Pemeriksaan Lanjutan Setelah Terdiagnosa HIV Positif

Mendapatkan hasil diagnosis HIV positif cukup mengejutkan. Beberapa orang bisa merasa sangat terpukul, sedih, marah, takut, tertekan, takut menghadapi masa depan dan ingin menyangkali hasil tersebut. Hal ini normal terjadi karena stigma pada HIV cukup tinggi, tetapi HIV positif bukanlah seperti mendapat vonis hukuman mati seperti dulu. HIV positif adalah diagnosis yang diberikan oleh dokter, sama seperti penyakit yang lainnya.

Dulu HIV (human immunodeficiency virus) sering menjadi AIDS (acquired immunodeficiency syndrome) dan menyebabkan kematian. Namun saat ini, dengan pengobatan yang baik dan diimbangi dengan pola hidup yang sehat telah membuat seseorang dengan HIV bisa memiliki kualitas hidup yang produktif dan harapan hidup yang cukup panjang. Mereka juga sangat mungkin untuk tidak menularkan pasangan dan bisa memiliki anak yang tidak terinfeksi HIV.

Untuk mendapatkan hal-hal tersebut, bila seseorang didiagnosis HIV positif, ada hal yang penting untuk dilakukan, yaitu segera mengunjungi fasilitas kesehatan yang berpengalaman menangani HIV. Dokter akan melakukan evaluasi kesehatan secara umum dengan menanyakan riwayat medis, melakukan pemeriksaan fisik, dan beberapa tes laboratorium. Ini penting untuk untuk melihat  sistem kekebalan yang masih bekerja, infeksi oportunistik yang mungkin terjadi, kesiapan tubuh dalam proses pengobatan. Bila tidak ada indikasi kontra atau infeksi oportunistik yang harus segera diobati maka dia bisa segera memulai pengobatan menggunakan anti retroviral (ARV).

Beberapa pemeriksaan yang perlu dilakukan antara lain:

1. CD4

Sel CD4 (cluster of differentiation 4) atau yang disebut juga Sel T helper adalah sel darah putih yang merupakan bagian penting dari sistem kekebalan tubuh manusia. Dinamakan sel penolong karena salah satu peran utamanya adalah mengirim sinyal ke jenis sel kekebalan lainnya, termasuk sel CD8 atau sel T killer, yang kemudian menghancurkan partikel yang dapat menyebabkan infeksi. Jika sel CD4 menjadi habis, misalnya pada infeksi HIV yang tidak diobati, atau setelah penekanan kekebalan sebelum transplantasi, tubuh menjadi rentan terhadap berbagai infeksi yang seharusnya dapat dilawan.

Pemeriksaan CD4 penting untuk melihat berapa banyak yang sudah dihancurkan oleh virus HIV. Bila jumlahnya di bawah normal, maka ada kemungkinan timbulnya infeksi oportunistik. Pemeriksaan ini juga penting untuk melihat perjalanan infeksi HIV. HIV berkembang dalam tiga tahap: infeksi HIV akut, infeksi HIV kronis, dan AIDS.

2. TB

Populasi orang dengan HIV merupakan kelompok yang berisiko tinggi mendapatkan infeksi tuberkulosis (TB). TB menjadi penyebab utama kematian pada kelompok ini. Penatalaksanaan TB pada ODHIV lebih rumit dibandingkan TB pada populasi HIV negatif, karena berisiko menghadapi berbagai permasalahan dalam pengobatan, seperti interaksi obat yang menyebabkan penurunan kadar obat dalam darah sehingga berisiko terjadi resistensi obat meskipun kepatuhan pengobatan baik. Efek samping obat TB yang cukup mengganggu akan diperparah dengan efek samping ARV. Perbaikan kekebalan tubuh dapat memicu terjadinya Immune reconstitution inflammatory syndrome (IRIS), salah satunya muncul gejala dan tanda TB. Namun kemungkinan ini dapat dikurangi risikonya dengan melakukan penapisan TB sebelum pengobatan.

3. Baseline

Disini meliputi pemeriksaan hemoglobin, penapisan fungsi hati dan fungsi ginjal. Ada salah satu ARV pada orang tertentu dapat menyebabkan penurunan hemoglobin. Bila jumlah hemoglobin rendah, maka orang tersebut tidak dapat menggunakan obat ini.

Kebanyakan obat akan dimetabolisme di hati dan diekskresikan melalui ginjal. Bila ada masalah di kedua organ tersebut, maka perlu ada penatalaksanaan terlebih dahulu atau mungkin penyesuaian dosis agar tidak memperburuk kondisinya.

4. Viral load

Viral load HIV adalah tes darah yang mengukur jumlah HIV dalam sampel darah anda. Tes ini mencari materi genetik dari virus dalam darah. Idealnya diperiksa sebelum pengobatan dan beberapa bulan setelah pengobatan untuk melihat efektivitasnya. Selanjutnya viral load dapat diperiksa 1-2 kali dalam setahun untuk melihat bahwa ARV yang digunakan masih bekerja baik.

5. Hepatitis B, hepatitis C, dan Infeksi menular seksual lainnya

Infeksi tersebut juga perlu ditata laksana agar tidak menimbulkan komplikasi yang dapat mengganggu pengobatan HIV.

Selain tes di atas, perlu juga melakukan penapisan terhadap penyakit degeneratif seperti kolesterol dan diabetes melitus. Tim medis yang akan menangani ODHIV akan memonitor pengobatan dan efek samping yang muncul. Ini pentingnya ODHIV perlu control sedikitnya sekali dalam 6 bulan.

Referensi

  1. https://hivinfo.nih.gov
  2. https://www.health.ny.gov
  3. https://www.cdc.gov
  4. https://emedicine.medscape.com/article/1995114-overview
  5. WHO : Laboratory Support to HIV Diagnosis and Monitoring of Antiretroviral Therapy, Report of a Regional Workshop 2004
  6. https://clinicalinfo.hiv.gov

Artikel Terkait

Menanggulangi Epidemi di tengah Pandemi

Realita Kasus HIV & AIDS di Indonesia

Health Fair 2017

British Petroleum (BP) and Angsamerah Joining Forces Against HIV-AIDS

Angsamerah Associates Talked at Faculty of Medicine UGM

Perluasan Layanan ART Lewat Kolaborasi Fasilitas Layanan Kesehatan Pemerintah dan Swasta

Berbagi Ilmu Lintas Batas Negara: India dan Indonesia

NYATA, BAIK dan BUKAN BIASA

Sebelumnya
Selanjutnya

Buat janji dokter sekarang

Hubungi Kami

Silahkan gunakan formulir ini kapan saja untuk menghubungi kami dengan pertanyaan, atau untuk membuat janji.

Anda juga dapat menghubungi kami melalui WhatsApp atau telepon pada jam klinik di +62 8111 368 364.