Ancaman Bakteri Kebal Obat: Infeksi Gonore ‘Superbug’

Gonore adalah infeksi menular seksual oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae, yang menyebabkan infeksi pada uretra, serviks, anus, mata, atau tenggorokan. Walaupun jarang terjadi namun gonore juga bisa menginfeksi kulit, jantung, sendi, dan selaput otak. Komplikasi infeksi gonore meliputi penyakit radang panggul, kehamilan ektopik atau hamil di luar rahim, infertilitas, dan peningkatan risiko transmisi HIV.

Setiap tahunnya, diperkirakan ada 11.4 juta orang di kawasan Asia Tenggara terinfeksi oleh gonore. Saat ini mulai muncul infeksi gonore ‘superbug‘ yang kebal terhadap pengobatan atau resisten antibiotik. Tentunya hal ini menyebabkan kekhawatiran tersendiri.

Mengenal resistensi antibiotik

Resistensi antibiotik mengacu pada kemampuan bakteri untuk berubah menahan kerja antibiotik melalui berbagai mekanisme. Bakteri tertentu menetralisir efek antibiotik dengan cara mengubah komponen antibiotik sehingga tidak mampu bekerja secara efektif. Bakteri lainnya dapat memodifikasi diri sendiri agar antibiotik tidak dapat menembus dinding bakteri atau mengeluarkan antibiotik yang berhasil masuk.

Ketika bakteri menjadi resisten, antibiotik yang sebelumnya efektif untuk mengobati infeksi menjadi kurang efektif atau tidak efektif sama sekali. Akibatnya, pengobatan infeksi menjadi lebih sulit dan pilihan pengobatan menjadi terbatas, yang kemudian berpotensi menyebabkan masalah kesehatan yang lebih serius. Fenomena ini bukan hanya masalah tingkat individual, namun suatu masalah kesehatan masyarakat yang perlu diperhatikan lebih serius.

Infeksi gonore ‘superbug’

Pengggunaan antibiotik yang tidak tepat indikasi medis dan dosisnya tidak sesuai dapat membuat bakteri N. gonorrhoeae berkembang menjadi kebal terhadap berbagai antibiotic. Akibatnya pilihan antibiotik yang masih efektif untuk pengobatan menjadi lebih sedikit. Lebih dari 70 negara melaporkan adanya resistensi antibiotik terhadap N. gonorrhoeae. Bakteri gonore yang resisten obat lazim disebut superbug.

Kejadian naiknya bakteri gonore superbug ini disumbang oleh beberapa hal seperti meningkatnya penggunaan PrEP tanpa disertai penggunaan kondom. CDC (Control Disease Center) telah melaporkan bahwa yang menggunakan Profilaksis Pra-Pajanan (PrEP) memiliki tingkat gonore yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak menggunakan PrEP. Sebuah studi yang dimuat dalam Annals of Family Medicine menemukan bahwa tingkat gonore di antara pengguna PrEP empat kali lebih tinggi daripada di antara mereka yang bukan pengguna. Hal ini terjadi karena informasi yang kurang lengkap mengenai PrEP yang dianggap melindungi semua infeksi menular seksual. Namun faktanya adalah PrEP hanya menekan virus HIV tetapi tidak berpengaruh pada infeksi bakteri seperti gonore. Jadi praktik seks aman, misalnya dengan penggunaan kondom harus tetap diterapkan. PrEP Adalah perlindungan tambahan dari praktik seks aman. Untuk itu CDC juga merekomendasikan tes dan pengobatan infeksi menular seksual secara teratur bagi pengguna PrEP untuk mengelola risiko secara efektif.

Pada masa ini, pergerakan orang begitu mudah karena saran transportasi yang mudah dan menjangkau banyak tempat. Daya Tarik wisata, pekerjaan, atau pendidikan juga meningkatkan hal ini. Meningkatnya pergerakan orang dalam melakukan perjalanan membuat superbug ini ikut terbawa ke berbagai tempat.

Antibiotik sangat mudah didapatkan. Namun penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dan buruknya pemeriksaan untuk  mendeteksi infeksi sejak dini memperparah kondisi naiknya kasus infeksi bakteri yang kebal terhadap pengobatan, termasuk gonore superbug.

Dekade ini, N. gonorrhoeae mulai resisten terhadap antibiotik golongan sulfonamid, penisilin, tetrasiklin, makrolid, dan fluorokuinolon. Di sebagian besar negara, sefalosporin spektrum tunggal adalah satu-satunya golongan antibiotik tunggal yang tetap efektif untuk mengobati gonore. Namun, resistensi terhadap golongan-golongan antibiotik tersebut telah dilaporkan oleh lebih dari 50 negara.

Gonore vs gonore superbug: apa perbedaannya?

Gonore superbug dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok berdasarkan jumlah resistensi terhadap golongan antibiotik: yang pertama adalah multi drug resistant (MDR) yang kebal terhadap beberapa antibiotik dan mungkin masih bisa menggunakan antibiotik golongan sefalosporin dosis tunggal. Gonore superbug yang kedua adalah extensively drug resistant (XDR) yang resistan terhadap hampir semua antibiotik yang secara umum digunakan untuk mengobati infeksi ini, termasuk sefalosporin.

Seseorang dapat tertular gonore superbug bila melakukan kontak seksual tidak aman dengan seseorang yang terinfeksi. Secara umum, gejala dan gonore superbug tidak jauh berbeda dengan gonore pada umumnya. Seseorang yang didiagnosis gonore dan telah menjalani pengobatan namun tidak ada perbaikan klinis, ada kemungkinan memiliki infeksi superbug gonore. Namun, perlu diingat bahwa diagnosis pasti hanya dapat ditegakkan oleh tenaga medis melalui serangkaian pemeriksaan, termasuk tes sensitivitas antibiotik yang nanti digunakan untuk memilih pengobatan yang tepat.

What’s next?

WHO dan CDC masih merekomendasikan injeksi seftriakson dosis tunggal sebagai pilihan terapi utama untuk gonore dalam situasi ini.

Sekarang sedang dikembangkan dan diteliti antibiotik baru untuk tatalaksana gonore. Harapannya, antibiotik baru akan dapat digunakan untuk terapi gonore yang dicurigai kebal terhadap pengobatan. Namun antibiotik ini tidak digunakan sebagai pilihan utama untuk mencegah resistensi antibiotik lebih lanjut.

Pencegahan gonore superbug sangat penting dan dapat dimulai dari diri sendiri. Selalu gunakan kondom secara konsisten dan benar setiap kali berhubungan seksual dan melakukan tes rutin untuk infeksi menular seksual yang lain, terutama bagi yang berisiko tinggi. Komunikasi terbuka dengan pasangan tentang kesehatan seksual dan riwayat infeksi menular seksual juga membantu mencegah penyebaran infeksi ini.

Menghadapi tantangan gonore superbug membutuhkan kerjasama setiap orang, fasilitas kesehatan, dan pemerintah. Edukasi mengenai aktivitas seksual yang aman, deteksi dini melalui tes rutin, penggunaan antibiotik yang rasional, serta penelitian untuk pengembangan antibiotik baru adalah langkah-langkah penting dalam memerangi ancaman ini. Dengan pemahaman dan tindakan pencegahan yang tepat diharapkan dapat mengurangi risiko penyebaran gonore superbug.

Referensi

    1. Berçot B, Caméléna F, Mérimèche M, Jacobsson S, Sbaa G, Mainardis M, et al. Ceftriaxone-resistant, multidrug-resistant Neisseria gonorrhoeae with a novel mosaic penA-237.001 gene, France, June 2022. Eurosurveillance. 2022 Dec 15;27(50).

    1. CDC. Drug-Resistant Gonorrhea [Internet]. Gonorrhea. 2024 [cited 2024 Aug 6]. Available from: https://www.cdc.gov/gonorrhea/hcp/drug-resistant/index.html

    1. Maubaret C, Caméléna F, Mrimèche M, Braille A, Liberge M, Mainardis M, et al. Two cases of extensively drug-resistant (XDR) Neisseria gonorrhoeae infection combining ceftriaxone-resistance and high-level azithromycin resistance, France, November 2022 and May 2023. Eurosurveillance. 2023 Sep 14;28(37).

    1. Merrick R, Cole M, Pitt R, Enayat Q, Ivanov Z, Day M, et al. Antimicrobial-resistant gonorrhoea: the national public health response, England, 2013 to 2020. Eurosurveillance. 2022 Oct 6;27(40).

    1. Raccagni AR, Ranzenigo M, Bruzzesi E, Maci C, Castagna A, Nozza S. Neisseria gonorrhoeae Antimicrobial Resistance: The Future of Antibiotic Therapy. Journal of Clinical Medicine. 2023 Dec 18;12(24):7767

Artikel Terkait

Memahami hasil Pap Smear

Infeksi Herpes Genital Itu….

HIV dan Nutrisi

Kondom Wanita

Limfosit CD4 dan Perannya pada Infeksi HIV

Demam, Gejala atau Penyakit?

Sebelumnya
Selanjutnya

Buat janji dokter sekarang

Hubungi Kami

Silahkan gunakan formulir ini kapan saja untuk menghubungi kami dengan pertanyaan, atau untuk membuat janji.

Anda juga dapat menghubungi kami melalui WhatsApp atau telepon pada jam klinik di +62 8111 368 364.