Melukai Tapi Tak Ingin Mati

Bagi kebanyakan orang, melukai diri sendiri merupakan hal yang menyakitkan, menimbulkan rasa tidak nyaman karena menganggap tubuh perlu dijaga keselamatan dan kesehatannya. Namun ada orang-orang yang merasa bahwa melukai diri dengan menyayat tubuh, membakar diri, membentur-benturkan tubuh, memukul diri sendiri, menusuk tubuh yang bukan bertujuan untuk bunuh diri.

Biasanya dilakukan di area pribadi, dalam ruang tertutup, tidak diketahui orang lain. Tindakan ini dikenal dengan nama Non-Suicidal Self Injury (NSSI) atau perilaku melukai diri. Perilaku melukai diri dilakukan secara sadar, terkendali, dan menghindari kematian yang mungkin tidak sengaja terjadi. Hanya sekitar 3%-7% orang yang memiliki perilaku melukai diri yang akhirnya memutuskan untuk bunuh diri. Ini yang membuat perbedaan antara NSSI dengan percobaan bunuh diri.

Remaja yang memiliki perilaku melukai diri sekitar 17,7%. Remaja perempuan lebih tinggi dibandingkan remaja laki-laki. Biasanya terjadi pada masa remaja antara usia 10 hingga 19 tahun dan dapat berlanjut hingga dewasa. Diperkirakan ada sekitar 4% dari orang dewasa memiliki perilaku melukai diri.  Kejadian di Asia lebih tinggi dibandingkan di Eropa atau di Amerika Utara.

Baca juga: Menemukan Harapan: Bagaimana Memahami Bunuh Diri Dapat Menyelamatkan Jiwa

Perilaku melukai diri merupakan mekanisme bertahan hidup atau coping mechanism yang dapat menjadi cara untuk mengatasi tekanan batin dan rasa sakit emosional yang mendalam. Orang yang melakukan melukai diri sendiri merupakan tindakan untuk membantu mengekspresikan perasaan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, mengalihkan perhatian dari masalah, mengatasi kesulitan hubungan dengan orang lain, menghukum diri sendiri karena didera perasaan bersalah, melepaskan rasa sakit emosional, atau sebuah ekspresi permintaan tolong.

Setelah melakukan tindakan tersebut, orang yang melakukannya berharap memiliki perasaan yang lebih baik, setidaknya untuk sementara waktu. Bila perasaan tersebut muncul kembali maka tindakan menyakiti diri akan dilakukan lagi. Beberapa orang yang memiliki perilaku melukai diri beranggapan bahwa tindakan ini adalah hal yang baik karena dapat menyalurkan emosi negatif yang dirasakannya. Tidak heran bila perilaku melukai diri terjadi berulang dan berlangsung dalam jangka panjang.

Perilaku melukai diri bisa berdiri sendiri namun sering kali disertai dengan gangguan kesehatan mental lain, seperti gangguan kepribadian ambang, gangguan kepribadian antisosial, gangguan makan, gangguan penggunaan alkohol dan zat terlarang, dan autisme.

Orang yang melakukan melukai diri sendiri dapat dikenali dengan melihat tanda:

  • Melakukan berbagai cara untuk melukai diri sendiri, seperti menggosok kulit secara berlebihan hingga menimbulkan luka lecet atau lepuh.
  • Terlihat adanya bekas luka, sering kali memiliki pola tertentu, contohnya goresan melintang di lengan .
  • Memiliki luka baru, baik karena goresan, memar, bekas gigitan, luka lepuh, atau bentuk luka lainnya.
  • Menyimpan benda tajam atau barang lain yang dapat digunakan untuk melukai diri sendiri.
  • Mengenakan baju lengan panjang atau celana panjang untuk menyembunyikan luka, bahkan saat cuaca panas.
  • Sering dilaporkan mengalami cedera yang tidak disengaja.
  • Kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang lain
  • Perilaku dan emosi yang berubah dengan cepat dan impulsif, intens, dan tidak terduga
  • Mengungkapkan bahwa dirinya merasa  tidak berdaya, putus asa, atau tidak berharga.

Beberapa contoh metode melukai diri sendiri antara lain:

  • Menyayat, mencakar, atau menusuk dengan benda tajam. Tindakan ini merupakan yang paling sering dijumpai.
  • Membakar kulit dengan menggunakan korek api yang menyala, rokok, atau benda tajam yang dipanaskan seperti pisau.
  • Mengukir kata-kata atau simbol pada kulit. Pembuatan tato tidak termasuk dalam tindakan ini.
  • Memukul atau meninju benda keras
  • Menggigit hingga timbul luka
  • Membenturkan kepala.
  • Menusuk kulit dengan benda tajam.
  • Memasukkan benda ke bawah kulit dengan tujuan menyakiti, tidak termasuk tindik atau pemasangan asesoris.

Area tubuh yang sering menjadi sasaran tindakan melukai diri sendiri adalah lengan, kaki, dada, dan perut. Namun, area tubuh mana pun dapat menjadi sasaran, terkadang menggunakan lebih dari satu metode.

Penyebab Tindakan melukai diri belum diketahui secara pasti dan cukup sulit mengetahuinya. Biasanya ada beberapa hal, bukan hanya satu hal yang menyebabkan seseorang melukai diri sendiri.

Baca juga: Talkshow “Change Narrative: Let’s Talk About Suicide”

Secara umum, melukai diri sendiri dapat disebabkan oleh:

  • Keterampilan mengatasi masalah yang buruk. Melukai diri sendiri yang tidak berujung pada bunuh diri biasanya merupakan akibat dari ketidakmampuan untuk mengatasi stres dan rasa sakit emosional dengan cara yang sehat.
  • Kesulitan mengelola emosi. Kesulitan mengendalikan, mengekspresikan, atau memahami emosi dapat menyebabkan melukai diri sendiri. Campuran emosi yang memicu melukai diri sendiri itu rumit. Misalnya, mungkin ada perasaan tidak berharga, kesepian, panik, marah, bersalah, penolakan, dan membenci diri sendiri. Dibully atau memiliki pertanyaan tentang identitas seksual mungkin merupakan bagian dari campuran emosi tersebut.

Melukai diri sendiri mungkin merupakan upaya untuk:

  • Mengelola atau mengurangi tekanan atau kecemasan yang parah dan memberikan rasa lega.
  • Menyembunyikan emosi yang menyakitkan melalui rasa sakit fisik.
  • Merasakan kendali atas tubuh, perasaan, atau situasi kehidupan.
  • Merasakan sesuatu — apa pun — bahkan jika itu rasa sakit fisik, saat merasa hampa secara emosional.
  • Mengekspresikan perasaan internal dengan cara eksternal.
  • Mengomunikasikan perasaan stres atau depresi kepada dunia luar.
  • Menghukum diri sendiri.

Selain itu ada beberapa kondisi mental yang mungkin menyebabkan seseorang melakukan tindakan melukai diri, antara lain:

  • Gangguan cemas
  • Autisme.
  • Gangguan bipolar.
  • Gangguan kepribadian ambang.
  • Depresi.
  • Gangguan pengendalian diri, gangguan perilaku
  • Gangguan disosiatif, terutama gangguan identitas disosiatif dan amnesia disosiatif.
  • Gangguan makan, terutama anoreksia nervosa.
  • Masalah kondisi gender.
  • Gangguan obsesif-kompulsif.
  • Gangguan stres pascatrauma (PTSD).
  • Gangguan tidur.
  • Kondisi dan gangguan penggunaan zat, misalnya penggunaan alkohol, ganja.

Orang yang mengalami beberapa keadaan di bawah ini berisiko untuk melakukan melukai diri:

  • Kekerasan atau trauma psikologis. Melukai diri sendiri lebih umum terjadi pada orang-orang yang pernah mengalami trauma atau kekerasan, termasuk kekerasan yang dialami saat kecil dan trauma menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga.
  • Usia. Perilaku melukai diri umumnya terjadi antara usia 12 dan 14 tahun. Namun, bisa juga dimulai lebih awal. Orang yang melukai diri sendiri sering kali terus melakukannya selama bertahun-tahun. Melukai diri sendiri umum terjadi pada orang dewasa muda, terutama pernah belajar di perguruan tinggi.
  • Identitas gender. Orang yang bukan cisgender (tidak menerima jenis kelamin yang dibawa saat lahir) memiliki tingkat melukai diri sendiri yang lebih tinggi. Para ahli mengaitkannya dengan risiko yang lebih tinggi dari kejadian buruk dalam hidup, seperti kekerasan dan perundungan.
  • Orientasi seksual. Orang yang tidak memiliki orientasi heteroseksual masuk dalam kelompok minoritas seksual, memiliki tingkat melukai diri sendiri yang lebih tinggi. Para ahli mengatakan hal ini terjadi karena orang dari kelompok minoritas seksual  memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk menghadapi kejadian buruk dalam hidupnya.
  • Isolasi sosial. Orang-orang yang merasa terisolasi atau ditolak secara sosial, terutama anak-anak dan remaja, memiliki tingkat tindakan menyakiti diri sendiri yang lebih tinggi. Misalnya anak atau remaja yang mengalami perundungan.
  • Kemiskinan.
  • Orang yang tinggal dengan orang tua pecandu obat-obatan, memiliki gangguan Kesehatan

Baca juga: Mengenal Depresi

Sama halnya dengan penyebab, seseorang yang memiliki perilaku melukai diri bisa memiliki beberapa faktor risiko.

Tidak ada cara pasti untuk mencegah perilaku melukai diri sendiri. Namun, Tindakan untuk mengenali perilaku melukai diri yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, baik perorangan maupun kelompok. Orang tua, anggota keluarga, guru, perawat sekolah, konselor, atau teman dapat membantu. Semua orang perlu mendapat pengetahuan untuk mengenali tanda perilaku melukai diri sehingga saat bertemu dengan mereka, dapat menawarkan bantuan dan pendampingan.

Seseorang yang berisiko dapat diajari cara mengelola stres dengan lebih baik dan menghadapi masalah hidup. Orang tersebut dapat mempelajari keterampilan mengatasi masalah yang sehat untuk digunakan selama masa-masa sulit. Aktivitas ini memerlukan bantuan professional.

Jejaring sosial dibutuhkan orang yang memiliki perilaku melukai diri karena merasa kesepian dan terputus hubungan mungkin bisa menjadi faktor risiko sekaligus penyebab. Membantu seseorang membentuk hubungan yang sehat dengan banyak orang yang tidak memiliki perilaku ini dapat meningkatkan keterampilan dalam melakukan relasi dan komunikasi dan mencegah mereka melukai diri.

Referensi

  • Mayo Clinic: Self-injury/cutting. Nov. 21, 2024
  • My Cleveland Clinic : Self-Harm (Nonsuicidal Self-Injury Disorder). September 05, 2023
  • Denton, E., Álvarez, K. (2024). The Global Prevalence of Nonsuicidal Self-Injury Among Adolescents. JAMA Network Open. Psychiatry. Hornor, G. (2016). Non-suicidal Self-Injury. Journal of Pediatric Health Care.

Artikel Terkait

Sering Lupa? Hati-hati Alzheimer

Komunitas Memimpin dan Berkolaborasi Mewujudkan Kesetaraan dan Peningkatan Kualitas Hidup ODHIV!

Kanker dan Kesehatan Mental

Terapi Tertawa Bantu Wanita Mudah Mendapat Kepuasan

Webinar

Dampak Pandemi Pada Kesehatan Mental Pekerja Sosial

Kenali Benzodiazepin (The BZDs): Apa, Bagaimana Cara Kerja dan Efeknya

Sebelumnya
Selanjutnya

Buat janji dokter sekarang

Hubungi Kami

Silahkan gunakan formulir ini kapan saja untuk menghubungi kami dengan pertanyaan, atau untuk membuat janji.

Anda juga dapat menghubungi kami melalui WhatsApp atau telepon pada jam klinik di +62 8111 368 364.