Seiring dengan perkembangan zaman, banyak yang berubah pada gaya hidup, termasuk urusan merokok. Merokok telah menjadi suatu kebiasaan yang wajar dilakukan. Aktifitas ini tak hanya dianggap keren untuk kaum pria, tapi juga menjadi simbol pergaulan untuk para perempuan. WHO mengatakan bahwa tren merokok semakin meningkat pada perempuan yang hidup di negara berkembang seperti Indonesia. Sebanyak 250 juta perempuan di seluruh dunia merupakan perokok aktif. Bahkan menurut data dari National Institute on Drug Abuse’s National Pregnancy and Health Survey menyebutkan bahwa sedikitnya 820.000 perempuan merokok ketika sedang dalam masa kehamilan. Kita tentu sering mendengar dari iklan rokok bahwa merokok dapat membahayakan kehamilan dan janin, tetapi pernahkah kita mengetahui apa sih yang terjadi pada saat rokok dihisap pada masa kehamilan? Artikel ini akan membahas mengenai pengaruh rokok pada kehamilan.

Pada saat merokok terdapat dua komponen mayor yang paling menimbulkan dampak buruk akibat merokok, yaitu karbonmonoksida dan nikotin. Karbonmonoksida, suatu gas yang dihasilkan dari pembakaran rokok akan diserap oleh sistem sirkulasi dan meningkatkan konsentrasi karboksihemoglobin pada sirkulasi ibu dan janin. Meningkatnya karboksihemoglobin akan menyebabkan ikatan hemoglobin terhadap oksigen berkurang, sehingga tubuh kurang mendapatkan oksigen untuk kebutuhan metabolisme. Akibatnya, tubuh tidak memiliki cukup oksigen untuk disalurkan ke jaringan, termasuk bayi yang ada dalam kandungan ibu. Nikotin dapat memerparah kondisi kekurangan oksigen dengan menyebabkan adanya penyempitan pembuluh darah (vasokonstriksi) menuju janin melalui pelepasan katekolamin, suatu hormon yang diproduksi oleh kelenjar adrenal (kelenjar anak ginjal).

Merokok pada saat hamil ternyata dapat menyebabkan berbagai efek yang sifatnya merugikan. Bayi yang dilahirkan pada umumnya memiliki berat lahir lebih rendah. Hal tersebut disebabkan terutama oleh karena kurangnya janin mendapat pasokan oksigen selama kehidupan di dalam kandungan. Selain kurangnya oksigen, penelitian terbaru menyebutkan bahwa merokok juga menurunkan aktivitas autofosforilasi oleh Epidermal Growth Factor (EGF). Peran EGF adalah menstimulasi aktivitas pembelahan dan diferensiasi sel plasenta dan aktivitas hormon plasenta yang menunjang pertumbuhan dan perkembangan janin. Apabila didapatkan gangguan pada proses tersebut, maka janin yang dilahirkan tentu memiliki kualitas pertumbuhan yang kurang optimal. Selain rendahnya berat lahir, bayi yang dilahirkan juga memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena infeksi saluran napas (bronkitis maupun pneumonia) dalam tahun pertama kehidupan. Dalam suatu penelitian jangka panjang selama 3 tahun, didapatkan kualitas kemampuan kecerdasan (fungsi kognitif) anak yang dilahirkan dari ibu yang merokok selama kehamilan lebih rendah bila dibandingkan dengan anak yang dilahirkan dari ibu non-perokok. Selain adanya gangguan pada perkembangan bayi, risiko penyulit kehamilan juga meningkat pada perokok. Risiko abortus spontan, plasenta previa, abruptio plasenta, dan perdarahan dalam masa kehamilan meningkat pada ibu yang merokok dalam masa kehamilan. Penyulit ini tentu dapat membahayakan keselamatan ibu dan bayinya.

Dampak seperti di atas tentunya dapat dihindari hanya dengan berhenti merokok ketika seseorang mengetahui dirinya sedang hamil. Dukungan harus tetap diberikan kepada ibu agar termotivasi untuk segera menghentikan konsumsi rokok mengingat bahaya yang dapat ditimbulkan pada janin. Informasi mengenai bahaya merokok harus diberikan agar ibu semakin menyadari bahaya merokok. Konsultasi dengan ahli kebidanan harus dilakukan apabila ibu merasa adanya perdarahan selama dalam masa kehamilan untuk mengevaluasi kondisi kehamilan ibu. Demikian sekilas informasi mengenai dampak merokok pada kehamilan. Semoga semua kehamilan dapat berjalan dengan bahagia dan penuh sukacita.

Artikel lainnya terkait kehamilan

  1. Kehamilan Resiko Tinggi
  2. Menangani keluhan pada kehamilan 
  3. Sedih saat hamil, apakah anda mengalami depresi? 
  4. 14 Tips untuk wanita hamil
  5. Mioma – Benjolan rahim, atau hamil, atau kedua-duanya? 
  6. Hamil Anggur (Mola Hidatidosa) 
  7. Vitamin D dan vaginosis bakteri pada wanita hamil 
  8. USG tak melulu untuk ibu hamil 
  9. Ibu hamil dan minum susu 
  10. Morning Sickness 
  11. Periksa kesehatan saluran telur dengan HSG 
  12. Keputihan karena jamur pada masa kehamilan
  13. Remaja dan Kehamilan
  14. Hubungan sex aman di masa kehamilan 
  15. Merencanakan Kehamilan dengan Status HIV positif
  16. Seputar Kehamilan dan Infeksi HIV
  17. Pengaruh rokok pada kehamilan 

You may also like

Leave a comment