Author

Dr. Patrianef, Sp.B (K) V

Organisasi Profesi Dokter Indonesia, “Mau Dibawa Kemana?”

Pernah tidak melihat kawanan rusa atau kawanan “wildebeest” yang di buru oleh beberapa ekor singa? Yang senang menonton “Nat Geo” pasti sering melihat jumlah singa tidak banyak tetapi menakutkan bagi ribuan bahkan puluhan ribu “wildebeest”.

Yang menarik adalah, jumlah yang besar tetapi tidak menakutkan bagi singa untuk berburu. Perilaku wildebeest yang tidak peduli jika kawanannya diburu dan terbunuh bahkan tetap makan rumput jika singa sedang makan temannya membuat singa leluasa melakukan apapun pada kawanan wildebest. Beda dengan kawanan kerbau yang menakutkan bagi singa karena mereka akan memberikan perlawanan jika ada singa atau predator lain yang memburu mereka.

Yang lebih menarik lagi adalah gajah, jumlahnya tidak banyak. Tetapi tidak ada yang berani mengganggunya apalagi memburunya karena balasan dari gajah akan menakutkan bagi yang mengganggunya. Gajah yang besar akan melindungi gajah kecil.

Begitu juga organisasi profesi. Profesi itu akan diperlakukan terhormat jika Pimpinannya bisa mengayomi dan melindungi anggotanya dan jika perlu melakukan tindakan balasan bagi orang atau organisasi yang melakukan perbuatan tidak menyenangkan bagi anggotanya. Organisasi itu akan menjadi bulan bulanan bagi orang atau organisasi lain jika pimpinannya menganggap bahwa jabatan itu hanya menjadi jembatan untuk mencari posisi yang lebih tinggi dan pada saat diserang anggotanya maka pimpinannya cari selamat dan saling melemparkan tanggung jawab.

Kita merindukan dan menginginkan Pimpinan organisasi profesi kita yang kuat, cepat tanggap jika ada masalah. Turun ke lapangan jika ada masalah. Berdiskusi dan jika perlu menunjukkan powernya kepada yang memperlakukan anggotanya dengan tidak nyaman. Agar anggotanya merasa nyaman dan terlindungi.

Hal ini akan sulit terjadi jika Pimpinan organisasi profesi bersikap dan berlaku sebagai anak manis yang cenderung berlaku tidak tegas karena ingin dianggap sebagai orang baik agar dipertimbangkan untuk jabatan lain. Organisasi profesi harus mempertimbangkan pilihan, bahwa pimpinannya adalah orang yang tidak punya beban dan berjuang bukan demi kepentingan orang lain tetapi bagi kepentingan anggotanya.

Begitu juga dengan organisasi profesi kita dokter Indonesia. Banyaknya masalah pada kita saat ini menunjukkan bahwa organisasi kita berada pada satu titik tidak dianggap dan tidak dihargai lagi oleh orang atau kelompok lain. Suara perlawanan dari organisasi lemah karena pimpinannya mempunyai konflik kepentingan dan mempunyai kepentingan pribadi. Bahkan terkesan takut berhadapan dengan penguasa.

Seperti dokter spesialis di tempatkan di Puskesmas. Dokter spesialis berhenti massal dari RS Propinsi karena menuntut fasilitas pelayanan tetapi Pemda tetap tidak menyiapkan. Dokter disalahkan karena tidak bisa bekerja sementara obat dan alat medis lain tidak disediakan pemda karena anggaranya habis. Dokter tidak dibayar jasanya oleh Pemda dan akhirnya Pemda minta diputihkan dan tidak dibayarkan. Pada titik ini, dokter yang profesional dan tidak mempunyai pengetahuan diluar bidang ilmunya menjadi bulan bulanan bagi penguasa yang mempunyai orang orang yang menguasai aturan hukum. Jadilah seperti timun berhadapan dengan duren. Babak belur bahkan hancur dan konyolnya ada anjuran “berhenti saja jadi PNS, jadi pegawai swasta”. Anjuran yang tidak menyelesaikan masalah dan akan memicu masalah berikutnya. Dan yang sangat konyol organisasi profesi terkesan tidak mempunyai power dan tidak berada di depan melindungi anggotanya saat masalah muncul. Paling kuat hanya menyampaikan press release dengan mengundang wartawan atau tampil di televisi itupun karena undangan TV karena masalahnya sudah viral.

Kita semua yang menentukan akan dibawa kemana dokter indonesia. Kita yang menentukan mau jadi “wildebeest” yang selalu diburu dan masing masing cari selamat. Mau jadi Kerbau yang bersatu bersama menghadapi musuh dan saling melindungi. Mau jadi gajah yang tidak berani diganggu bahkan oleh predator kuat sekalipun. Yang pasti kita tentu saja tidak boleh menjadi singa yang memburu dan memakan kelompok lain.

Kita rindu organisasi profesi yang kuat agar masalah di Profesi ini bisa ditekan seminimal mungkin.

Jakarta, 21 Februari 2018

Dr. Patrianef, SpB(K)V
Staf Pengajar FK Negeri
Sekjen Perkumpulan Dokter Indonesia Bersatu (P-DIB)

Artikel Terkait

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)

Peluang Besar untuk Kemajuan - Bagian 2

Trend Global Tentang Tahanan Perempuan

Kebijakan Kontradiktif di Bidang Kesehatan

Politik Kesehatan yang Bermartabat dan Berbudi Luhur

Keterlibatan Masyarakat Sipil di G20 Indonesia 2022

Perhatian dan Rekomendasi Terhadap Layanan Kesehatan Bagi Tahanan Perempuan

Sebelumnya
Selanjutnya

Hubungi Kami

Silahkan gunakan formulir ini kapan saja untuk menghubungi kami dengan pertanyaan, atau untuk membuat janji.

Anda juga dapat menghubungi kami melalui WhatsApp atau telepon pada jam klinik di +62 8111 368 364.