Kehamilan membawa banyak perubahan pada tubuh. Salah satu kondisi yang cukup sering terjadi namun kerap luput dari perhatian adalah infeksi saluran kemih (ISK). Diperkirakan sekitar 2–10% ibu hamil mengalami ISK, dan sebagian di antaranya mengalami infeksi berulang selama masa kehamilan.
ISK terjadi ketika bakteri masuk dan berkembang biak di saluran kemih, yaitu sistem yang berfungsi untuk memproduksi dan mengeluarkan urine. Saluran kemih terdiri dari ginjal dan ureter (saluran kemih bagian atas), serta kandung kemih dan uretra (saluran kemih bagian bawah).
Gejala yang Perlu Diwaspadai
ISK dapat menimbulkan berbagai keluhan, antara lain:
- Nyeri atau rasa terbakar saat buang air kecil.
- Sering buang air kecil, bahkan sedikit-sedikit.
- Terus-menerus merasa ingin buang air kecil.
- Nyeri di perut bagian bawah atau pinggang.
- Urine tampak keruh, berbau lebih menyengat, atau bahkan bercampur darah.
- Demam dan menggigil jika infeksi telah menyebar ke ginjal.
Namun tidak semua ibu hamil yang mengalami ISK memiliki gejala. Ada kondisi yang disebut bakteriuria asimtomatik, yaitu ketika bakteri ditemukan dalam urine meskipun tidak ada keluhan yang dirasakan.
Mengapa Bakteriuria Asimtomatik Perlu Diwaspadai?
Meskipun tidak menimbulkan gejala, bakteriuria asimtomatik bukanlah kondisi yang boleh dianggap sepele. Pada ibu hamil, kondisi ini dapat meningkatkan risiko:
- Kelahiran prematur.
- Bayi lahir dengan berat badan rendah.
- Infeksi ginjal (pielonefritis).
Risiko terjadinya infeksi ginjal pada ibu hamil dengan bakteriuria asimtomatik bahkan dapat meningkat hingga 20–30 kali lipat dibandingkan ibu hamil yang tidak memiliki bakteri dalam urinenya.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa deteksi dan pengobatan sejak dini dapat membantu menurunkan risiko komplikasi tersebut. Oleh karena itu, pemeriksaan kehamilan secara rutin sangat penting dilakukan.
Bagaimana ISK Didiagnosis?
Dokter dapat mendiagnosis ISK melalui beberapa pemeriksaan, antara lain:
- Pemeriksaan urine lengkap, untuk melihat adanya bakteri dan peningkatan jumlah sel darah putih yang menandakan infeksi.
- Kultur atau biakan urine, untuk mengetahui jenis bakteri penyebab infeksi sekaligus menentukan antibiotik yang paling efektif.
Komplikasi ISK pada Ibu Hamil
Jika tidak ditangani dengan baik, ISK dapat menyebabkan komplikasi yang lebih serius.
1. Infeksi Ginjal (Pielonefritis)
Bakteri dapat menyebar dari kandung kemih ke ginjal dan menyebabkan infeksi yang lebih berat. Kondisi ini terjadi pada sekitar 0,5–2% kehamilan dan paling sering muncul pada trimester kedua dan ketiga.
Gejalanya dapat berupa:
- Demam tinggi.
- Nyeri pinggang atau panggul.
- Mual dan muntah.
- Nyeri saat buang air kecil.
- Sering atau sulit menahan keinginan untuk buang air kecil.
2. Kelahiran Prematur
Infeksi yang tidak diobati dapat meningkatkan risiko persalinan sebelum usia kehamilan cukup bulan.
3. Berat Badan Lahir Rendah
Bayi dapat lahir dengan berat badan di bawah normal, yang berisiko memengaruhi kondisi kesehatannya setelah lahir.
Pengobatan ISK Saat Hamil
ISK pada ibu hamil umumnya diobati menggunakan antibiotik yang aman untuk kehamilan.
Penting untuk mengonsumsi obat sesuai petunjuk dokter dan menghabiskannya meskipun gejala sudah membaik atau hilang.
Hal ini bertujuan memastikan seluruh bakteri penyebab infeksi benar-benar teratasi.
Faktor Risiko ISK pada Ibu Hamil
Beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko terjadinya ISK selama kehamilan antara lain:
- Pernah mengalami ISK sebelumnya.
- Memiliki diabetes sebelum kehamilan.
- Riwayat kehamilan yang banyak (multiparitas).
- Kondisi sosial ekonomi yang rendah.
Mengapa Ibu Hamil Lebih Rentan Mengalami ISK?
Ada beberapa alasan mengapa risiko ISK meningkat selama kehamilan:
1. Perubahan Hormon
Hormon kehamilan membuat saluran kemih menjadi lebih rileks dan melebar. Akibatnya, aliran urine menjadi lebih lambat sehingga bakteri lebih mudah berkembang biak.
2. Tekanan dari Rahim yang Membesar
Seiring bertambahnya usia kehamilan, rahim dapat menekan kandung kemih dan ureter. Kondisi ini menyebabkan urine tidak keluar secara sempurna dan tertahan lebih lama di saluran kemih.
3. Perubahan Komposisi Urine
Kehamilan dapat menyebabkan perubahan tingkat keasaman (pH) urine dan meningkatkan kandungan glukosa. Lingkungan seperti ini lebih disukai oleh bakteri untuk berkembang.
Cara Mencegah ISK Selama Kehamilan
Kabar baiknya, risiko ISK dapat dikurangi dengan beberapa langkah sederhana berikut:
- Minum air putih yang cukup, sekitar 8–10 gelas per hari.
- Jangan menahan keinginan untuk buang air kecil.
- Membersihkan area kemaluan dari depan ke belakang setelah buang air besar.
- Buang air kecil sebelum dan sesudah berhubungan seksual.
- Menggunakan pakaian dalam berbahan katun yang nyaman dan tidak terlalu ketat.
- Menghindari penggunaan sabun atau produk pembersih area kewanitaan yang berpotensi mengganggu keseimbangan bakteri alami.
- Melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin sesuai jadwal.
Jangan Abaikan Keluhan Saat Buang Air Kecil
ISK merupakan salah satu infeksi yang cukup sering terjadi selama kehamilan. Meski terkadang tidak menimbulkan gejala, kondisi ini tetap perlu mendapatkan perhatian karena dapat meningkatkan risiko komplikasi bagi ibu maupun janin.
Pemeriksaan urine secara berkala, terutama pada awal kehamilan dan selama kontrol rutin, dapat membantu mendeteksi infeksi lebih dini.
Jika terdiagnosis ISK, pengobatan yang tepat sesuai anjuran dokter akan membantu mencegah komplikasi dan menjaga kesehatan ibu serta tumbuh kembang janin selama kehamilan.