Author

Shyntia Anggreani, A.M.Keb.

Editor

Illustration

Kurnia Dwijayanto

Pentingnya Pap Smear

Seberapa pentingkah Pap Smear?

Data Global Cancer Observatory (Globocan) dari World Health Organization (WHO) menyebutkan di tahun 2018 terdapat 18,1 juta kasus baru kanker dengan angka kematian sebesar 9,6 juta kematian, dimana 1 dari 5 laki-laki dan 1 dari 6 perempuan di dunia mengalami kejadian kanker. Dan data tersebut juga menyebutkan bahwa kematian 1 dari 8 laki-laki dan 1 dari 11 perempuan, disebabkan karena kanker. Lima kanker terbanyak di Indonesia adalah kanker payudara, kanker serviks atau leher rahim, kanker paru-paru, kanker usus besar, dan kanker hati.

Menurut data yang dipaparkan oleh Kementerian Kesehatan per 31 Januari 2019, terdapat angka kanker payudara 42,1 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 17 per 100.000 penduduk dan kanker serviks sebesar 23,4 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 13,9 per 100.000 penduduk.

Dr Wen-son Hsieh, Medical Oncologist, ICON-SOC dan Farrer Park Hospital, Singapura mengatakan: “Kanker serviks adalah kanker ke-4 yang paling banyak di seluruh dunia dan 80% dari kasus terjadi di negara berkembang. Ini kemungkinan disebabkan karena rendahnya insiden prosedur skrining yang dilakukan di negara berkembang.”

Pernyataan ini diperkuat oleh Jonathan Ledermann, Professor of Medical Oncology, UCL Cancer Institute, London, UK yang mengatakan tingkat kesadaran melakukan skrining untuk melakukan deteksi dini kanker serviks dan payudara yang ditemukan dalam penelitian di Indonesia ini sangat rendah dibandingkan dengan Eropa Barat. Lembaga penelitian PILAR dan Universitas Gadjah Mada bekerja sama dengan peneliti dari University College London, King’s College London dan University of Manchester melakukan survey terhadap 5.397 perempuan berusia 40 tahun ke atas. Hasil survey tersebut memberikan hasil bahwa hanya 1.058 (20%) perempuan yang menyadari perlunya pemeriksaan pap smear. Dari mereka yang sadar, hanya 297 wanita yang pernah melakukan pemeriksaan serviks. Hanya 251 (5%) wanita yang sadar pentingnya melakukan mamografi, dan hanya lima wanita yang melakukan mammogram pada tahun sebelumnya. Sekitar 12% wanita telah melakukan pemeriksaan payudara sendiri dalam setahun terakhir. Pendidikan tinggi dan pengeluaran rumah tangga dikaitkan dengan kesadaran yang lebih besar tentang pentingnya melakukan pap smear dan mamografi. Kesadaran dan tindakan aktif melakukan deteksi dini kanker serviks dan payudara lebih banyak dilakukan pada mereka yang memiliki asuransi kesehatan, jarak yang lebih dekat ke layanan kesehatan, dan yang aktif dalam kehidupan sosial. Ini selaras juga yang dikatakan oleh Prof. Andri, Ketua HOGI (Himpunan Ginekologi Onkologi Indonesia) yang dilansir dalam Tribunnews, bahwa sekitar 80% pasien dengan kanker serviks datang dalam stadium lanjut, dan 94% dari pasien stadium lanjut, meninggal dalam waktu dua tahun. Bila dirata-rata, sekitar 40 sampai 60 perempuan meninggal dalam sehari karena kanker serviks.

Pap smear perlu dilakukan oleh wanita yang telah aktif secara seksual, baik yang telah menikah maupun belum. Selain disebabkan oleh HPV, ada pula beberapa faktor risiko yang bisa memengaruhi risiko kanker serviks, misalnya, merokok, infeksi berulang area mulut rahim, faktor keturunan, serta paparan diethylstilbestrol (DES) atau kontrasepsi estrogen ketika masih dalam kandungan. Itu sebabnya walaupun sudah melakukan vaksin HPV secara lengkap masih perlu rutin melakukan pap smear.

Seberapa sering harus melakukan Pap Smear?

Pada dasarnya setiap wanita dianjurkan melakukan kunjungan skrining tes Pap tahunan sebagai kesempatan untuk membahas masalah kesehatan reproduksi dan langkah-langkah pencegahan.

Frekuensi pemeriksaan akan ditentukan berdasarkan kategori usia dan kondisi di bawah ini:

  1. Wanita berusia 21-65 tahun dianjurkan untuk menjalani tes Pap smear setiap 3 tahun sekali, baik yang sudah menjalani vaksin HPV maupun belum.
  2. Wanita berusia 21-29 tahun disarankan untuk melakukan tes Pap setiap 3 tahun sekali. Pemeriksaan HPV tidak perlu dilakukan, kecuali hasil tes Pap smear menunjukkan keabnormalan.
  3. Wanita berusia 30 tahun ke atas sebaiknya menjalani Pap smear setiap 3 tahun sekali. Namun bisa dilakukan bersamaan dengan melakukan tes HPV setiap 5 tahun hingga usia 65 tahun.
  4. Wanita berusia 65 tahun yang sudah menjalani Pap smear selama 10 tahun terakhir dan memiliki hasil yang normal, bisa berhenti untuk menjalani tes Pap karena tidak memerlukannya lagi. Begitu juga bagi wanita yang sudah melakukan total histerektomi.
  5. Wanita berusia di atas 65 tahun namun memiliki riwayat pemeriksaan pap smear tidak normal atau ditemukan lesi pra-kanker maka dianjurkan tetap melakukan pap smear 20 tahun ke depan setelah penanganan lesi pra-kanker tersebut.

Hal yang harus dipersiapkan sebelum Pap Smear:

  1. Jangan menjalani Pap smear saat Anda sedang menstruasi. Waktu terbaik untuk melakukannya adalah 5 hari setelah haid selesai.
  2. Jangan berhubungan intim maupun menggunaan krim atau obat untuk vagina dan kontrasepsi selama 1-2 hari sebelum tes.
  3. Lakukan Pap Smear bila Sahabat mengalami peradangan leher rahim (servisitis), Pap Smear akan membantu dalam melihat abnormalitas pada vagina.
  4. Untuk ibu hamil, Pap smear masih aman dilakukan hingga usia kehamilan 24 minggu.
  5. Untuk wanita yang baru melahirkan, tunggulah hingga 12 minggu setelah melahirkan jika ingin melakukan Pap smear.
  6. Sedang mengonsumsi obat-obatan, misalnya pil KB yang mengandung estrogen dan progestin. Obat ini bisa berpengaruh pada hasil tes. Sebaiknya di konsultasikan dengan dokter.
  7. Hindari Douching dan pembersih area kewanitaan dengan gel, sabun, atau krim anti bakteri sebelum melakukan Pap Smear. Setidaknya 2 hari sebelum melakukan PapSmear, agar hasil abnormalitas terlihat jelas dalam pemeriksaan Pap.
  8. Lakukan pengulangan tes Pap smear dengan hasil abnormal.

Bagaimana sih Prosedur Pap Smear?

  1. Anda akan diminta untuk melepaskan pakaian bagian bawah, termasuk celana dalam.
  2. Anda akan diminta untuk berbaring telentang di atas ranjang khusus dengan posisi seperti melahirkan.
  3. Dokter akan memasukkan spekulum ke dalam vagina.
  4. Spekulum akan dibuka agar leher rahim menjadi bisa terlihat.
  5. Dokter akan menggunakan swab khusus untuk mengambil sampel jaringan dari serviks.
  6. Setelah swab dikeluarkan, Anda bisa kembali berpakaian dan tes pun selesai.

Apa yang harus dilakukan bila hasil Pap Smear positif?

Sebagian wanita yang mendapatkan hasil abnormal belum tentu terkena kanker serviks. Namun sebaiknya menjalani pengujian lebih lanjut untuk memantau kondisi sel-sel serviks.

Salah satu contoh kondisi medis yang bisa memicu hasil abnormal meliputi peradangan serta displasia (perubahan kecil pada sel-sel). Kedua kondisi ini biasanya akan hilang dengan sendirinya.

Karena itu, dokter akan melakukan pemantauan kondisi dan memberi saran untuk menjalani tes pada beberapa bulan kemudian. Apabila tes tetap menunjukkan hasil yang tidak normal, dokter bisa merekomendasikan prosedur kolposkopi.

Berbeda dengan Pap smear, kolposkopi memungkinkan dokter untuk melihat kondisi serviks untuk mencari bagian yang mencurigakan. Dokter bisa mengambil gambar maupun melakukan biopsi (pengambilan sampel) dari bagian yang diperiksa.

Sumber

  1. https://www.kemkes.go.id/article/view/19020100003/hari-kanker-sedunia-2019.html
  2. https://gco.iarc.fr/today/data/factsheets/populations/900-world-fact-sheets.pdf
  3. http://www.esmo.org/

Artikel Terkait

Hepatitis B (Bagian 2)

HPV and what you need to know

Orgasme

Why So Many Women Don’t Have Orgasms

Perawatan Miss V

Kehamilan Berisiko Tinggi

Happiness and Healthy Sex

Sebelumnya
Selanjutnya

Buat janji dokter sekarang

Hubungi Kami

Silahkan gunakan formulir ini kapan saja untuk menghubungi kami dengan pertanyaan, atau untuk membuat janji.

Anda juga dapat menghubungi kami melalui WhatsApp atau telepon pada jam klinik di +62 8111 368 364.