Nomophobia, Adiksi Telpon Pintar

Fobia dan adiksi apakah sama?

Dikatakan fobia bilamana orang takut luar biasa yang tidak masuk akal, bahwa ia terancam bahaya, dan bahaya itu adanya dalam imajinasi, tidak nyata. Orang yang mengalami fobia, sangat ketakutan, debar jantung kencang, seakan mau mati, cemas luar biasa, panik, tak dapat berpikir. Istilah populer tentang fobia yang sudah dikenal adalah fobia ketinggian, fobia kecoak, fobia sendirian, fobia di tempat umum, dan banyak lagi. Gambaran fobia adalah gambaran manusia cemas luar biasa, irasional ketika menghadapi sebuah situasi atau kondisi. Suatu fobia situasional.

Istilah adiksi, diterapkan pada orang yang takut luar biasa meninggalkan kebiasaannya menggunakan zat, meski ia tahu bahwa zat tersebut membahayakan hidupnya. Besaran penggunaannya makin memakan waktu dan jumlah penggunaannya makin meningkat. Kalau ia dipisahkan dari zat tersebut, gejala putus hubungan mencekam. Badan rasa sakit, mungkin menggigil, mudah marah, hilang akal sehat. Gejala akan menghilang jika orang tersebut mendapatkan kembali ‘benda’ atau zat yang dibutuhkannya atau yang serupa dengan yang dibutuhkannya. Istilah popular adalah kecanduan, kita mengenal lebih dahulu kecanduan zat seperti ganja, heroin, kathinon, tembakau dsb.

Sekarang keadaan fobia atau adiksi seperti diatas rupanya banyak dialami oleh pengguna telpon pintar ketika telponnya tidak berada didekatnya. Biasanya telpon pintar ini lengket pada diri mereka seperti lengketnya perangko pada amplop. Sangat cemas luarbiasa, bingung, deg-deg an, rasa mau pingsan, begitu menyadari barang sebesesar genggaman tak lagi ada dalam genggamannya. Karena itu ada istilah baru yang dipopulerkan oleh Kantor Pos Inggeris pada tahun 2008 ketika mereka melakukan penelitian kecemasan pada pengguna telpon pintar, nama keadaan seperti ini NoMobilePhone Phobia, NOMOPHOBIA.

Besaran Nomophobia

Survai di Inggeris menurut NIDA (National Institute on Drug Abuse- for Teens) menyebutkan bahwa dua pertiga orang di Inggeris mengalami nomophobia. Jumlahnya meningkat menjadi 77% pada anak muda berusia 18‒24 tahun. Di Amerika Serikat, rerata 75% remaja mengetuk keyboard telpon genggam dan mengirimkan pesan per hari. Dalam Journal of Clinical and Diagnostic Research 2017 yang dipublikasikan online pada 1 Feb 2017, tulisan Monika Prasad dkk, dikatakan sekitar 39.5% mahasiswa kedokteran gigi mengalami penurunan nilai ujian profesi karena mereka menghabiskan banyak waktu untuk menggunakan telpon pintar. Mereka yang sering memeriksa HP nya dalam kelas ketika kelas klinis sebesar 24.7%. Sejumlah 24.12%, mahasiswa mengalami nomophobia dan berisiko menjadi nomophobia 40.97%.

“Ketergantungan pada telpon pintar bukanlah hal melanggar hukum, seperti halnya ketergantungan pada tembakau alias merokok. Masalah muncul ketika kegelisahan terhadap telpon pintar mulai mengganggu kesehatan mental seseorang dan kesejahteraan psikologis,” ujar Ketua Penelitian dari Iowa State University, Caglar Yildirim. Ia kemudian membuat daftar pertanyaan yang dapat dijawab sendiri oleh pengguna telpon pintar, kemudian menilainya apakah mereka ketergantungan atau tidak. Kuesioner itu diberi nama Nomophobia Questionnaire (NMP-Q) (Yildirim, C., & Correia, A. P. (2015) yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Spanyol, Italia dan Turki. Dapat diakses melalui internet.

Respon anda diberi skor 1 (sangat tidak setuju) sampai 7 (sangat setuju). Skor 20 atau lebih rendah berarti tidak kecanduan; skor 21 sampai  60 nomophobic ringan; skor 61 sampai 99 artinya anda selalu terlekat erat untuk memeriksa telpon pintar anda.

Skor 100 dan 200 anda mengalami anxietas berat ketika tidak mampu mengakses layanan telpon pintar anda.

Jika seseorang mengalami anxietas berat, berarti kehidupan sosial dan relasi anda pada keluarga serta teman-teman mengalami gangguan. Menurut Yildirim, penelitian mengatakan bahwa orang dengan skor tinggi pada kuesioner ini menghindari hubungan tatap muka, mengalami anxietas sosial, bahkan mengalami depresi.

Perilaku Pecandu telpon pintar

Orang yang adiksi telpon pintar akan berulangkali melihat dan bertindak menggunakan telponnya. Bayangkan jika ia sedang mengemudi mobil atau naik motor, maka perhatiannya menjadi tidak fokus pada jalan yang dilaluinya. The US Centers for Disease Control and Prevention, mengemukakan angka kematian karena kecelakaan lalu lintas 9 orang per hari dan lebih dari 1000 cedera.

Di Jakarta saja kita akan jumpai banyak pengemudi masih sering menggunakan telpon pintarnya di jalan saat mengemudi.

Kata Lembaga Peneliti dari USA, 59% orang generasi millenial berusia 18-33 tahun mengemudikan mobil sambil menulis di telpon pintarnya, dibanding 50% Gen X yang berumur 34-45 tahun. Di Trans Jakarta, di atas kereta komuter, meski kendaraan sesak, sebagian besar orang menggunakan waktunya menggunakan telpon pintar.

Beberapa penelitian menyampaikan bahwa sinar dari telpon genggam dapat mengganggu produksi melatonin, sehingga mengganggu tidur.

Pemeriksaan dengan penciteraan otak di Universitas Korea di Seoul, yang dikutip CNN, membandingkan otak remaja 19 tahun yang adiksi telpon genggam dan bukan kadar GABA pecandu telpon pintar meningkat tinggi pada korteks otak. Ini membuat atensi dan kendali otak terganggu sehingga orang tak dapat fokus.

Dapatkah kecanduan telpon pintar dipulihkan?

Para ahli memberikan sarannya untuk hal ini:

  1. Matikan telpon pintar anda pada saat anda perlu fokus, seperti pekerjaan kantor, kuliah, rapat, main dengan keluarga, makan.
  2. Buang Media Sosial dari telpon pintar anda. Pindahkan ke laptop atau komputer anda, dan hanya dibuka dengan jangka waktu tertentu saja, misal 15 menit.
  3. Jika anda tidur, simpan telpon genggam anda, jauh dari jangkauan.
  4. Gantikan kegiatan telpon pintar dengan aktivitas luar gedung yang menyenangkan seperti bersilaturahim dll.

Apakah Anda kuatir Anda mungkin nomophobic? Yuk ikuti kuis ini dan cari tahu!

Quiz Nomophobia

Artikel Terkait

Webinar

Mengenal Berbagai Jenis Kecanduan

Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)

Sering Lupa? Hati-hati Alzheimer

Quiz

QUIZ – Nomophobia

Narkoba dan Fungsi Seksual

Siasat Menjadi Ibu yang Bekerja

Previous
Next

Buat janji dokter sekarang

Hubungi Kami

Silahkan gunakan formulir ini kapan saja untuk menghubungi kami dengan pertanyaan, atau untuk membuat janji.

Anda juga dapat menghubungi kami melalui WhatsApp atau telepon pada jam klinik di +62 8111 368 364.