Bagaimana Kami Memulai Investasi Mandiri yang Berdampak Sosial?

Saya menyebut “kami” dalam judul untuk menegaskan bahwa pencapaian yang dilakukan Angsamerah sama sekali tidak dilakukan sendirian. Mandiri tidaklah berarti sendiri. Banyak individu dan organisasi yang ikut berkontribusi dalam usaha Angsamerah mencapai keluaran yang diharapkan pelayanan dan program kesehatan.

Jujur saja, berinvestasi mandiri dalam bidang yang memberi dampak sosial bukan hal yang mudah. Apalagi saat ini ada kecenderungan pemahaman yang berbeda mutlak sejauh bumi dan langit mengenai konsep swasta versus publik, profit versus sosial. Padahal saya meyakini ini hanya bagian dari variasi perbedaan yang relatif, artinya kedua hal tersebut—swasta dan publik, profit dan sosial— sama-sama berperan penting, mampu menyesuaikan dengan situasi, tersedia ruang untuk berarsiran, dan bermanfaat.

Dalam mengelola tujuan, misi, dan visi organisasi, Angsamerah terus berupaya menyeimbangkan peran publik, swasta, dan pemerintah, serta orientasi profit versus sosial. Dasar keseimbangan sudah pasti harus menjunjung dan mengutamakan aspek kemanusiaan.

Pengalaman menunjukkan tiga faktor utama berikut ini memengaruhi keputusan untuk memulai investasi mandiri yang berdampak sosial:

1. Tekad dan keberanian seseorang

Sekalipun ada kata “kami”, untuk memulai butuh tekad kuat dan keberanian satu orang pembuat keputusan. Setelah itu barulah bergulir menjadi usaha dari dua atau tiga orang, tim, bahkan bisa berkembang menjadi organisasi berbadan hukum. Tekad dan keberanian membuat kita aktif berpikir dan bergerak melangkah.

Mungkin sekarang timbul pertanyaan yang menggelitik: bagaimana tekad dan keberanian bisa lahir dalam diri seseorang? Pertanyaan ini menarik. Pemikiran saya tentang pertanyaan ini akan saya tulis di artikel terpisah ya.

2. Modal investasi mandiri utama merupakan gabungan tiga elemen yaitu pengetahuan, waktu, dan finansial

Jangan kaget bila tekad dan keberanian tahu-tahu menyurut atau bahkan sirna karena kita kelewat terpaku pada isu finansial. Saya sudah mengalaminya sendiri, bahkan sampai sekarang pun sesekali masih melemah.

Kita lupa bahwa ada modal penting lain yang kita miliki yaitu modal diferensiasi pengetahuan, pengalaman, dan keahlian, serta waktu. Kita mengelola agenda dan tanggung jawab lain secara efisien dan efektif.

Saya berharap paragraf ini memberi sahabat kesempatan untuk memikirkan apakah tertarik pada kemandirian berinvestasi di isu kesehatan dan sosial?

Apakah kemudian ketertarikan atau tekad sahabat surut atau sirna? Bila ya, kira-kira apa penyebabnya? It’s okay bila sahabat tidak tertarik berinvestasi mandiri, atau mungkin tertarik tapi tunda dulu deh. Ini pilihan dan sahabatlah yang lebih memahami apa yang sahabat minati dan/atau prioritaskan/butuhkan.

3. Dokumentasikan

Sediakan waktu untuk menuliskan pemikiran yang berseliweran di kepala kita maupun hasil diskusi, tentang permasalahan maupun ide-ide solusi dan target yang dituju. Kemudian secara konsisten perbaharui, tambahkan, dan tajamkan. Dokumen tertulis membantu rencana kegiatan kita menjadi terarah dan tajam, meringankan beban kerja kita pada masa mendatang, serta membantu memprediksi dan meminimalkan risiko yang tidak diharapkan. Selain itu, dokumen tertulis dapat digunakan sebagai proposal untuk mendapatkan peluang suntikan investasi finansial.

Berefleksi dari perjalananan melampaui 12 tahun berinvestasi di bisnis sosial, saya merasakan betapa berinvestasi mandiri itu cocok dan menyenangkan, serta memberikan kepuasan tersendiri dalam perjalanan saya memaknai hidup. Semoga semakin banyak sahabat di Indonesia yang mengapreasiasi serta mempunyai tekad dan keberanian dalam mendukung budaya berinvestasi mandiri di isu-isu sosial. Apalagi bila sahabat atau organisasi sahabat ikut terlibat, bahkan menginisiasi pelopor usaha-usaha sejenis ini di masyarakat.

Artikel Terkait

Transformative Leadership Program: Model Kepemimpinan yang Wajib Dimiliki!

Strategic Leadership Program: Menjadi Pemimpin yang Strategis, Bukan Cuma Bossy!

Cara Praktis Menulis Konsep Bisnis Sosial

Bagaimana Membangun Usaha Bisnis Sosial yang Sehat?

Forum “Market-driven Approaches to Advance the Financial Sustainability of Community-based HIV Services in Asia”

Bangkok, Thailand 2022

Membangun dan Mengelola Klinik, Mahal atau Murah?

Sebelumnya
Selanjutnya

Jadwalkan sesi dengan
Dr. Nurlan & Partners sekarang

Hubungi Kami

Silahkan gunakan formulir ini kapan saja untuk menghubungi kami dengan pertanyaan, atau untuk membuat janji.

Anda juga dapat menghubungi kami melalui WhatsApp atau telepon pada jam klinik di +62 8111 368 364.