Getting Comfortable Talking About the Uncomfortable

Harus diakui bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang menganggap tabu beberapa hal yang sebenarnya wajar, sehingga hal-hal ini akhirnya dibiarkan dan tidak dibicarakan dan masyarakat pun menjadi tidak mengerti dan tidak memiliki pengetahuan yang cukup. Salah satunya adalah isu kesehatan reproduksi yang saat ini masih dianggap tabu. Oleh karena itu perlu diadakan edukasi seputar kesehatan reproduksi sedini mungkin untuk membuka wawasan dan pengertian mengenai tubuh kita.

Pada Sabtu, 24 Juli 2021, Women Beyond dan GASA menyelenggarakan sesi diskusi daring bertajuk “Let Me Tell You SHEcrets: Time to Get Comfortable, Talking about the Uncomfortable” bersama dengan Dr. Adiyana Esti, Advokat Edukasi Seks & dokter dari Klinik Angsamerah serta Jessi Tan, Aktivis Body Positivity dan pendiri Things Untouched. Diskusi ini dihadiri oleh para remaja perempuan yang sedang duduk dibangku SMA maupun mahasiswi dari berbagai kalangan.

Sejak dibentuk pada tahun 2020, Women Beyond sebagai organisasi non-profit berfokus pada Professional Training & Coaching untuk memberdayakan para perempuan untuk menjadi pemimpin muda dalam komunitas mereka melalui kesempatan berjejaring, lokakarya dan mentorship.

Sementara itu GASA (Global Active Student Association) adalah sebuah organisasi yang bertujuan untuk mendorong generasi pelajar kita selanjutnya untuk meningkatkan kesadaran global mereka, berpartisipasi dalam lingkup internasional, dan pembangunan bangsa.

Dipandu oleh Fika Deaputri, Head of Internal Operation Women Beyond, sesi dimulai dengan perkenalan setiap peserta dan alasan mereka mengikuti diskusi ini, di mana banyak peserta yang mengaku bahwa mereka tidak mendapat edukasi yang cukup mengenai tubuh mereka baik dari Pendidikan formal, maupun dari orang tua. Setelah itu, dokter Esti memberikan pemaparan materi mengenai anatomi tubuh perempuan dan detil dari organ reproduksi perempuan serta keragamannya.

Lebih lanjut dalam sesi diskusi, dokter Esti menjelaskan mengenai fakta dan mitos yang selama ini beredar tentang organ reproduksi perempuan. Menurut dokter Esti, masyarakat harus mulai berani untuk secara terbuka mendiskusikan kesehatan reproduksi tanpa menganggapnya sebagai sesuatu yang tabu, agar tidak menimbulkan kebingungan dan salah paham.

Misalnya, seberapa sering kita mendengar istilah “burung” untuk menggambarkan penis? Padahal tidak ada yang salah dengan kata penis maupun vagina. Ini dia kenapa sex education itu penting, supaya kita bisa lebih mengerti tentang tubuh kita. Apalagi kalau diberikan sejak dini, bisa mengurangi dan mencegah terjadinya pelecehan seksual pada anak juga,” ujar dokter Esti.

Kegiatan diskusi dilanjutkan dengan pembahasan seputar body positivity oleh Jessi Tan, di mana banyak peserta yang berbagi tentang pengalamannya terkait rasa percaya diri, eksplorasi tubuh serta cara mengekspresikan diri melalui penampilan. “Things Untouched sendiri adalah brand kecantikan yang memiliki visi untuk meng-empower perempuan melalui paham body positivity, di mana seperti kata dokter Esti tadi, kita memiliki bentuk tubuh yang berbeda-beda, jadi sebenarnya tidak ada standar kecantikan yang ideal. Ini semua terdistorsi oleh apa yang ditampilkan pada media mainstream maupun media sosial,” kata Jessi.

Namun, Jessi menjelaskan bahwa masih banyak orang yang menyalahartikan makna body positivity. Menurut Jessi, body positivity sendiri tidak membenarkan kita untuk menjadi “malas merawat diri” alih-alih penerimaan diri “apa adanya”, melainkan mendorong kita untuk bertumbuh menjadi pribadi yang baik luar dan dalam. Oleh karena itu, kita harus bisa melakukan segala sesuatu dengan penuh perhatian.

Usai berbagi pengalaman dan tanya-jawab, dokter Esti menyimpulkan bahwa kita harus bisa mengenal tubuh kita sendiri dan tidak perlu merasa malu atau tabu. Dengan mengenal tubuh kita sendiri maka kita bisa belajar untuk lebih menerima diri sendiri serta akan memudahkan kita untuk mengidentifikasi jika terjadi masalah. Langkah selanjutnya yang dianjurkan dokter Esti jika tubuh kita mengalami hal yang tidak wajar adalah segera konsultasi ke dokter.

Lagi-lagi permasalahan yang muncul adalah masih adanya stigma dan diskriminasi oleh tenaga kesehatan menyangkut masalah kesehatan reproduksi. Oleh karena itu, Angsamerah hadir sebagai institusi dan fasilitas layanan kesehatan primer yang memberikan pelayanan yang ramah tanpa diskriminasi dan penghakiman. Ditambah dengan pelatihan dan edukasi bagi berbagai kalangan, Angsamerah yakin bahwa masyarakat bisa meningkatkan kesehatannya dengan signifikan.

Artikel Terkait

Pelayanan berkualitas dimulai dengan pelayanan primer

Seks, Seksual dan Seksualitas

Premarital Health Check Up, Penting Nggak Sich?

Webinar

Pejuang Vaginismus

Bukan Aku Tidak Mau, Tapi Aku Tidak Bisa

Apa yang dilakukan virus HIV di dalam tubuh manusia

Kanker Payudara

Sebelumnya
Selanjutnya

Hubungi Kami

Silahkan gunakan formulir ini kapan saja untuk menghubungi kami dengan pertanyaan, atau untuk membuat janji.

Anda juga dapat menghubungi kami melalui WhatsApp atau telepon pada jam klinik di +62 8111 368 364.