Direct Acting Antiviral: Terobosan Dalam Hepatitis C

Setelah membaca tentang data Hepatitis C sekarang kita membaca cerita lebih lengkap tentang penyakit tersebut.

Hepatitis C merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus hepatitis C. Penyakit ini memiliki gejala yang sangat bervariasi, dimulai dari sakit ringan dalam beberapa minggu hingga kerusakan hati yang menyebabkan hati tidak dapat melakukan fungsinya atau gagal hati. Virus hepatitis C juga menjadi penyebab terbesar kanker hati. Virus ini ditularkan melalui kontak dengan darah yang terkontaminasi oleh virus tersebut seperti pemakaian narkoba suntik transfusi darah, penggunaan peralatan medis yang memungkinkan ada pertukaran darah. Hubungan seks juga memungkinkan menjadi media penularan bila ada kontak dengan darah. Sayangnya hingga saat ini belum ada vaksin untuk hepatitis C.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada tahun 2016 diperkirakan 71 juta jiwa mengidap infeksi hepatitis C kronis di seluruh dunia dan diperkirakan 399.000 orang meninggal tiap tahunnya oleh karena komplikasi dari infeksi hepatitis C kronis, seperti gagal hati kronis (sirosis hepatis) maupun kanker hati (karsinoma hepatoseluler). Virus hepatitis C ditemukan secara endemis di seluruh dunia dengan distribusi utama didapatkan di daerah mediterania dan eropa timur. Di Indonesia, infeksi hepatitis C didominasi oleh infeksi virus hepatitis C genotipe 1.

Bagaimana manifestasi klinis dan deteksi infeksi hepatitis C?

Pada kasus infeksi hepatitis C sebagian besar tidak menimbulkan gejala. Gejala muncul pada infeksi akut. Gejala yang muncul pada infeksi akut berupa demam, kelelahan, penurunan nafsu makan, mual, muntah, perubahan warna air seni seperti teh, kulit dan mata terlihat kuning, dan nyeri sendi. Gejala ini terjadi setelah masa inkubasi sekitar 2 minggu hingga 6 bulan. Namun, infeksi akut sangat jarang dijumpai sehingga diagnosis hepatitis C umumnya ditegakkan pada saat skrining kesehatan dengan pemeriksaan antibodi anti-HCV. Bila ditemukan anti-HCV antibodi positif, maka pemeriksaan selanjutnya dapat dilakukan HCV RNA untuk menilai infeksi hepatitis C kronis. Bila ditemukan RNA untuk virus hepatitis C, maka untuk menilai dampak yang terjadi pada hati dapat dilakukan dengan pemeriksaan biopsi, fibroscan, atau secara sederhana dengan menilai perbandingan antara jumlah enzim hati dan keping darah.

Pemeriksaan deteksi infeksi hepatitis C perlu dilakukan pada kelompok orang dengan risiko tinggi, yaitu orang dengan riwayat penggunaan narkoba jarum suntik, riwayat transfusi darah, riwayat pasangan seksual yang terdiagnosis hepatitis C, pasien dengan riwayat infeksi HIV, dan anak yang dilahirkan dari ibu dengan infeksi hepatitis C, orang yang melakukan tindik dan atau tato, orang dalam lingkungan padat dan tertutup seperti penjara.

Bagaimana tatalaksana hepatitis C?

Infeksi baru hepatitis virus C tidak selalu memerlukan pengobatan karena ada sekitar 30% (15–45%) kasus sembuh sendiri tanpa pengobatan tetapi karena kekebalan tubuh sendiri mampu untuk menyembuhkan. Namun ketika hepatitis C menjadi kronis maka diperlukan pengobatan.

Dahulu, tatalaksana infeksi hepatitis C dilakukan dengan tujuan untuk mencegah munculnya komplikasi penyakit hati, fibrosis, sirosis, kanker hati, dan kematian. Pilar terapi hepatitis C dahulu dilakukan dengan interferon dengan ribavirin. Namun, terapi tersebut kurang menggembirakan terutama pada pasien dengan infeksi hepatitis C genotipe 1 karena hanya 40-50% pasien yang berhasil mencapai tahap remisi bebas virus setelah pengobatan 24 minggu. Oleh karena itu, dilakukan berbagai penelitian untuk mengembangkan jenis obat baru untuk mengobati dan bila mungkin mengeradikasi virus hepatitis C, yaitu dengan penggunaan obat yang disebut sebagai Direct acting antiviral (DAA). DAA bekerja menghambat perkembangbiakan virus hepatitis C melalui penghambatan enzim yang berperan pada perkembangbiakan virus. Penggunaan kombinasi DAA dalam pengobatan virus hepatitis C menunjukkan efektifitas tinggi serta keamanan yang baik. Tentu hal ini memberikan harapan bagi kesembuhan infeksi virus hepatitis C.

Ada hal lain yang juga sangat penting dalam keberhasilan pengobatan yaitu kepatuhan pasien untuk mencegah terjadinya putus obat yang dapat mengakibatkan resistensi virus terhadap tatalaksana farmakologis yang tentu tidak diinginkan. Sehingga diperlukan kerja sama antara dokter, perawat, hingga dukungan psikiatri bagi pasien ini. Perubahan pola hidup juga ikut berperan dalam proses penyembuhan seperti beberapa faktor seperti menurunkan berat badan, memperbaiki profil lemak darah seperti kolesterol, penanganan gangguan metabolisme tubuh dan penghentian konsumsi alkohol dapat dilakukan untuk meningkatkan angka keberhasilan terapi hepatitis C dengan modalitas DAA.

Artikel Terkait

Seks dalam Perkawinan

Bagian 3

Lari dan Seks: Indikator Hidup Sehat

Jamur Yang Tumbuh Di Setiap Musim

The Silent Infection

Angsamerah di Praktik Dokter Mandiri Depok, Dr. Lamsaria Siburian

Fantasi Seksual dan Mimpi Erotis

Previous
Next

Buat janji dokter sekarang

Hubungi Kami

Silahkan gunakan formulir ini kapan saja untuk menghubungi kami dengan pertanyaan, atau untuk membuat janji.

Anda juga dapat menghubungi kami melalui WhatsApp atau telepon pada jam klinik di +62 8111 368 364.