Toxic Masculinity & Mental Health

Manda adalah seorang perempuan usia produktif yang mengalami penurunan suasana perasaan yang mendalam sejak satu bulan terakhir. Keadaan ini memengaruhi perasaan dan emosinya sehingga dia memutuskan untuk mendapatkan penanganan dari psikiater. Manda lulus dari universitas ternama di Jakarta dan saat ini memiliki seorang kekasih. Ia sudah menjalin hubungan sejak 2 tahun terakhir. Kekasih Manda adalah seorang laki-laki yang menarik, berbadan atletis dan suka berolahraga. Saat awal menjalani hubungan, Manda sangat mengagumi kekasihnya tersebut dan merasa ia dilindungi saat berada bersamanya. Belakangan ini, Manda baru mengetahui sifat asli dari kekasihnya tersebut yang membuatnya ingin mengakhiri hubungan. Namun ia merasa tidak bisa lepas dari sosok lelaki yang pernah dianggap ideal dimatanya. Hal inilah yang membuat emosi dan perasaannya terganggu.

Kisah di atas merupakan sebuah ilustrasi mengenai citra seorang lelaki ideal yang perlu diperjuangkan, sekalipun mengorbankan diri dan perasaan seseorang. Hal yang dialami Manda merepresentasikan pilunya kekecewaan pada kenyataan yang dihadapi, padahal saat sebelumnya membayangkan kebahagiaan yang akan diraih ketika mendapatkan sosok lelaki ideal. Lelaki yang diharapkan dapat menjamin masa depannya, justru sekarang menjadi masalah yang memengaruhi suasana perasaannya. Sisi maskulin sang kekasih yang dianggap sebagai nilai positif, kini menjadi boomerang yang membuat perasaan cintanya diabaikan.  

Baca juga: Bahagia & Percaya Diri: Semuanya Ada di Otak

Gambaran konsep maskulinitas kian berkembang seiring dengan perkembangan zaman dan waktu. Dalam perspektif masyarakat secara umum, konsep ini kemudian menjadi sebuah tren ‘maskulinitas’ yang memiliki beberapa karakter seperti kompetitif, ambisius, keyakinan terhadap diri sendiri yang berlebihan dan agresivitas.  Hal yang menarik adalah konsep ini dipahami oleh lintas generasi, budaya, etnis dan bahkan status sosial sehingga menjadi sebuah hegemoni masyarakat. Cara berpikir ini juga diilhami baik laki-laki maupun perempuan, sehingga menjadi suatu pola yang dimaklumi secara umum sekalipun terkadang memberikan dampak yang kurang linear.

Konsep maskulin dan ‘macho’, memberikan suatu harapan kepada masyarakat akan adanya rasa tenteram dan dilindungi oleh kekuatan yang lebih besar dari seorang laki-laki. Pada kenyataannya, sifat yang agresif dan keras tidak selalu mendapat tempat pada semua orang, situasi dan waktu. Penerapan prinsip yang sama secara kaku dan terus-menerus dapat menimbulkan efek yang sebaliknya. Perasaan tertekan, cemas dan terkekang justru menjadi kontra produktif sebagai upaya kompensasi bersikap ‘man-up’ di depan orang lain. Emosi semakin tidak terbendung, sehingga memengaruhi masalah relasi dengan orang lain dan bahkan berakhir pada perilaku-perilaku yang merugikan.  

Melihat lebih jauh ke dalam tentang konsep ini, maskulinitas tidak hanya berkaitan dengan sebuah label semata atau bahkan ekspektasi masyarakat terhadap seorang laki-laki. Penerapan nilai-nilai maskulinitas yang terlalu dominan pada akhirnya memengaruhi karakter seseorang individu yang terus melekat sepanjang hidupnya. Cenderung untuk menguasai, tidak mampu berempati, memiliki sifat posesif dan mudah marah merupakan beberapa indikator penerapan nilai maskulinitas yang cenderung berlebihan pada diri seseorang.  

Ada perasaan yang tidak nyaman saat kita membaca tulisan ini, karena mengulas perasaan dan emosi yang mendalam. Akan tetapi tulisan ini juga mengajak kita untuk melihat sisi lain terbentuknya konsep berpikir tentang eksistensi seseorang dalam kaitannya dengan keberadaan orang lain.

Salah satu hal yang mendasari timbulnya perilaku yang berulang berkaitan dengan status sebagai seorang laki-laki, adalah kurangnya maturitas atau kematangan di dalam diri seseorang. Secara psikologis, emosi dan kekerasan merupakan cara yang tidak disadari seseorang untuk menyamarkan perasaan rendah diri dan ketidakmampuan. Perasaan-perasaan tersebut dibalut dengan pengalaman masa kecil mengenai perasaan ditinggalkan, ditolak, rasa malu, bersalah dan kecewa. Sayangnya, mekanisme ini tidak hanya berdampak terhadap diri sendiri, namun juga orang lain. 

Dampak secara kejiwaan dari Toxic Masculinity tidak hanya terjadi pada orang di sekitar, namun juga pada orang yang memiliki mindset tersebut. Dampak tersebut dapat memengaruhi kondisi emosi dan perasaan seperti ilustrasi kasus di awal tulisan ini. 

Melihat dampak yang ditimbulkan, maka orang yang memiliki pola seperti ini perlu memiliki kesadaran untuk membangun kembali cara memahami diri sendiri maupun orang lain. Hal ini sangat bersifat relatif dengan kepribadian masing-masing orang.

Progressive Masculinity merupakan suatu skema cara berpikir baru dalam melihat seorang individu laki-laki secara humanis. Orang-orang yang termasuk pada kelompok ini bersifat lebih terbuka, berempati dan menghargai persamaan antara laki-laki dan perempuan.

Kecenderungan untuk memendam perasaan dan tampil tegar di depan orang lain membuat seseorang tidak memiliki kemampuan untuk mengenali perasaannya sendiri. Orang-orang yang terpapar dengan cara pikir tersebut rentan untuk mengalami berbagai gangguan kejiwaan seperti cemas dan depresi. 

Orang-orang dengan cara pandang yang baru mengenai maskulinitas akan lebih mawas terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitarnya. Mereka akan lebih mudah mengenal diri sendiri dan dapat memahami hal-hal apa saja yang dapat membuat mereka emosi, serta cara untuk menghadapinya. Mereka juga dapat menjalin hubungan interpersonal yang lebih baik dengan orang lain, sehingga lebih optimal dalam menyelesaikan suatu tugas. Kelompok ini akan lebih optimis dan bersikap positif dengan lingkungan sekitar, sehingga kemungkinan untuk mengalami gangguan kejiwaan jauh lebih kecil. 

Membentuk cara berpikir baru merupakan kunci yang membawa perubahan pada kehidupan seseorang. Dampak yang dirasakan tidak hanya pada diri sendiri, namun juga pada orang di sekitar. Pada keadaan tertentu, seseorang yang sedang berproses membutuhkan bantuan seorang profesional dalam memahami dirinya secara lebih dalam. Terdapat fenomena-fenomena di luar kendali yang dapat memengaruhi perasaan dan emosi kita, akan tetapi pilihan ada di tangan sendiri untuk bertindak dan berespon sesuai dengan situasi yang ada.

Referensi

Whitehead, S. M. (2021). Toxic masculinity: Curing the virus: Making men smarter, healthier, safer. Andrews UK Limited.

Artikel Terkait

Webinar

Dampak Pandemi Pada Kesehatan Mental Pekerja Sosial

Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)

Kesadaran Diri

Self Awareness

Nomophobia, Adiksi Telpon Pintar

Memahami kerja otak melalui efek Stroop

Keuntungan dan Tantangan Kencan Online

Previous
Next

Buat janji dokter sekarang

Hubungi Kami

Silahkan gunakan formulir ini kapan saja untuk menghubungi kami dengan pertanyaan, atau untuk membuat janji.

Anda juga dapat menghubungi kami melalui WhatsApp atau telepon pada jam klinik di +62 8111 368 364.