HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Jika tidak diobati, infeksi HIV dapat berkembang menjadi masalah kesehatan yang serius. Hingga kini, HIV masih menjadi salah satu tantangan kesehatan global.
Di Indonesia, data terbaru menunjukkan terdapat sekitar 564.000 kasus HIV pada tahun 2025 dan menempati peringkat ke 14 di dunia.
Data dari World Health Organization menunjukkan bahwa pada tahun 2024 terdapat sekitar 40,8 juta orang hidup dengan HIV di seluruh dunia, dengan 630.000 kematian akibat penyakit terkait HIV.
Di Indonesia sendiri, data terbaru memperkirakan terdapat sekitar 564.000 kasus HIV pada tahun 2025, menempatkan Indonesia di peringkat ke-14 dunia dalam jumlah kasus.
Meskipun demikian, penting untuk diketahui bahwa HIV tidak menular dengan mudah. Ada prinsip yang dikenal sebagai ESSE, yang menjelaskan syarat terjadinya penularan HIV.
Prinsip ESSE dalam Penularan HIV
Agar penularan HIV dapat terjadi, empat kondisi berikut harus terpenuhi:
E – Exit (Keluar)
Virus HIV harus keluar dari tubuh orang yang terinfeksi virus HIV melalui cairan tubuh tertentu.
S – Survive (Bertahan hidup)
Virus HIV di dalam cairan tubuh tersebut harus tetap hidup saat memasuki tubuh orang lain
S – Sufficient (Jumlah cukup)
Jumlah virus dalam cairan tubuh harus cukup untuk untuk bisa menginfeksi seseorang.
E – Enter (Masuk)
Virus harus memiliki pintu masuk ke tubuh orang lain, misalnya melalui luka, selaput lendir (mukosa), atau langsung ke aliran darah.
Jika salah satu saja dari kondisi ini tidak terpenuhi, maka penularan HIV tidak terjadi.
Cairan Tubuh yang Dapat Menularkan HIV
Tidak semua cairan tubuh dapat menularkan HIV. Hal ini karena setiap cairan tubuh memiliki konsentrasi virus yang berbeda. Cairan tubuh yang berpotensi menularkan HIV adalah:
- Semen (cairan mani)
- Cairan vagina
- Cairan rektum
- Darah
- Air susu ibu (ASI)
Penularan dapat terjadi jika cairan tersebut bersentuhan dengan selaput lendir, jaringan yang luka, atau langsung masuk ke aliran darah, misalnya melalui jarum suntik atau transfusi darah.
Sebaliknya, HIV tidak menular melalui aktivitas sehari-hari, seperti:
- bersentuhan
- berjabat tangan
- berpelukan
- berbagi peralatan makan
Virus HIV juga tidak bertahan lama di luar tubuh manusia dan tidak dapat berkembang biak di luar tubuh.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Terpapar?
Jika seseorang diduga terpapar HIV, penanganannya dapat dilakukan melalui dua pendekatan utama: pencegahan dan pengobatan.
1. Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan sebelum atau segera setelah kemungkinan paparan dengan menggunakan obat antiretroviral (ARV).
Beberapa bentuk pencegahan antara lain:
- PrEP (Pre-Exposure Prophylaxis). PrEP adalah penggunaan obat ARV oleh orang dengan status HIV negatif untuk mengurangi risiko tertular sebelum terjadi paparan.
- PEP (Post-Exposure Prophylaxis). PEP adalah pengobatan darurat yang diberikan kepada orang HIV-negatif setelah terjadi risiko paparan.
PEP harus segera dimulai, idealnya dalam 24 jam, dan tidak lebih dari 72 jam setelah kejadian. Tujuannya adalah mencegah virus berkembang dan menetap di dalam tubuh.
2. Pengobatan
Jika seseorang telah dinyatakan positif HIV melalui pemeriksaan yang valid, maka pengobatan dengan terapi antiretroviral (ARV) perlu segera dimulai.
Pengobatan ini bertujuan untuk:
- menekan jumlah virus dalam tubuh
- menjaga fungsi sistem kekebalan
- mengurangi risiko penularan kepada orang lain
Kapan PEP Diperlukan?
PEP diberikan pada kondisi paparan yang berisiko, misalnya:
- sumber paparan diketahui hidup dengan HIV
- cairan yang terlibat termasuk cairan yang dapat menularkan
- paparan terjadi melalui hubungan seksual berisiko atau kontak langsung dengan darah
Kapan PEP Tidak Diperlukan?
PEP tidak diperlukan jika:
- orang yang terpapar sudah hidup dengan HIV
- paparan hanya melibatkan cairan tubuh yang tidak berisiko seperti air mata, air liur tanpa darah, keringat, urine, dahak, atau feses
- sumber paparan dipastikan HIV-negatif
- pada hubungan seksual dengan pasangan HIV yang memiliki viral load tidak terdeteksi
Bagaimana Cara Kerja PEP?
PEP bekerja dengan menghentikan replikasi virus dalam fase awal setelah virus masuk ke dalam tubuh. Dengan begitu, virus tidak sempat membentuk infeksi yang menetap.
Namun perlu diingat bahwa PEP hanya digunakan dalam situasi darurat, bukan sebagai perlindungan rutin bagi orang yang sering berisiko terpapar.
Prosedur Sebelum Menggunakan PEP
Sebelum memulai PEP, seseorang biasanya perlu melakukan tes HIV terlebih dahulu.
- Jika hasil tes negatif, PEP dapat segera dimulai.
- Jika tes tidak tersedia tetapi paparan berisiko tinggi, PEP tetap dapat dimulai sambil menunggu pemeriksaan.
Regimen Obat PEP
Regimen ARV yang direkomendasikan untuk PEP adalah:
- TDF-FTC/3TC-DTG selama 28 hari, atau
- TDF-FTC/3TC-LPV/r selama 28 hari
Kombinasi dosis tetap TLD (TDF, 3TC, dan DTG) juga dapat digunakan karena lebih praktis dan mengurangi jumlah pil yang harus diminum.
Agar efektif, semua dosis harus diminum sesuai jadwal selama 28 hari penuh.
Efek Samping PEP
Efek samping PEP umumnya ringan dan sementara, seperti:
- mual
- diare
- sakit kepala
- rasa lelah
Gejala ini biasanya akan hilang dengan sendirinya. Dalam kasus yang jarang, dapat terjadi efek samping yang lebih serius seperti gangguan fungsi hati atau asidosis laktat, sehingga perlu pemantauan tenaga kesehatan.
Pemeriksaan Lanjutan Setelah PEP
Setelah menyelesaikan pengobatan selama 28 hari, individu dianjurkan kembali ke fasilitas kesehatan untuk pemeriksaan lanjutan, yaitu:
- tes HIV pada minggu ke-4 hingga ke-6
- tes HIV pada bulan ke-3
- pemeriksaan laboratorium lain seperti fungsi hati, fungsi ginjal, dan pemeriksaan infeksi menular seksual (IMS)