Haemophilus ducreyi adalah bakteri gram negatif yang terkenal “rewel” karena sulit ditumbuhkan di laboratorium. Bakteri ini merupakan penyebab chancroid, yaitu penyakit infeksi menular seksual yang ditandai dengan luka terbuka dan bernanah pada area kelamin. Organisme ini biasanya menular dari aktivitas seksual melalui luka mikroskopis atau kontak dengan cairan luka tersebut.
Penyakit ini biasanya memberikan gejala munculnya beberapa luka pada kulit atau selaput lendir dengan nyeri yang cukup hebat, dan disertai dengan pembesaran kelenjar getah bening di lipat paha. Sehingga orang yang mendapatkan infeksi ini cenderung segera mencari pengobatan karena rasa nyeri yang ditimbulkan.
Haemophilus ducreyi jarang sekali muncul tanpa gejala. Menariknya, beberapa penelitian terbaru menunjukkan bahwa H. ducreyi dapat menjadi penyebab utama luka kronis kulit pada anak-anak di beberapa negara berkembang. Selain itu, infeksi bakteri ini dapat meningkatkan potensi penularan HIV.
Chancroid
Masa inkubasi chancroid berkisar antara 3 hingga 10 hari setelah kontak berisiko terakhir, terutama jika terjadi luka mikroskopis atau trauma ringan pada kelamin. Kulit yang kontak dengan luka atau cairan yang mengandung H. ducreyi kemudian berkembang menjadi luka terbuka (ulkus) yang sangat menular.
Gejala chancroid meliputi:
- Ulkus atau luka terbuka dengan karakteristik sebagai berikut:
- Berjumlah lebih dari satu. Ini mungkin terjadi karena kontak kulit dengan ulkus di kulit sekitarnya yang bersentuhan dengan luka (kissing ulcers), tepi tidak rata, berwarna kemerahan, sangat nyeri, bernanah, rapuh sehingga mudah berdarah saat disentuh
- Paling sering muncul di penis (seringkali pada area dekat kepala penis) atau vagina, vulva, serta perianal.
- Gejala lain:
- Nyeri saat berhubungan seksual atau saat buang air kecil
- Bengkak di lipat paha atau inguinal
- Pembengkakan kelenjar getah bening yang dapat menembus kulit dan membentuk abses atau bisul yang besar (Bubo). Abses ini sering memerlukan tindakan mengeluarkan nanahnya.
Diagnosis
Diagnosis chancroid secara klinis dapat menjadi sebuah tantangan karena memiliki kemiripan dengan lesi penyebab ulkus genital lain, seperti sifilis dan herpes. Karena itu, disarankan untuk melakukan tes diagnostik tambahan sangat disarankan.
- Pada pewarnaan Gram: tes usap nanah (eksudat) yang diambil dari ulkus chancroid menunjukkan gambaran yang disebut school of fish, karena nampak untaian panjang bakteri yang terlihat seperti barisan “kawanan ikan” atau “rel kereta api”.
- PCR (Polymerase Chain Reeaction): Merupakan yang paling direkomendasikan karena lebih sensitif dan akurat untuk medeteksi genetik H. ducreyi.
Pengobatan
Chancroid dapat diobati dengan antibiotik tertentu, dan terapi sebaiknya dimulai segera untuk mencegah komplikasi seperti pembentukan bubo yang membutuhkan tindakan bedah. Pada pasien dengan HIV atau laki-laki yang belum disirkumsisi, proses penyembuhan dapat berlangsung lebih lama.
Penanganan pasangan seksual
Pasangan seksual dari orang yang terinfeksi chancroid juga perlu diperiksa dan diobati, tanpa melihat adanya gejala, apabila mereka melakukan kontak seksual dengan penderita dalam waktu 10 hari terakhir. Hal ini penting untuk memutus rantai penularan.
Pencegahan
- Pencegahan chancroid melibatkan aktivitas seksual yang aman, termasuk penggunaan kondom dengan benar dan konsisten
- Melakukan skrining infeksi menular seksual secara rutin
- Menghindari hubungan seksual dengan pasangan yang terinfeksi