Author

Familia Suspiani Ngabut, S.ST

Kenali dan lindungi anak dari kejahatan pedofilia

Apa itu pedofilia?

Pedofilia merupakan kondisi dimana orang dewasa atau remaja memiliki preferensi, tindakan dan kepuasan seksualnya tertuju kepada kanak-kanak, biasanya korbannya berusia di bawah 13 tahun. Pelaku biasanya laki-laki, korbannya dapat laki-laki atau perempuan. Dikatakan korban, karena anak tidak dapat berkehendak bebas menentukan, lebih tepat dikatakan terperangkap dalam hubungan dengan pelaku. Seberapa besar angka kejadiannya di masyarakat, tidaklah diketahui, mungkin 3-5% dari populasi laki-laki. Berita yang kita baca di media menunjukkan korbannya anak-anak, bisa laki-laki, dapat perempuan. Nampaknya banyak anak laki-laki, pelakunya seringkali merupakan orang dekat dari korban, seperti pengasuhnya, tetangga, guru, dsb. Diperkirakan 20 persen anak-anak di Amerika Serikat telah menjadi korban pedofilia.

Apa saja gejala pedofilia dan ciri seorang pedofil?

Pelaku pedofilia didiagnosis berdasar atas kriteria diagnosis dibawah ini:

  • Fantasi seksual berulang dan intens, dorongan atau perilaku aktivitas seksual dengan anak (13 tahun dan dibawahnya) untuk suatu jangka waktu setidaknya 6 bulan.
  • Dorongan seksual ini telah ditindak lanjut dengan perilaku, atau secara klinis menimbulkan distress , atau mengganggu hubungan sosial, pekerjaan, atau area keberfungsian orang tersebut.
  • Orang tersebut setidaknya berumur 16 tahun atau 5 tahun lebih tua dari korbannya. Namun, ini tidak termasuk individu pada akhir masa remaja yang terlibat dalam hubungan seksual dengan anak berusia 12 atau 13 tahun. Kesulitan penanganan pedofilia adalah ada rasa malu untuk melaporkan kejadian. Pelaku tidak pernah sampai diketahui, kalau tidak tertangkap pihak berwajib. Tidak ada pelaku yang secara sukarela datang kepada klinisi kesehatan jiwa. Biasaya konseling ataupun psikoterapi dilakukan untuk korban. Terapi bagi pelaku dilakukan jika dirujuk  oleh petugas hukum. Jika kita mendapatkan orang dewasa yang mengakses pornografi anak-anak secara bersemangat dan hampir setiap saat, maka ada indikasi kearah pedofilia. Pelaku biasanya bukan hanya mengalami pedofilia, tetapi juga mempunyai gangguan lain seperti gangguan cemas, depresi mayor, dan penggunaan Napza.

Apa penyebab pedofilia?

Penyebabnya tidak diketahui. Terdapat beberapa bukti bahwa terjadi dalam keluarga, yang mungkin genetik atau dipelajari dari perilaku keluarga. Faktor yang ikut berperan adalah ketidak normalan kadar hormon seksual laki-laki, zat kimiawi serotonin di otak, namun faktor ini bukan penyebab. Riwayat pelaku pernah menjadi korban pedofilia di masa kanaknya merupakan faktor potensial perkembangan pedofilia. Perilaku meniru, suatu proses belajar, ketika menjadi korban pedofilia, boleh jadi merupakan faktor pendorong berulangnya pedofili yang kali kemudian ia menjadi pelakunya. Agresivitas seksualnya meniru pelaku, yang kemudian dilakonkannya. Seseorang menyadari hasrat seksualnya yang terbangkit oleh figur anak, biasanya terjadi pada masa pubertas.

Apakah pedofilia bisa disembuhkan?

Pemberian obat menimbang pada kadar hormon testoteron yang tinggi, gangguan neurotransmitter di otak, kecemasan, depresi dan gangguan penggunaan Napza. Obat saja tidak cukup untuk mengubah perilaku, perlu sesi mendalam psikoterapi oleh ahli psikoterapi. Meskipun dalam terapi yang intens, ramalan perbaikan (prognosis) sulit untuk dikatakan baik. Pengubahan fantasi seksual tertuju pada anak, merupakan hal sulit untuk diatasi.

Apa saja yang bisa dilakukan untuk mengatasi pedofilia?

Cara terbaik untuk mengetahui apabila seseorang merupakan pedofil adalah dengan membawa mereka berkonsultasi dengan psikolog untuk menemukan cara mencegah pasien melakukan aksi ilegal dan membantunya mempertahankan kehidupan yang normal. Saat mengetahui atau mencurigai seseorang dengan pedofilia, tetap tenang dan cari tahu apabila mereka dapat melakukan tindakan kriminal. Penderita yang tidak parah dan tidak berbahaya masih dapat bergaul dengan orang lain di masyarakat.
Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Apa saja yang bisa dilakukan untuk melindungi anak kita dari kejahatan pedofilia?

1. Ajarkan anak tentang anatomi tubuhnya

Pengenalan anggota tubuh harus dilakukan sedini mungkin, termasuk dengan penamaan yang tepat untuk genitalia mereka. Banyak orangtua yang memilih ‘menghaluskan’ istilah anatomi tubuh seperti “payudara”, “penis”, atau “vagina” dengan kata-kata yang menurut mereka lebih bisa diterima. Cara ini salah. Dengan mengajarkan anak nama-nama yang tepat untuk setiap bagian tubuh, mereka akan lebih akurat saat menceritakan apa yang terjadi pada mereka jika seseorang melecehkan mereka.

2. Ajarkan anak mengenai batasan

Prinsip yang paling utama yang harus Anda ajarkan sejak dini adalah tubuh adalah milik pribadi, bahwa setiap manusia memiliki hak untuk menentukan apa yang bisa dan akan mereka lakukan terhadap tubuhnya masing-masing, siapa yang boleh menyentuhnya, dan bagaimana orang lain menyentuh tubuh mereka. Ajarkan pula bahwa ada area-area tertentu yang tidak boleh dilihat atau disentuh sama sekali oleh orang lain.

3. Kenalkan anak untuk membedakan mana sentuhan yang baik dan tidak

Sentuhan yang baik adalah sentuhan yang bisa memberikan kita kenyamanan dan merasa dipedulikan. Sedangkan sentuhan yang tidak baik adalah sentuhan yang menyakitkan, baik secara fisik maupun emosional. Contohnya: saat seseorang memukul, mencubit, atau menendangnya.

4. Ajarkan anak mana yang termasuk pelecehan seksual

Sentuhan yang termasuk pelecehan seksual sangat jelas, tidak akan membingungkan orang lain bahkan jika menggunakan istilah yang tidak lazim digunakan. Sentuhan pelecehan seksual adalah jenis-jenis sentuhan yang membuat anak-anak takut, cemas, atau gelisah di bagian-bagian tubuh privat (yang biasanya tertutup pakaian sehari-hari, termasuk baju renang). Jelaskan pada anak bahwa jika seseorang menyentuh mereka dan kemudian meminta mereka untuk menjaga rahasia tentang sentuhan tersebut, maka sentuhan tersebut adalah pelecehan seksual. Terangkan dengan jelas bahwa pelecehan seksual juga bisa terjadi jika mereka disentuh saat mereka menggunakan pakaian lengkap.

5. Ajarkan anak berkata tidak

Ajarkan anak bahwa mereka memiliki hak untuk menolak dan berkata tidak. Mayoritas kasus pelecehan anak dilaporkan berdasarkan paksaan dan bukan kekerasan fisik. Mengajarkan anak untuk bisa berkata “tidak!” dengan jelas dan tegas dapat memberikan perbedaan yang signifikan di banyak situasi. Saat berdiskusi dengan anak, perjelas bahwa mereka bisa bilang tidak kepada siapapun yang ingin mencium mulut, menyentuh vagina, penis, dada, atau bokong mereka, atau bagian-bagian tubuh lainnya yang biasanya tertutupi pakaian. Perjelas pula bahwa mereka punya hak untuk menolak dengan keras jika orang tersebut mengatakan bahwa sentuhan ini aman dan tidak akan membuat mereka dihukum. Ajari anak untuk mempercayai insting mereka dan jika sesuatu terasa aneh, katakan tidak.

6. Selalu damping anak dalam kehidupannya

Sisihkan sebagian waktu Anda untuk bersama anak dimana mereka bisa mendapatkan perhatian penuh dari Anda. Pastikan kepada mereka bahwa mereka bisa curhat kapan saja mengenai segala hal yang terjadi di keseharian mereka, atau jika mereka memiliki pertanyaan tertentu, atau jika mereka merasa seseorang membuat mereka merasa tidak nyaman. Pastikan pula bahwa mereka tidak akan mendapat masalah jika menceritakan hal-hal tersebut. Banyak pelaku pelecehan yang menggunakan trik ancaman atau suap agar korbannya menjaga rahasia tentang kekerasan yang mereka alami.

Sumber

Ratna Mardiati, dr, SpKJ (K)

Artikel Terkait

Webinar

Dampak Pandemi Pada Kesehatan Mental Pekerja Sosial

Mengenali Kekerasan Seksual pada Anak

Mengapa ibu hamil perlu tes HIV?

Masalah Psikologis Dalam Diagnosis HIV

Kecanduan Seks

Layanan kesehatan mental bagi pria dan wanita

Sebelumnya
Selanjutnya

Buat janji dokter sekarang

Hubungi Kami

Silahkan gunakan formulir ini kapan saja untuk menghubungi kami dengan pertanyaan, atau untuk membuat janji.

Anda juga dapat menghubungi kami melalui WhatsApp atau telepon pada jam klinik di +62 8111 368 364.