Sifilis atau yang dikenal si “raja singa” adalah salah satu penyakit infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Penyakit ini tidak boleh dianggap sepele. Jika terlambat ditangani, sifilis bisa menimbulkan komplikasi serius hingga kematian.
Menurut data Kemenkes RI, pada tahun 2024 terdapat lebih dari 23 ribu kasus sifilis dan angkanya terus meningkat setiap tahun, termasuk di kalangan usia muda.
Sifilis dapat menular melalui:
- Kontak langsung dengan luka dari orang yang terinfeksi
- Aktivitas seksual (vaginal, anal, mapupun oral)
- Penularan dari ibu hamil ke janin.
Gejala awal biasanya muncul sekitar 10-90 hari setelah terpapar. Bentuknya berupa luka kecil yang tidak nyeri di area kelamin, anus, atau mulut. Luka ini sering hilang sendiri dalam 3-6 minggu.
Tapi Jangan Terkecoh, Sifilis Tidak Hilang Sendiri !
Meski lukanya hilang, bukan berarti penyakitnya sembuh!
Tanpa pengobatan, sifilis terus berkembang ke tahap berikutnya, yaitu dari tahap Primer, ke Sekunder, Laten dan Tersier.
Setiap tahap ini memiliki gejalayang berbeda, mulai dari tanpa gejala hingga muncul ruam, kutil, atau luka.
Karena gejala bisa datang dan pergi, banyak orang menganggapnya tidak serius. Inilah mengapa sifilis dikenal sebagai “The Great Pretender”.
Tahap yang paling berbahaya adalah sifilis tersier, karena dapat menyebabkan kerusakan organ permanen, seperti:
- Otak dan sistem saraf (Neurosifilis)
- Jantung dan pembuluh darah (Sifilis kardiovaskular)
- Kulit, tulang, dan organ lain (Gummas)
Ketika Sifilis Menyerang Mata
Salah satu komplikasi serius adalah neurosifilis, yaitu infeksi yang sudah menyerang sistem saraf.
Resiko meningkat pada:
- Orang dengan daya tahan tubuh rendah (misalnya pengidap HIV)
- Mereka yang tidak atau terlambat berobat
- Pasien yang tidak tuntas menjalani pengobatan
Pada kondisi tertentu, sifilis dapat menyerang mata, yang disebut neurosifilis oftalmik.
Gejala yang Perlu Diwaspadai:
- Penglihatan menurun
- Mata merah atau nyeri
- Sensitif terhadap cahaya (Fotofobia)
- Muncul bintik melayang (floaters) pada bidang pandang
- Penglihatan ganda (diplopia)
Infeksi ini bisa menyerang berbagai bagian mata, seperti:
- Uvea (lapisan tengah mata)
- Retina (lapisan belakang)
- Saraf optik
- Kornea (lapisan depan)
Sulit Dikenali, Tapi Ada Tanda Khas
Neurosifilis oftalmik sering sulit didiagnosis karena gejalanya mirip dengan penyakit mata lain.
Namun, perlu dicurigai jika gangguan mata muncul bersamaan dengan gejala neurologis, seperti:
- Gangguan pendengaran
- Gangguan keseimbangan
- Kelemahan otot wajah
- Kesulitan menelan
- Perubahan perilaku
Salah satu tanda khas adalah pupil Argyll Robertson, yaitu kondisi di mana pupil tidak bereaksi terhadap cahaya tetapi masih bereaksi saat fokus melihat dekat. Ini menandakan adanya kerusakan saraf yang serius.
Pemeriksaan yang Diperlukan
Untuk memastikan diagnosis, dokter dapat melakukan beberapa pemeriksaan:
1. Tes nonspesifik (nontreponema) adalah pemeriksaan untuk mendeteksi antibodi yang muncul akibat infeksi sifilis, tetapi bukan antibodi yang langsung spesifik terhadap bakteri penyebabnya (Treponema pallidum).
- Contohnya:
- venereal disease research laboratory (VDRL)
- rapid plasma reagin (RPR).
- Tes ini biasanya digunakan untuk:
- Skrining awal (pemeriksaan pertama untuk mendeteksi kemungkinan sifilis
- Menilai aktivitas penyakit (apakah infeksinya masih aktif)
- Memantau keberhasilan pengobatan (apakah antibodi menurun setelah terapi)
- Kenapa disebut “nonspesifik”? Karena antibodi yang terdeteksi bisa juga muncul pada kondisi lain, seperti: infeksi lain, penyakit autoimun, kehamilan
- Jadi, hasil positif belum tentu pasti sifilis, dan biasanya dikonfirmasi dengan tes spesifik (treponema).
2. Tes spesifik (treponema) adalah pemeriksaan untuk mendeteksi antibodi yang secara khusus menyerang bakteri penyebab sifilis (Treponema pallidum).
- Contohnya:
- TPHA (Treponema pallidum Hemagglutination Assay)
- FTA-ABS (Fluorescent Treponemal Antibody Absorption)
- Berbeda dengan tes nonspesifik, tes ini lebih akurat untuk memastikan diagnosis sifilis.
- Fungsi tes ini:
- Mengonfirmasi diagnosis sifilis setelah tes skrining positif
- Memastikan bahwa infeksi benar disebabkan oleh bakteri sifilis
- Hal penting yang perlu diketahui:
- Hasil tes ini bisa tetap positif seumur hidup, meskipun sudah diobati
- Karena itu, tes ini tidak digunakan untuk memantau keberhasilan pengobatan
Pemeriksaan cairan otak dilakukan jika dicurigai sifilis telah menyerang sistem saraf (neurosifilis), terutama bila muncul gejala pada mata, saraf, atau pendengaran. Pemeriksaan ini membantu memastikan diagnosis dan menentukan penanganan yang tepat.
Bisa Diobati, Asal Tidak Terlambat
Kabar baiknya, sifilis, termasuk yang sudah mengenai mata masih bisa diobati, terutama jika terdeteksi lebih awal.
Pengobatan utama adalah antibiotik, seperti penisilin dengan dosis dan durasi yang disesuaikan dengan tahapan penyakit.
Penanganan yang cepat dan tepat dapat
- Mengurangi gejala
- Mencegah kerusakan lebih lanjut
- Memperbaiki fungsi mata dan saraf secara bertahap.
Evaluasi biasanya dilakukan melalui:
- Pemeriksaan mata dan saraf
- Pemeriksaan lumbal pungsi 6-12 bulan setelah pengobatan
Jangan Tunggu Parah
Bagi yang memiliki perilaku seks berisiko, pemeriksaan rutin terutama pada penyakit sifilis dan HIV sangat dianjurkan. Jangan abaikan gejala yang muncul dan hilang. Jangan menunggu sampai terlambat.
Ingat : mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Jangan sampai kehilangan penglihatan karena ” Raja Singa”