Work Life Balance dan Hubungannya dengan Kesehatan Fisik & Mental

Sejak munculnya media sosial, banyak orang yang suka mencurahkan isi hati dan pikirannya baik di Facebook, Twitter, bahkan Instagram atau blog pribadi dan berbagai platform lainnya. Curhatannya juga tidak hanya opini mengenai apa yang lagi trending, tapi juga mengenai permasalahan kehidupan; mulai dari keluarga, percintaan, dan karir. Kemudian ditambah dengan adanya hustle culture, generasi jaman now memang sepertinya jadi mendapat peer pressure untuk menghasilkan cuan yang banyak, dan akhirnya bekerja malah menambah beban yang bisa memengaruhi aspek kehidupan lainnya.

Sejak sebelum pandemi Covid-19 saja tuntutan pekerjaan sudah banyak, apalagi setelahnya. Banyak perubahan yang harus disesuaikan, yang bisa jadi bermanfaat atau justru menambah beban. Inilah yang menjadi kegelisahan masyarakat usia produktif saat ini, banyak struggle yang dialami mulai dari para lulusan baru yang sedang mencari pekerjaan, karyawan yang mengerjakan revisi berkepanjangan, mereka yang merasa jenuh dengan kerjaannya, sampai struggle yang kelihatannya remeh tapi menguras emosi dan tenaga seperti melewati kemacetan menuju ke dan/atau pulang dari kantor.

Memang benar bahwa saat orang bekerja tidak hanya menghasilkan uang saja, tapi juga tekanan. Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan antara kehidupan di dunia kerja dan kehidupan di dunia pribadi (Work Life Balance). Jika Sahabat memiliki WLB yang baik, berarti Sahabat mengerti bagaimana mengelola apa yang perlu dikerjakan secara rasional agar pekerjaan selesai tanpa merasa overwhelmed, sehingga Sahabat bisa menjaga kesehatan jiwa dan raga.

Baca juga: Tes Psikologi

Yup, untuk bisa bekerja dengan optimal maka seseorang harus sehat agar mampu untuk mencapai target dan berelasi dengan rekanan. Menurut WHO (2008), kata sehat itu dimaknai sebagai suatu keadaan kondisi fisik, jiwa dan kesejahteraan sosial yang merupakan satu kesatuan dan bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan. Sementara itu, tekanan yang berlangsung terus menerus bisa menjadi tidak sehat dan menyebabkan ketidaksejahteraan fisik, jiwa dan sosial, meskipun seseorang tidak memiliki penyakit/tidak cacat.

Faktor apa saja yang dapat memengaruhi kesehatan?

Fisik

  • Kurangnya aktifitas fisik, misalnya karena terlalu lama duduk di depan komputer.
  • Kebiasaan mengkonsumsi atau nyemil makanan dan minum tidak sehat menjadi kecenderungan ketika kita terlalu banyak bekerja.
  • Kurang tidur, yang justru menjadi inti dari munculnya permasalahan lain seperti gangguan konsentrasi, penurunan metabolisme, perubahan mood, serta memicu berbagai permasalahan kognitif di hari tua.

Kondisi fisik yang tidak dijaga menimbulkan permasalahan otak, stroke, jantung, pernafasan, serta metabolisme yang berujung pada pekerjaan yang tidak bisa terselesaikan.

Jiwa

  • Banyaknya tuntutan pekerjaan, karena pada dasarnya kerja = tuntutan.
  • Masalah keuangan yang harus dikelola agar apa yang dihasilkan dari bekerja bisa memenuhi berbagai kebutuhan.
  • Masalah dalam hubungan dengan rekanan kerja, keluarga, pasangan dan relasi sosial saling berpengaruh. Jika relasi dengan pasangan/keluarga bisa mendukung, maka tekanan pekerjaan bisa menjadi lebih ringan.

Dampaknya pada kesehatan?

Tentunya fisik yang tidak fit memengaruhi perasaan/jiwa, begitupun sebaliknya; jiwa yang tidak fit memengaruhi keadaan fisik. Keadaan ini disebut juga dengan gangguan psikosomatis. Gangguan Psikosomatis (Psyche: pikiran, Soma: tubuh) mengacu pada keluhan gejala fisik yang muncul akibat pikiran dan emosi yang dirasakan seseorang, baik karena stress, depresi, atau kecemasan.

Ciri-ciri fisik yang dialami bisa seperti beragam sensasi di perut, jantung berdebar lebih kencang dari biasanya, sakit kepala, nyeri otot, atau imun tubuh melemah. Manifestasi fisik dari gangguan jiwa, bisa saja terjadi walaupun pekerjaan sudah terselesaikan. Biasanya ketika kita sudah memeriksakan diri ke dokter, tidak ditemukan penyakit apapun namun kita cenderung masih merasa tubuh tidak nyaman dan tidak fit.

Solusi untuk menangani keluhan-keluhan tersebut menurut Dr. Gina Anindyajati, Sp. KJ (Psikiater Angsamerah Clinic) salah satunya adalah dengan mengelola stress. Berikan kesempatan bagi diri sendiri untuk mendapatkan/memenuhi hak-hak dasar sebagai manusia, sehingga dengan demikian kita bisa membuat pemetaan solusi untuk menghadapi tekanan.

Pengelolaan stress menurut WHO (2022) dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu;

Tingkat Individu:

  • Melakukan self-care (Olahraga rutin, relaksasi, melakukan hobi)
  • Intervensi psikososial (via aplikasi digital mis. terapi kognitif di internet, menulis jurnal)
  • Menyelesaikan tugas-tugas berdasarkan skala prioritas

Sayangnya dalam melakukan self-care orang-orang cenderung berujung pada kekeliruan pemahaman sbb:

  • Self-care = menyendiri
  • Self-care = mengutamakan kepentingan pribadi
  • Self-care = pampering (memanjakan diri)
  • Self-care = to do list

Esensi self-care adalah merawat diri, sehingga harus dilakukan secara seimbang dan tidak berlebihan, dengan tetap bertanggung jawab, serta menjaga keselarasan diri dengan lingkungan agar tidak menimbulkan masalah lain. Karena perlu diingat, bahwa self-care bukanlah pelarian.

Tingkat Organisasi:

  • Penilaian faktor risiko terkait pekerjaan atau psikososial yang memengaruhi kesehatan (jiwa dan fisik)
    • Jenis dan beban pekerjaan
    • Jadwal kerja dan keseimbangan antara professional life & personal
    • Budaya organisasi
    • Hubungan dengan rekan kerja
  • Komitmen pada proses implementasi untuk intervensi organisasi mulai dari Menyusun perencanaan, pelaksanaan, dan observasi agar target pekerjaan tetap dapat dicapai
  • Pembatasan akses ke sarana bunuh diri

Organisasi tempat kita bekerja harus memiliki kesadaran bahwa para pekerjanya juga harus difasilitasi dengan sarana-sarana yang menunjang kesejahteraan diri, dengan demikian pekerjaan dapat dilakukan dengan baik dan target dapat tercapai.

Baca juga: Selaras dan Seimbang di Dunia Pekerjaan serta di Kehidupan Pribadi

Program skrining/penapisan

Merupakan program profesional berkualitas yang dirancang untuk mengidentifikasi pekerja dengan masalah kesehatan jiwa, serta harus mencakup beberapa aspek penting seperti salah satunya menjaga kerahasiaan pekerja dan kepatuhan terhadap hak azasi manusia (HAM). Harapannya, dengan program skrining pekerja bisa mendapat dukungan untuk melanjutkan ke akses layanan kesehatan berikutnya yang sesuai (pengobatan/perawatan).

Untuk bisa menyelaraskan kehidupan profesional dan personal, maka Sahabat harus bisa mengenali batasan dan kemampuan diri. Selain itu, dengan mengenali batasan dan kemampuan sendiri, Sahabat bisa mengetahui dan mengakses bantuan (termasuk ke layanan kesehatan) sesuai dengan kebutuhan.

Bagaimana caranya untuk bisa mengenali batasan dan kemampuan diri? Gimana caranya supaya bisa meraih self-awareness? Nah, jangan kuatir! Program Kacapikir dari Angsamerah menyediakan berbagai kelas pengembangan diri dan life coaching bagi Sahabat yang ingin bisa melatih semua ini, bahkan sampai dengan menangani emosi secara fisik. Sahabat bisa kunjungi website resmi angsamerah.com atau langsung menghubungi kontak Angsamerah untuk info selengkapnya.

Klik tautan berikut untuk tonton ulang webinar Kacapikir dengan Lingkar Madani Penabulu “Work life balance: Membangun Keselarasan Dunia Kerja dengan Kehidupan Pribadi dengan Peduli pada Kondisi Sendiri” pada Rabu, 18 Januari 2023 melalui YouTube.

Referensi

Narasumber

Adhe Zamzam Prasasti, S.Psi

Dr. Gina Anindyajati, Sp.KJ

Artikel Terkait

Dapatkah kebencian dipulihkan?

Berelasi, bagaimana bersikap untuk tidak membuat kerumitan

Ghosting

Meninggalkan Hubungan Tergantung Tak Berujung

Saatnya berkesehatan jiwa dalam berkomunikasi

Sebuah catatan tentang percaya diri

Konseling Kesehatan Jiwa, Mengatasi Tantangan Bersama

Previous
Next

Buat janji dokter sekarang

Hubungi Kami

Silahkan gunakan formulir ini kapan saja untuk menghubungi kami dengan pertanyaan, atau untuk membuat janji.

Anda juga dapat menghubungi kami melalui WhatsApp atau telepon pada jam klinik di +62 8111 368 364.