Darah menetes-tetes dari parangnya
Laki-laki itu terkulai tak bernyawa di balik selimut
Marni telah jadi penjemput nyawanya
“KAU APAKAN SUAMIMU MARNI?!” Polisi bertanya
Di balik bilik interogasi, Marni berhikayat
Tentang nafas tubuhnya yang tinggal setengah saja
Lalu, visum menyuratkan kalau Marni pun telah celaka
Siapa korban sesungguhnya?
Dalam 13 tahun pernikahannya
Joko, si suami, tak pernah minta izin untuk bercinta
Marni kerap dipaksa dan diperkosa
Hingga ia melebur dengan luka dan air mata
Lantas, 10 tahun yang lalu, Marni telah melepaskan daulat atas tubuhnya
Ia jadi sudi digunakan; disetubuhi seperti hewan
Dalam diam, Marni melepaskan
Joko seperti lintah, menghisap warna dari tubuh Marni pelan-pelan
Namun karena kerap dibiarkan
Kini Joko sudah hilang akal
Sudah beberapa waktu:
Tatap matanya kosong dan menajam di saat yang bersamaan
Seperti serigala berburu mangsa
Kemarin, dalam tidur:
Joko telah menyentuh dan merudapaksa anak mereka dengan sengaja
Utari, namanya, meraung pilu dengan begitu memekakkan
Marni berlari tunggang langgang menuju suara buah hatinya
Terlambat sudah,
Kedaulatan tubuh Utari telah direbut oleh Bapaknya sendiri
Sedangkan Joko, si Bapak, kembali ke kamarnya lega pasca menuntaskan berahi
Ternukil,
Marni telah nadir
Ia ambil parang dan digoroknya leher laki-laki yang telah merebut martabat; menanamkan cacat
Pada tubuhnya dan anak mereka
Teruntuk perempuan, ketahuilah:
Hanya dirimu yang berdaulat akan setiap jengkal tubuhmu
Pernikahan bukanlah persetujuan sekali seumur hidup untuk bercinta
Diammu adalah ruang untuknya merampas lebih banyak
Jangan terlambat
Terapkan batasan
Karena hanya dirimu yang berdaulat
Cengkareng, 3 Juli 2025
Buah tangan Anindhita