Angsamerah Articles Osteoporosis

Osteoporosis

Sepuluh ribu langkah setiap hari.” begitu yang dikatakan sebuah iklan di media massa untuk mencegah wanita dari osteoporosis. Kenapa wanita? Kenapa harus banyak melangkah? Berikut informasinya.

Apa yang terjadi pada orang yang mengalami osteoporosis?

Sebagaimana kita tahu bahwa tulang memiliki massa karena tulang memiliki isi yang padat. Pada osteoporosis, tulang kehilangan kepadatannya sehingga rapuh dan mudah patah. Bayangkan saja tulang dengan osteoporosis itu seperti kayu yang sudah digerogoti rayap, ia akan menjadi berongga dan mudah patah. Hilangnya kepadatan tulang juga menyebabkan struktur tubuh berubah, sehingga seseorang dengan osteoporosis nampak mengkeret atau memendek.

Siapa saja yang bisa terkena osteoporosis?

Wanita lebih rentan mengalami osteoporosis akibat perubahan jumlah hormon estrogen setelah menopause (sekitar usia 50-an). Dalam angka, satu dari tiga wanita di dunia mengalami osteoporosis. Seiring dengan peningkatan usia, risiko terjadinya osteoporosis juga meningkat. Di Indonesia, sekitar 20% penduduk lanjut usia mengalami osteoporosis.

Faktor apakah yang membuat seseorang berisiko mengalami osteoporosis?

Menopause disebut-sebut menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian menopause, karena melewati masa ini terdapat penurunan jumlah hormon estrogen. Estrogen berfungsi untuk mengatur penggantian sel tulang bersama hormon lainnya. Mulai usia 30-45 tahun, proses penggantian sel-sel tulang juga tidak berjalan dengan seimbang, ditandai dengan proses penghancuran sel tulang yang lebih cepat daripada pembuatan sel tulang baru. Faktor risiko lainnya adalah:

– Merokok
– Postur tubuh kecil
– Kurang aktivitas fisik
– Kurang paparan sinar matahari
– Konsumsi obat yang menurunkan kepadatan tulang (mis: glukokortikoid)
– Kurang asupan kalsium
– Konsumsi kafein & alkohol
– Penyakit diabetes mellitus tipe I & II

Wanita Indonesia berisiko tinggi mengalami osteoporosis karena termasuk dalam ras Asia, biasanya berbadan kecil dan kurang terpapar matahari karena ketakutan akan warna kulit yang tidak cantik. Selain itu, menurut standar internasional konsumsi kalsium harian disarankan sebanyak 1000-1200 mg/hari, nyatanya di Indonesia konsumsi ini hanya sekitar 254-300 mg/hari. Maka, kita perlu untuk lebih mengatur komposisi makanan yang kita makan sehari-hari untuk mencegah terjadinya osteoporosis.

Bagaimana seseorang engetahui bahwa dirinya mengalami osteoporosis?

Keluhan yang paling sering dijumpai adalah ketika terjadi patah tulang panggul (sering pada wanita di atas usia 70 tahun) atau perubahan postur akibat patah tulang belakang. Kejadian lainnya adalah patah tulang pergelangan tangan yang lazim terjadi sebelum usia 50 tahunan.
Keadaan ini seperti patah tulang panggul membuat seseorang harus dirawat di rumah sakit bahkan menjalani operasi. Sementara patah tulang belakang biasanya tidak menimbulkan keluhan untuk sementara waktu, hanya makin lama disadari ada yang berubah pada bentuk tubuh seperti memendek atau terdapat seperti punuk di punggung. Osteoporosis dikenali secara tak sengaja pada pemeriksaan radiologis.

Pemeriksaan apa yang diperlukan untuk memastikan osteoporosis?

Untuk menentukan osteoporosis, dilakukan pemeriksaan kepadatan tulang menggunakan sinar-x. Cara ini sangat akurat dan tidak bersifat invasif, serta tersedia di berbagai rumah sakit besar.
Selain itu bisa dilakukan pemeriksaan kadar hormon yang berpengaruh pada kepadatan tulang, melakukan biposi tulang, atau pemeriksaan biokimia menggunakan darah.

Kapan perlu dilakukan pemeriksaan?

Setiap wanita yang sudah menopause dianjurkan melakukan pemeriksaan kepadatan tulang, mengingat faktor risiko yang dimiliki (usia, jenis kelamin dan penurunan estrogen). Pemeriksaan perlu lebih dipertimbangkan pada mereka yang berusia di atas 65 tahun.

Bisakah osteoporosis diobati?

Sampai saat ini, pengobatan dan/atau pencegahan osteoporosis dilakukan dengan memberikan tambahan hormon estrogen, namun tindakan ini berisiko memunculkan kanker payudara sehingga tidak disarankan sebagai tindakan utama. Pemberian obat yang memperlambat proses penghancuran tulang (biphosphonate), diet tinggi kalsium serta suplemen vitamin D juga membantu mengontrol osteoporosis. Yang paling penting adalah memodifikasi faktor risiko yang tersebut di atas untuk mencegah terjadinya osteoporosis.

Referensi

Harrison’s Principle of Internal Medicine 16th ed.
www.healthtalkonline.org
www.nof.org

Artikel Terkait

Mengenal Penyakit Pengentalan Darah

Bakteri ikut ke kantor

Sirosis Hati

Contoh Kasus Penyakit

Demensia

Tingkatan Gangguan dan Jenis Tesnya

Stunting

Tidak Sesederhana Memberikan Susu Sapi Ataupun Sejenisnya

Pertambahan Usia dan HIV

Sebelumnya
Selanjutnya

Buat janji dokter sekarang

Hubungi Kami

Silahkan gunakan formulir ini kapan saja untuk menghubungi kami dengan pertanyaan, atau untuk membuat janji.

Anda juga dapat menghubungi kami melalui WhatsApp atau telepon pada jam klinik di +62 8111 368 364.