Rahasia Keberhasilan Training?

Dr. Asti Widihastuti Tatap Bicara di PERNAS V Makassar

Pada tanggal 25-29 Oktober 2015, di hotel Sahid Jaya Makassar dilaksanakan Pertemuan Nasional AIDS V. Pertemuan ini dihadiri perwakilan komunitas populasi kunci, aktivis, akademisi, jaringan nasional HIV, organisasi masyarakat sipil, organisasi berbasis komunitas, pemerintah, dan donor.

Seperti pertemuan nasional pada umumnya, Pernas AIDS V ini dipenuhi dengan berbagai kegiatan seperti skill building workshop, symposium, presentasi oral, presentasi poster, konferensi pers, dan banyak booth dari berbagai organisasi yang menyediakan publikasi, informasi terkini, gimmick, dan lain-lain.

Dalam salah satu sesi presentasi oral, Dr. Asti Widihastuti dari Angsamerah Institution mendapatkan kesempatan untuk mempresentasikan pengalaman Angsamerah dalam menfasilitasi rangkaian kegiatan pengembangan kapasitas dokter praktek swasta yang menjadi jejaring UNALA, sebuah proyek pilot layanan dokter praktek swasta ramah remaja di DI Yogyakarta yang didukung oleh UNFPA Indonesia.

Pada presentasinya tersebut, dr. Asti menampilkan proses pengembangan kapasitas yang bertahap (training, mentoring, dan kunjungan penguatan) dengan metode-metode tertentu yang disesuaikan dengan kebutuhan atau hasil yang diharapkan. Satu hal yang khas dalam rangkaian kegiatan pengembangan kapasitas ini adalah fokus yang Angsamerah lakukan pada pengembangan soft skills, satu faktor penting yang menentukan kesuksesan komunikasi dokter pasien yang setara, menghormati, dan memberdayakan.

Salah satu pertanyaan yang diajukan peserta pada sesi tersebut adalah, apa rahasia keberhasilan training yang dilakukan Angsamerah? Peserta ini bekerja pada sebuah lembaga yang telah melakukan banyak pelatihan, namun ia mulai merasa frustasi karena merasa pelatihan-pelatihan tersebut tidak membuat perubahan apa-apa.

Tanggapan dari dr. Asti adalah penting untuk benar-benar menentukan perubahan apa yang ingin kita dapatkan dari sebuah pelatihan. Biasanya pelatihan dibuat untuk meningkatkan pengetahuan peserta. Selain itu, mengembangkan ketrampilan tertentu, dan memberikan perspektif baru bagi peserta dan mengubah sikap tertentu. Hal ini akan menentukan metode apa yang akan dipilih dalam sesi-sesi pelatihan tersebut. Tidak ada satu metode yang dapat mengubah semua komponen perubahan yang kita sasar. Ketrampilan, misalnya, hanya akan berkembang melalui metode bermain peran, simulasi, atau praktek lapangan. Presentasi interaktif dapat mengubah pengetahuan tapi mungkin tidak akan cukup untuk mengubah sikap. Sehingga, jika kita ingin mengubah sikap peserta tentang sesuatu, metode kuliah (lecture), ceramah atau presentasi jelas akan tidak efektif.

Setelah kita jelas dengan perubahan tersebut, apakah perubahan tersebut realistis? Kita perlu memikirkan kembali, ketika membawa konsep dan teori pada praktek, apakah keluaran yang kita niatkan sudah cukup realistis? Apakah ada aktivitas-aktivitas lain yang perlu dibuat untuk membantu peserta dengan proses belajar dan refleksi? Apakah aktivitas-aktivitas tambahan tersebut dapat diintegrasikan dalam training, ataukah ada kegiatan terpisah yang perlu dibuat untuk mendapatkan hasil yang kita inginkan? Karena perubahan-perubahan tidak terjadi begitu saja, banyak faktor yang mempengaruhi dan membuat perubahan tidak terjadi atau perubahan ada tetapi tidak seperti yang diharapkan.

Yang terakhir, penting untuk mendapatkan umpan balik dari peserta dalam berbagai level, termasuk kognitif dan afeksi. Apa yang mereka pikirkan dan rasakan tentang perubahan pengetahuan, sikap dan ketrampilan mereka? Apa yang sudah baik dari proses, metode, konten, dan pendekatan pelatihan? Apa yang harus dilakukan secara berbeda dikemudian hari?

Pertanyaan-pertanyaan diatas, menurut dr. Asti, adalah pertanyaan yang menjadi panduan brainstorming dan diskusi pada saat pengembangan kurikulum pelatihan yang dilakukannya selama ini di Angsamerah. Dengan demikian, proses pembelajaran tidak hanya terjadi bagi peserta, tetapi juga bagi fasilitator dan penyelenggara.

Artikel Terkait

Gonore

Kondom Wanita

Limfosit CD4 dan Perannya pada Infeksi HIV

HIV dan Nutrisi

Demam, Gejala atau Penyakit?

Bagaimana dokter mendiagnosa keputihan?

Sebelumnya
Selanjutnya

Hubungi Kami

Silahkan gunakan formulir ini kapan saja untuk menghubungi kami dengan pertanyaan, atau untuk membuat janji.

Anda juga dapat menghubungi kami melalui WhatsApp atau telepon pada jam klinik di +62 8111 368 364.