Question #27040

views

1768

Validitas Uji Anti-HIV dengan Uji Tapis Donor Apheresis di UTD PMI

Salam sehat untuk para Tenaga Medis di Klinik Angsamerah,
Saya ada pertanyaan seputar penyakit menular HIV/AIDS. Pertama saya ceritakan kronologinya.
Sekira bulan April 2018, saya pernah melakukan perilaku beresiko dengan salah satu perempuan di Tempat Pijat. Saya melakukannya tanpa menggunakan pengaman.
Sekira bulan Desember 2018, saya menjalani medical checkup dalam rangka pemeriksaan rutin oleh tampat saya bekerja dan tidak ada ditemukan penyakit apapun.
Tanggal 23 Mei 2019, saya kembali melakukan medical checkup. Tanggal 24 Mei 2019, saya dipanggil oleh Dokter Rumah sakit tersebut dan diberitahu bahwa satu alat deteksi cepat HIV yang dipakai untuk memeriksa sampel dari saya Reaktif. Siang harinya kira-kira pukul 15.00 waktu setempat saya datang untuk konfirmasi. Saya kembali diambil darah dan dites ulang menggunakan 2 alat Rapid Tes (saya tidak tahu merknya) secara paralel/bersamaan. Spesimen yang digunakan adalah plasma darah saya. Kurang lebih 20 menit, saya diberitahu bahwa hasil tes konfirmasi saya kedua-keduanya non-reaktif/negatif, namun Dokter tersebut menyampaikan agar saya tes kembali di Laboratorium lainnya agar lebih yakin.
Tanggal 24 Mei 2019 pukul 20.00 waktu setempat, saya pergi ke Laboratorium Klinik Kimia Farma dan melakukan uji Anti-HIV sesuai saran/masukan Dokter ybs. Darah saya diambil sampel dan di-sentrifuge menjadi Serum. Kira-kira 20.35 waktu setempat saya datang kembali dan minta izin kepada Petugas Laboratorium Klinik Kimia Farma untuk melihat pengujiannya. Metode yang digunakan ternyata metode konvensional dengan menggunakan 2 alat Rapid Tes yaitu Oncoprobe HIV Test dan SD Bioline HIV 3.0 secara paralel/bersamaan. Kira-kira 20.50 waktu setempat saya ditunjukkan hasil pengujian dengan hasil Negatif/Non-Reaktif untuk kedua alat yang digunakan.
Saya merasa yakin karena hasil yang saya dapat dari hasil Uji Konfirmasi dan Uji Laboratorium Klinik Kimia Farma. Namun kira-kira awal Juli 2019, saya hendak melakukan donor aphresis di UTD PMI setempat karena ada kawan saya yang menderita Malaria. Tensi saya diukur dengan hasil 120/70 dan darah saya kembali diambil sebagai sampel. Kira-kira berselang 10-15 menit, Petugas dari PMI memanggil saya dan menyampaikan bahwa darah saya tidak bisa digunakan dan hasilnya hanya bisa diberitahukan oleh Dokter (Dokternya kebetulan sedang pergi).
Akibat kejadian ini saya merasa bingung karena hasil tes saya untuk HIV, Hepatitis, dll di bulan Mei 2019 adalah negatif (setelah konfirmasi). Saya juga tidak pernah melakukan perbuatan beresiko apapun terhitung mulai bulan April 2018 (jeda waktu 1 tahun lebih). Saya tidak menderita gejala penyakit HIV apapun. Mengapa darah saya masih ditolak oleh UTD PMI setempat? Apakah hasil tes HIV di bulan Mei 2019 belum final walaupun sudah melewati window period (3-6 bulan)? Saya masih merasa trauma akibat reaksi positif pada tanggal 23 Mei 2019 dan apakah mungkin penolakan akibat kurangnya Hemoglobin harus disampaikan oleh Dokter yang menangani di UTD PMI setempat? Bagaimana pendapat dokter terkait kejadian saya.
Terima kasih.

Answer

Salam mas, bila setelah masa jendela, hasil pemeriksaan HIV menunjukkan salah satu alat menunjukkan hasil reaktif namun dengan pemeriksaan lain menunjukkan hasil non reaktif kesimpulannya indeterminate atau tidak dapat disimpulkan. Disarankan untuk melakukan pemeriksaan ulang 2 minggu kemudian. Bila hasilnya tetap sama maka disimpulkan hasil akhirnya adalah non reaktif.

Buat janji dokter sekarang

Artikel Populer

Memahami hasil Pap Smear

Bagaimana dokter mendiagnosa keputihan?

Seks, Seksual dan Seksualitas

HIV dan Nutrisi

Kondom Wanita

Demam, Gejala atau Penyakit?

Sebelumnya
Selanjutnya

Hubungi Kami

Silahkan gunakan formulir ini kapan saja untuk menghubungi kami dengan pertanyaan, atau untuk membuat janji.

Anda juga dapat menghubungi kami melalui WhatsApp atau telepon pada jam klinik di +62 8111 368 364.