The Penis Book 2, Menu

The Rocky Horror Picture Show

The Penis Book 2, Chapter 1

Bonnie and Clyde

Penis dengan saus a la partner in crime Gonorrhea dan Chlamydia

The Penis Book 2, Chapter 2

The Sting

Penis dengan ulkus bersih berlanjut infeksi a la The Great Imitator Syphilis dengan kupasan stadium

The Penis Book 2, Chapter 3

Piranha

Penis dengan ulkus dasar putih a la school of fish dengan chancroid/ulkus mole

The Penis Book 2, Chapter 4

The Cassandra Crossing

Penis dengan sajian Lympho Granuloma Venereum disertai pembengkakan lipat paha

The Penis Book 2, Chapter 5

King Gambler

Penis dengan varian ulkus granuloma inguinal alias donovanosis

The Penis Book 2, Chapter 6

The Towering Inferno

Penis dengan burning sensation a la herpes genital

The Penis Book 2, Chapter 7

The Return of The Living Dead

Penis dengan persemaian jengger ayam/condyloma acuminata

The Penis Book 2, Chapter 8

Midnight Express

Penis dengan luka dan scratching a la skabies disajikan malam hari

The Penis Book 2, Chapter 9

Hair

Penis dengan gaya retro hippies The Flower Generation dengan pedikulosis pubis

The Penis Book

The Penis Book 2

Angsamerah Penis Book 2 Piranha

Piranha

The Penis Book 2, Chapter 3

Piranha mengingatkan saya pada masa-masa banjir film pengkambinghitaman binatang (busyet, istilahnya membingungkan). Saat itu nyaris semua binatang dijadikan musuh manusia. Entah apakah harus dimulai dari Kingkong, dimana gorilla dijadikan musuh tahun 30 an, atau Godzilla si kadal raksasa, Moby Dick si paus putih, The Bird yang memusuhi burung, Marabunta (semut), Ben (tikus), Swarm (lebah), pokoknya manusia pembuat film benci banget deh sama binatang-binatang tertentu, dan melampiaskan ketakutan mereka dengan membuat binatang-binatang menjadi bahan eksploitasi layar lebar. Bila pada masa-masa sebelum tahun ‘70, orang tak banyak membuat perseteruan dengan binatang, setelah film Jaws tahun 1975 ditelurkan Steven Spielberg dan sukses besar, orang berlomba-lomba membuat film jenis ini. Udara, darat, sungai, laut semua diteror binatang. Selain binatang-binatang diatas, ditambah lagi cacing sampai naga, anjing, kucing, babi, sapi dan binatang rumahan lain, beruang, laba-laba, gurita, sebut saja semua ada.

Film yang direncanakan menjadi parodi Jaws dan dibuat tahun oleh Joe Dante ini sukses besar. Di seluruh dunia. Agaknya orang ingin melihat teror dari ikan-ikan mirip ikan bawal yang baisa nangkring di atas meja makan ini. Seingat saya, di Jakarta sendiri film ini jadi topik hangat para penggila film karena selain ikannya menyerang ramai-ramai, bukan serangan tunggal macam Jaws si ikan hiu, yang diserang juga cewek cewek (dan beberapa cowok) yang tengah berkecipak ria di danau kala libur musim panas, dengan obral paha dan payudara (versi video betamax atau VHS bajakan dong). Saking larisnya film ini, sekuel pun bermunculan bagai cendawan di musim hujan. Yang paling anyar buatan tahun 2012, Piranha yang digarap dalam format 3D, makin mengerikan dan makin vulgar. Dengan edannya penonton disuruh menyaksikan seorang laki-laki yang dilalap gerombolan ikan ini, lalu salah satu ekor ikan berenang ke arah penonton, close up, dan memuntahkan penis laki-laki itu. Hehehe. Sinting.

Ada dua alasan kenapa saya mengkaitkan chancroid dengan Piranha. Selain luka bergaung yang dihasilkan banyak, seperti digerigiti piranha (lebai ah!), penampakan Haemophilus ducreyi, bakteri penyebab chancroid ini juga selalu berkelompok berbaris-baris seperti ikan, atau julukan kerennya school of fish. Bukan ikannya sekolah, tapi ikannya berenang berkelompok. Untuk jelasnya, mungkin perlu nonton film Disney Finding Nemo.

H. ducreyi memasuki kulit melalui abrasi mikro, atau pengelupasan kulit akibat gesekan-gesekan saat hubungan seksual. Yang namanya hubungan seksual, tentunya harus ada acara gesek-gesek, bukan? Nah, setelah itu terjadi reaksi jaringan yang berkembang menjadi bintil kemerahan, yang kemudian makin memebesar dalam 4-7 hari, lalu mengalami kematian jaringan dan menjadi luka bergaung atau ulkus. Ulkus ini biasanya sangat nyeri, dan kotor. Kotor maksudnya memiliki dasar ulkus kuning keabu-abuan, dengan tepinya tak beraturan. Jadi, sangat berlebihan bila mengatakannya sama dengan gigitan piranha, bukan? Terkadang terjadi pembesaran kelenjar getah bening yang letaknya pada lipat paha pada sekitar 30-60% pasien.

Sekitar separuh kasus pada pria memiliki ulkus tunggal, smeentara pada waita ulkusnya lebih berganda. Bila ulkus masih baru terjadi,terkadang dokter salah mendiagnosa sebagaichancre. Tahu chancre? Ulkus yang terjadi pada sifilis. Coba buka tulisan mengenai sifilis, ya. Mengapa bisa begitu? Dokter kok bisa salah? Karena dokter juga manusia, dan penampakan awalnya memang sangat-sangat mirip. Oleh sebab itu biasanya dokter akan menyarankan dilakukan tes serologis darah sifilis untuk memastikannya.

Bagaimana cara mengatasinya, bila kena gigit H. ducreyi sehingga kena chancroid? Tentu saja ke dokter. Sebab bila dokter saja bisa salah menentukan penyakit, apalagi yang bukan dokter. Terlebih lagi sekarang banyak sudah antibiotika yang tak lagi mempan membunuh “piranha” yang satu ini. Jangan mengobati sendiri.

Pada mereka yang tidak sunat, terkadang chancroid menimbulkan komplikasi. Ulkus yang dibiarkan dan tidak diobati akan menimbulkan jaringan parut yang kelak akan menyebabkan kulup sulit ditarik untuk menyembulkan kepala penis. Akibatnya terjadilah yang dinamakan fimosis; suatu keadaan dimana seorang pria tak bisa lagi melakukan pameran kepala juniornya. Kalau fimosisnya terlalu parah, bisa terjadi gangguan buang air kecil juga.

Nah, kalau kena gigit Piranha? Well… itu urusan lain lagi…

Artikel Terkait

Buat janji dokter sekarang

Darah dalam air mani

The Silent Infection

The Sting

The Penis Book 2, Chapter 2

Memahami hasil Pap Smear

Kanker Prostat

Gonore

Sebelumnya
Selanjutnya

Hubungi Kami

Silahkan gunakan formulir ini kapan saja untuk menghubungi kami dengan pertanyaan, atau untuk membuat janji.

Anda juga dapat menghubungi kami melalui WhatsApp atau telepon pada jam klinik di +62 8111 368 364.