Author

Editor

Ghosting

Meninggalkan Hubungan Tergantung Tak Berujung

Sebagai makhluk sosial, setiap individu tentunya saling terhubung dengan satu sama lain, baik dengan keluarga, teman, kolega, pasangan, dsb. Relasi yang terjalin antar individu pun pasti memiliki dinamikanya masing-masing. Ada yang berjalan baik-baik saja, ada relasi yang terjalin sangat erat, juga ada relasi yang mungkin menimbulkan ketidaknyamanan pada salah satu pihak. Ketika rasa ketidaknyamanan ini muncul, maka tidak jarang orang-orang memilih untuk menghindar bahkan menghilang begitu saja tanpa memberikan penjelasan. Fenomena menghilangnya satu pihak dalam sebuah relasi sering disebut dengan istilah “ghosting”.

Ghosting bisa diartikan sebagai putusnya komunikasi secara tiba-tiba tanpa ada kabar atau penjelasan dari individu yang menghilang. Umumnya istilah ghosting ini lebih mengacu pada hubungan romantik, namun saat ini istilah ghosting bisa dikaitkan dengan hubungan lainnya seperti pertemanan atau mungkin hubungan kerja.

Dalam sebuah ilustrasi misalnya, Wati dan Tomi adalah dua orang yang hampir selalu terlihat bersama di setiap situasi. Mereka seakan tidak terpisahkan. Mereka selalu berdiskusi mencetuskan ide bersama, menyusun rencana dan menjalaninya bersama. Hubungan mereka terlihat baik-baik saja sampai lama kelamaan kami, rekan-rekan kerjanya tidak melihat mereka bersama lagi. Wati masih bekerja bersama kami, namun terasa senyap tanpa Tomi. Tomi tidak dapat dihubungi, di tempat kos tidak ada, tidak membalas bahkan membaca pesan, ditelepon tidak diangkat. Begitu pula dengan akun media sosialnya terlihat “mati”. Hal ini membuat semua orang menjadi bingung dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.

Walaupun akhir-akhir ini istilah ghosting menjadi popular, namun hal ini bukanlah sebuah fenomena baru. Bisa jadi anda pernah merasakan menjadi korban ghosting atau bahkan meng-ghosting orang lain?

Ghosting Membuat Luka Hati

Seorang perempuan datang ke klinik kami dengan wajah sedih dan tidak bersemangat. Ketika diwawancarai, ia mengaku di-ghosting oleh teman dekatnya setelah berteman selama dua tahun. Ia merasa sakit hati, seolah dirinya seperti sampah dan tidak berharga. Selain itu ia juga mengeluh sulit tidur, tidak nafsu makan, merasa sakit di sekujur tubuh, lemas dan tidak bertenaga. Ia pun menjadi pemalu dan tidak mau bergaul jika tidak penting. Dari keluhan ini dapat disimpulkan bahwa fungsi tubuh, emosi serta pikirannya terganggu setelah di-ghosting oleh teman dekatnya.

Kejadian seperti ini bisa dimaklumi, karena pada dasarnya manusia senang untuk berelasi dan mendapat pengakuan atau validasi dari orang lain. Kita akan cenderung merasa senang dan berharga ketika mendapatkan perhatian dari orang lain. Sebaliknya, jika kita dicampakkan maka kita akan merasa terbuang dan tidak berharga.

Mengapa Terjadi Ghosting

Pastinya ada faktor penyebab seseorang menghilang begitu saja tanpa “pamit”. Faktor ini yang selalu menjadi tanda tanya besar bagi si korban ghosting. Meskipun alasan setiap orang berbeda, namun salah kemungkinan terjadi ghosting adalah sulitnya pelaku ghosting untuk berkomunikasi, sehingga mereka tidak merasa nyaman atau tidak memiliki alasan untuk “berpamitan”.

Diperlukan keterampilan dan keberanian untuk bisa “berpamitan” dan menjelaskan kondisi yang sebenarnya. Jika kita tidak terbiasa melatih diri untuk berani speak up dan mengerti situasi, maka “kabur” adalah jalan keluar yang cenderung diambil. Dengan melarikan diri, maka kita tak lagi perlu berkonfrontasi dengan orang lain. Seseorang yang takut menghadapi perasaan orang lain biasanya mudah untuk melarikan diri.

Apa yang harus dilakukan saat kita menjadi korban ghosting?

Seperti ilustrasi Wati dan Tomi, banyak korban ghosting yang menjadi bingung ketika hal ini terjadi pada mereka. Tidak tahu harus berbuat apa, malah mempertanyakan apa yang salah dengan diri mereka. Perlu dipahami bahwa jika kita menjadi korban ghosting, ini bukanlah refleksi diri kita melainkan refleksi dari diri orang yang menjadi ghost. Orang ini tidak tahu cara pamit, atau takut pamit dengan berbagai alasan. Mungkin mereka sendiri juga bingung menghadapi stuasi ini sehingga memilih pergi tanpa alasan. Oleh karena itu kita butuh membangun sebuah sistem yang bisa mendukung dan mengayomi kita, misalnya keluarga atau teman yang akan membantu kita bangkit dari keterpurukan.

Move On dari ghosting

  1. Mulailah melangkah secara perlahan, misalnya berjalan kaki sebagai olah gerak awal. Tak perlu jauh, di sekitar ruang gerak anda juga cukup. Dengan menggerakkan otot maka akan memicu hormon semangat keluar dari persembunyiannya untuk membuat anda merasa lebih segar.
  2. Berbicaralah dengan orang-orang di sekitar anda tentang berbagai hal sederhana seperti mengucapkan selamat pagi atau membahas berita pagi ini. Berbicara dengan orang di sekitar anda akan membuat anda merasa lebih bersosialisasi dengan banyak orang lain.
  3. Mendengarkan lagu untuk memacu semangat dan memotivasi anda untuk beraktivitas.
  4. Bacalah berita ringan atau esai untuk membantu mengalihkan perhatian anda dari rasa galau.
  5. Jika anda masih merasa tidak tertolong, segeralah minta bantuan dari para profesional.

Artikel Terkait

ADHD

Bisa Dialami Orang Dewasa Juga, loh!

Kanker dan Kesehatan Mental

Are You Okay?

Why People Do Drugs?

Keuntungan dan Tantangan Kencan Online

Memahami kerja otak melalui efek Stroop

Sebelumnya
Selanjutnya

Buat janji dokter sekarang

Hubungi Kami

Silahkan gunakan formulir ini kapan saja untuk menghubungi kami dengan pertanyaan, atau untuk membuat janji.

Anda juga dapat menghubungi kami melalui WhatsApp atau telepon pada jam klinik di +62 8111 368 364.