Angsamerah Articles Are You Ok

Are You Okay?

Tulisan ini khusus dibuat dalam rangka memperingati World Suicide Prevention Day 2015, alias Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia, yang diadakan setiap tanggal 10 September. Keinginan untuk menulis mengenai bunuh diri sudah lama muncul, namun karena satu dan lain hal, barulah saat ini bisa terwujud.

Bagi para pembaca yang menghabiskan masa mudanya di tahun 2000-an, pasti akrab dengan film Ada Apa Dengan Cinta. Menarik bahwa film yang sangat populer pada masanya sudah mengangkat mengenai isu bunuh diri yang dianggap sangat tidak populer. Saat melihat tokoh Alya yang murung, kesepian, sampai akhirnya muncul adegan darah mengalir bersama air pancuran, apa yang Anda pikirkan?

Tindakan seperti yang diambil oleh Alya bagi saya saat itu tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seseorang memilih cara yang menyakitkan untuk menyelesaikan persoalannya. Bahkan setelah saya menjadi seorang dokter pun, saya masih menganggap bahwa bunuh diri adalah sejenis kejadian ekstrim yang hanya terjadi di film atau sesekali muncul di berita televisi.

Ternyata saya salah. Upaya bunuh diri adalah sesuatu yang lazim. Setidaknya itu yang saya temui selama saya mengikuti masa pendidikan sebagai spesialis kedokteran jiwa. Dalam tiga minggu terakhir ini saja, ada tiga pasien yang masuk perawatan dengan alasan bunuh diri. Saya tidak bisa lagi bilang bahwa bunuh diri adalah kejadian yang ekstrim. Kenyataan menunjukkan sebaliknya, upaya bunuh diri adalah sesuatu yang lazim ditemukan sehari-hari.

Kok bisa ya sesering itu? Kok ada ya orang senekat itu? Percaya atau tidak, bunuh diri hampir selalu merupakan akibat dari gangguan jiwa yang diderita seseorang. Gangguan jiwa tersebut terutama adalah depresi (80%), meskipun gangguan jiwa lain (skizofrenia 10%) juga bisa menyebabkan timbulnya dorongan utuk bunuh diri. Kalau bunuh diri adalah akibat gangguan jiwa, maka bunuh diri dapat diatasi dengan terapi obat-obatan serta psikologis.

Bunuh diri dalam Bahasa Inggris disebut sebagai suicide. Kata ini merupakan turunan dari Bahasa latin yang bermakna tindakan fatal yang mewakili keinginan seseorang untuk mati. Yang termasuk dalam istilah bunuh diri ini sangat luas, mulai dari berpikir mengenai bunuh diri sampai melakukan tindakan bunuh diri. Beberapa orang akan memiliki ide bunuh diri tapi sama sekali tidak pernah melakukannya. Orang lain lagi mungkin merencakan upaya bunuh diri berhari-hari sampai bertahun-tahun, sebelum akhirnya melakukan tindakan bunuh diri. Tapi, ada juga orang yang bunuh diri secara impulsif, tanpa perencanaan.

Menurut teori, saat ini tingkat bunuh diri paling sering terjadi di usia 15-44, dengan peningkatan paling tajam didapatkan pada kelompok usia remaja hingga dewasa muda (15-24 tahun). Pada orang yang berusia kurang dari 30 tahun, bunuh diri dikaitkan dengan stress akibat perpisahan, penolaka, pengangguran, dan permasalahan hukum. Penyalahgunaan NAPZA dan gangguan kepribadian juga banyak ditemukan pada kasus bunuh diri pada usia kurang dari 30 tahun.

Gimana cara mengenali risiko bunuh diri? Paling mudah adalah dengan mengetahui apakah orang tersebut memiliki riwayat percobaan bunuh diri. Dikatakan bahwa 40% pasien depresi yang akhirnya bunuh diri, ternyata memiliki riwayat percobaan bunuh diri sebelumnya. Dan risiko bunuh diri ini didapatkan paling tinggi pada 3 bulan setelah percobaan yang pertama. Kalau kita mengetahui ada orang dekat kita yang memiliki risiko bunuh diri tinggi, sangat disarankan untuk memberikan bantuan padanya. Bisa dengan mengajaknya berkonsultasi ke psikiater, atau yang paling sederhana adalah menyediakan waktu untuk berbicara dengannya.

Bunuh diri adalah suatu permasalahan kesehatan masyarakat yang dapat dicegah. Kita dapat memulainya dengan selalu menanyakan kabar orang-orang di sekeliling.

Simply by asking “Are you okay?” to your surroundings, you are being a hero for saving lives.

Artikel Terkait

Gangguan Panik dan Serangan Panik, Sama atau Beda?

Sahabat Indonesia dan Brasil

New Year 2017, New Spirit !!!

Mental Illness Among Inmates in Correctional Facilities

Keuntungan dan Tantangan Kencan Online

10 Juta lebih Penduduk Indonesia Alami Gangguan Mental Emosional

Masalah Psikologis Dalam Diagnosis HIV

Previous
Next

Buat janji dokter sekarang

Hubungi Kami

Silahkan gunakan formulir ini kapan saja untuk menghubungi kami dengan pertanyaan, atau untuk membuat janji.

Anda juga dapat menghubungi kami melalui WhatsApp atau telepon pada jam klinik di +62 8111 368 364.