pada pernikahan.

Istrinya yang sudah berhenti bekerja sejak mereka menikah 25 tahun yang lalu, bekerja sebagai ibu rumah tangga full time. Seluruh uang pendapatan suami, ia yang mengelola sehingga suami benar-benar harus minta jatah uang setiap hari. Tidak heran kalau suami juga punya cara untuk mengelabui istri dengan memiliki penghasilan yang tidak dilaporkan dan menikmatinya sebagai “UANG LELAKI”. Untung masih ada “uang lelaki” itu, yang bisa digunakannya untuk sekadar kabur dari rutinitas tekanan istri. Nongkrong dan minum dengan teman-teman, ngobrol di café, kabur ke luar kota dengan alasan tugas kantor, dst.

Di sisi lain, istri merasa sudah mengorbankan hidupnya dengan mengurus rumah tangga selama 25 tahun. Setiap hari ritmenya adalah bangun pagi, menyiapkan sarapan, mengantar 3 orang anak ke sekolah (sejak TK, SD, SMP sampai SMA), menjemput anak-anak, menyelesaikan tugas rumah tangga yang tak pernah ada habisnya, dari pagi buta sampai tengah malam, mengurusi PR anak-anak, menyiapkan makan siang hingga makan malam, mengantar les, harus menghadiri acara-acara keluarga pihak suami, dst… Dengan tinggi 160 cm dan berat 70 kg ia nampak lebih tua dari umurnya yang baru 48 tahun. Berperut buncit, badan gemuk, dandan seadanya, dan bermulut tajam, siap menyerang siapa saja. Tak heran jika suaminya gerah jika diajak bicara.

Dan tiba-tiba, usia perkawinan sudah 25 tahun. Anak sulung sudah lulus kuliah. Suami di usianya yang 52 tahun makin gagah, makin cakep, makin menarik karena sukses dalam karir, punya banyak uang dan aset. Sementara ia terpuruk dalam tugas rumah tangga yang tak habis-habis, badan tidak terurus, karir cuma mentok di dalam rumahtangga, tidak punya tabungan, dan merasa tidak bermartabat. Kalau ingin sesuatu untuk dirinya sendiri, harus merengek-rengek memohon kebaikan suami untuk membelikan barang itu. Tentu saja, karena ia tidak menghasilkan uang sendiri…. Minggu lalu ia ketemu dengan seorang teman perempuan yang mengingatkannya bahwa ia harus waspada karena suaminya masih cakep dan menarik, sukses dan banyak uang sehingga cewek-cewek pasti doyan mendekatinya. Maka ia pun menjadi panik dan menyadari eksistensi dirinya yang rapuh. Ia tidak punya akses terhadap penghasilan, sudah tua, tidak punya tabungan pribadi, dan takut ditinggal selingkuh oleh suami. Belum lagi, takut hukuman sosial karena selama ini ia membangun citra positif tentang suami dan perkawinanannya di antara keluarga besarnya dan keluarga besar suaminya.

Karena itu ia menggunakan mekanisme pertahanan dirinya yang terakhir, yang dirasa paling ampuh. Ia makin cerewet melarang suami kemana-mana, mengontrol ketat setiap gerak gerik suami, memelototi reaksi suami jika memandang dan dipandang orang di mall, makin kencang mengambil uang perusahaan suami untuk dikuasainya. Anak-anak pun semakin dilibatkan mengawasi ayahnya dengan cara disuruh mampir makan siang ke kantor, atau mereka ber 4 rajin menjemput ke kantor, semakin rajin menginterogasi suami, semakin sibuk memeriksa pesan BBM, SMS, email, dan memonitor setiap percakapan telpon suami saat sedang bersamanya.

Suami, yang sudah 25 tahun terlatih untuk menghindar, tentu saja semakin pandai berkelit. Berkat kecurigaan istrinya, sudah puluhan tahun ia terbiasa mengganti semua nama di telepon dengan nama laki-laki, memberi nama-nama samaran untuk semua kontaknya di BB. Kalau ia lupa siapa nama kontaknya, ia akan pura-pura TC (test kontak), karena namanya disamarkan semua. Jika menerima telpon di rumah, ia berpura-pura bahwa itu dari teman laki-laki. Ia memiliki SIM Card khusus yang disimpan di tempat tersembunyi untuk hubungan pribadi yang tidak diketahui istrinya. Selain itu, ia membuat beberapa akun email & FB yang tidak diketahui istri, dan sekarang sedang mencari rumah kost buat kabur dari istri. Toh ia sudah terbiasa pula menghindar bertemu istri, dengan cara membalik jam tidurnya. Ia biasa tidur jam 4 pagi, menjelang istrinya bangun. Lalu bangun jam jam 10 pagi ketika istri masih sibuk mengantar anak-anak dan belanja ke pasar. Dan diam-diam ia kembali pada pacar lamanya, yang dikenalnya sejak 27 tahun yang lalu sejak ia belum punya apa-apa, yang selalu enak diajak ngobrol apa saja, yang selalu memujinya, yang sama sekali tidak pernah bertanya berapa uang dan aset yang dimilikinya, yang tidak pernah mewajibkannya transfer sekian puluh juta per bulan… Dan silakan tebak, dengan siapa ia bisa ereksi ???

Artikel Terkait

Premarital Health Check Up, Penting Nggak Sich?

Cemburu dalam Hubungan Berpasangan, Petaka atau Cinta ?

5 Love Language

Mengenal Lebih Dekat Bahasa Kasih

Seks dalam Perkawinan

Bagian 2

Pasangan Saya HIV Positif, Bagaimana Saya Meresponnya?

Kita, Nanti … Menua Bahagia

Sebelumnya
Selanjutnya

Buat janji dokter sekarang

Hubungi Kami

Silahkan gunakan formulir ini kapan saja untuk menghubungi kami dengan pertanyaan, atau untuk membuat janji.

Anda juga dapat menghubungi kami melalui WhatsApp atau telepon pada jam klinik di +62 8111 368 364.